Sore turun perlahan di Pasar Ampera. Cahaya jingga menembus sela-sela atap seng yang berkarat, memantul di genangan air sisa cuci ayam. Nawang menata potongan ayam dengan hati-hati. Tangannya cekatan, meski lelahnya sudah terasa sejak pagi. Bi Laila sedang menghitung uang hasil jualan di kursi belakang kios, sementara Paman Jalal sibuk menimbang pesanan pelanggan tetap. Dari jauh, seorang pria berkaus hitam dan celana jins pudar berdiri bersandar di tiang kayu, mengamati suasana pasar di sore hari yang masih ramai. Rambut gondrongnya diikat menjadi sanggul ala yakuza yang kokoh. Wajahnya keras dengan tatapan tajam yang nyaris tak pernah tenang. Dia adalah Hilal. Sore itu, pandangan Hilal menyapu Seluruh aktivitas pasar. Terdengar pula teriakan Bang Mansyur, si penjual mangga, menarik

