Nawang menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipinya, lalu masuk ke dalam kamar. Cahaya lampu redup menyambutnya. Anisa, yang sedang berbaring sambil menggulir ponsel, menoleh begitu melihat wajahnya. "Mbak ngeyel banget sih. Udah dibilangin jangan deket-deket Bang Hilal, eh malah dianterin pulang. Pantes aja Ibu ngamuk." Nawang meletakkan tas dan duduk di tepi ranjang. Suaranya bergetar, masih menahan tangis. "Mbak tadi nggak sengaja ketemu Bang Hilal, Nis. Dia juga tadi yang nolongin Mbak. Mbak bukannya sengaja mau membuat ibumu marah." Anisa memutar bola mata lalu mendecakkan lidah. "Kalau begitu ya nggak usah bilang. Cukup beritahu kalau Mbak kemaleman pulang karena tugas kuliah belum selesai dan susah mencari angkot. Habis perkara." "Mbak nggak mau bohong pada ibumu, Ni

