Malam sudah larut ketika Nawang turun dari angkot. Ia segera membuka payung, menahan rinai gerimis yang menggigit kulit. Udara dingin menelusup hingga ke tulang. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip redup, seakan ikut lelah menjaga malam. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Nawang mempercepat langkah. Hanya tinggal beberapa meter menuju gang rumah Bi Laila. Ia memeluk tasnya erat-erat, jemarinya menggigil. Namun, baru beberapa langkah memasuki gang sempit yang remang, suara tawa kasar terdengar dari ujung jalan. “Eh, itu bukannya si Nawang, keponakannya si tukang ayam?” Dua bayangan besar muncul dari balik tembok, disusul satu lagi yang menyalakan rokok dengan senyum miring. Asap rokok menari-nari di udara basah. Nawang spontan berhenti. Jantungnya ber

