Nawang baru saja selesai makan malam saat pintu depan terbuka keras. Bi Laila masuk dengan napas tersengal dan wajah panik. Keringat membasahi pelipisnya, dan kerudungnya agak miring seperti baru saja berlari. “Bi,” Nawang bangkit dari kursi. “Bibi dari mana? Kok terburu-buru. Mau makan tidak? Saya siapkan ya? Sayurnya masih hangat kok.” Tapi Bi Laila tak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan, matanya liar menatap sekeliling. Lalu dengan suara serak, ia berteriak, “Zulham! Anisa! Cepat ke sini!” Teriakannya menggema di seluruh rumah, membuat Nawang tertegun. Tak lama kemudian, Zulham keluar dari kamar, hanya mengenakan singlet, sementara Anisa tergesa dari kamar mandi dengan wajah cemas. Paman Jalal — yang tidak dipanggil — ikut tergopoh keluar. Tidak biasanya Bi Laila bersikap aneh sep

