Bab 6. CEO Gila

1244 Words
Sejak malam itu, entah kenapa Dinda merasa bahagia. Ia selalu merasa dilindungi. Hingga sampai tadi Bu Mega mengatakan jika Lucian memiliki kekasih dan akan menikah, hati Dinda merasa sedikit nyeri. Mungkinkah sebenarnya dia telah menyukai pria itu. Pria satu malam yang sukses membuatnya tergila-gila. "Hey, bengong aja!" Nindi muncul dari balik kursi. "Nindi! Ngagetin aja, deh!" "Lagian bengong aja dari tadi, kenapa?" Tak menghiraukan pertanyaan sahabatnya, Dinda malah balik bertanya. "Nindi, apa kamu tau siapa kekasih Pak Lucian?!" Seketika Nindi heboh, "Nah, lhoooo. Katanya cuek dan ngga peduli, kenapa sekarang tiba-tiba nanyain kekasihnya Tuan Lucian? Suka yaa!" Ledek Nindi dengan sedikit menaikkan suaranya. Dinda segera membungkam mulut sahabatnya. "Ni mulut apa terompet, sih! Gede bener suaranya. Kan gue cuman tanya ngga ada salahnya, kan?!" "Hehe." Nindi nyengir kuda, "Ya ngga ada, sih. Cuman aneh aja. Kemarin cuek bener sekarang peduli sampai melamun." "Mana ada!" Nindi terdiam sebentar, "Jangan-jangan...." "Jangan-jangan apa? Jangan berspekulasi sendiri ya!" Nindi kembali tertawa, "Iya-iya, lagian kalau emang ngga ada apa-apa ngapain takut, kan?!" Seketika Dinda terdiam matung, mulutnya yang hampir bertanya kembali pun langsung diam. Benar kata Nindi, jika memang tidak ada apa-apa kenapa harus takut. Tak lama seorang wanita cantik dan sexy masuk ke dalam ruangan sang CEO, berjalan lenggak lenggok bak seorang model. Kulit putih bersih, kaki jenjang wanita itu masuk melewati mereka yang kebetulan ada di depan ruangan bos mereka. "Siapa tu?" "Jangan-jangan, kekasihnya Tuan Lucian?" "Iya-iya, wih sexy bener!" "Seleranya bos kita, keren juga, ya!" Para karyawan ribut sendiri, sementara Dinda hanya diam menatap wanita itu. "Ssuutt! Jangan berisik! Apa kalian mau dipecat karena bergosip di kantor?!" sentak Bu Mega yang langsung disoraki para karyawan. Tak lama Sekertaris Roy keluar ruangan, datang menghampiri Dinda, "Nona Dinda, anda diminta Tuan untuk masuk ke dalam ruangannya." Dinda melotot, "Aku?!" katanya sembari menunjuk wajahnya sendiri. Sementara para karyawan saling pandang, antara curiga dan kepo. Kenapa Tuan Lucian memanggil Dinda. Dan semenjak kedatangannya, Tuan Lucian seperti selalu memilih Dinda. Bukan Bu Mega yang notabene adalah atasan mereka. "Betul, Nona." "Sekarang?!" Sekertaris Roy hanya tersenyum, kemudian mempersilahkan Dinda agar segera masuk mengikutinya. "Tuan memanggil saya?!" "Tidak, saya memanggil calon istri saya ke sini, kamu ngga lagi sibuk kan, Sayang?!" tanya Lucian sembari mengedipkan satu mata. Tak lupa juga ia tarik pinggang ramping milik Dinda dan memeluknya erat. "Tuan, kamu kenapa?" lirih Dinda sembari berusaha melepaskan pelukan. Ia tidak ingin kekasih Lucian murka, apalagi hanya karena dirinya yang seorang karyawan kecil. "Lucian! Apa yang kamu lakukan, hah!" sentak wanita itu dengan wajah merah padam. Nah, kan. Lagian singa galak ini ngapain, sih. Cari masalah aja, deh! "Dinda, saya sudah menolong kamu tadi pagi. Wanita gila ini terus mengejar saya, jadi tolong bantu saya agar bisa mengusirnya, ya!" bisik Lucian sembari mencium telinga Dinda. "Tapi?" Dinda menatap wanita yang sempat ia lihat tadi. Wajahnya merah padam. Dan tunggu, wanita gila katanya? Wanita cantik dan sexy gini ia panggil gila? Aneh bener. "Sayang, apa kamu rela aku di dekati oleh wanita lain, hm?" Lucian semakin bertingkah dengan menciumi area leher Dinda, di depan wanita itu dan di depan Sekertaris Roy. Arggghhh gila! Mau aku taro dimana mukaku jika bertemu dengan mereka lagi nanti. "Jawab!" kata Lucian sembari menggigit kecil bibir Dinda. Dinda kelabakan, "Ah, iya. Tentu saja tidak!" Lucian tersenyum sembari mengusap pipi Dinda lembut. "Apa kamu dengar, Bella. Calon istriku tidak ingin aku diganggu oleh wanita lain, jadi tolong pergi dan jangan pernah ganggu kami lagi!" "Tapi, Lucian?!" Tak terima, Bella hendak menampar Dinda tapi segera di cegah oleh Lucian. Menahan tangan Bella dan mendorongnya dengan kasar. Sementara Dinda sendiri hanya diam, sangat tak enak melihat pertontonan seperti ini. "Apa yang kamu lakukan?!" sergah Lucian dengan sorot mata tajam. Sesaat nyali Bella menciut, tapi kemudian kembali murka saat melihat wanita pilihan Lucian tak secantik dirinya. "Lucian, aku hanya ingin memberi wanita itu pelajaran. Aku tahu, kamu pasti hanya dimanfaatkan olehnya, kan?" "Apa kamu buta? Saya mencintainya, saya bahkan rela memberikan nyawa saya padanya!" ucap Lucian dengan begitu yakin. Dinda menatap Lucian lekat, baru kali ini ada orang yang begitu peduli padanya, bahkan sampai rela memberi nyawanya. Ah, Dinda lupa ini hanya akting. Bella murka tak terima, menatap Dinda dan menunjuk wanita itu dengan tangannya. "Awas kamu, ya. Ingat, saya Bella. Saya adalah wanita yang dipilihkan orang tua Lucian untuknya. Jadi, jangan harap kamu bisa menikah dengannya. Camkan itu!" katanya kemudian pergi sembari menghentakkan kaki. "Ya, ya pergilah," jawab Lucian tanpa mantapnya sama sekali. Hanya sibuk dengan wajah Dinda dan rambutnya. Dinda sendiri hanya diam, bingung. Entah masalah apa yang telah menimpa mereka berdua, tapi melihat pertengkaran mereka yang melibatkan orang tua Lucian, sepertinya ini bukan lagi hal biasa. "Tuan Lucian, apa kamu benar-benar tidak menginginkannya?!" "Siapa? Wanita gila tadi? Tentu saja tidak!" katanya dengan terus menciumi leher Dinda dan bahkan sudah turun ke d**a. Sebenarnya geli dan tidak enak sekali Dinda dengan posisi seperti ini. Apalagi masih ada Sekertaris Roy di sini. Ingin sekali dia mendorong d**a Lucian atau bahkan memakinya. Tapi apalah daya, dia tidak seberani itu melakukannya. "Kenapa?" Gerakan Lucian sesaat terhenti. "Karena dia gila!" "Tuan, saya serius!" "Saya lebih serius , Dinda!" Merapihkan baju dan rambut Dinda, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya. "Tapi beliau cantik dan sexy lhoo!" Dinda berusaha menggoda. Lucian yang sudah membuka dokumen berhenti kemudian menatap Dinda lekat. "Tapi, tubuh dan suaramu jauh lebih sexy. Apalagi saat mendesah dan meminta saya terus melakukannya!" WHAT? Pria ini gila ya, mengatakan hal itu di depan Sekertaris Roy. Bisa mati kutu jika terus bersama kedua orang dingin tapi mematikan ini, Dinda memutuskan untuk segera pergi. "Tuan, jika tidak ada hal lain lagi saya mohon ijin keluar, terima kasih!" ucap Dinda kemudian lari kocar kacir keluar dari ruangan Lucian. Siapa sangka, di luar semua teman-temannya sudah menunggunya. Mereka penasaran dengan apa yang telah terjadi, karena setelah Dinda masuk, wanita cantik dan sexy itu keluar dengan murka. Dia bahkan membanting gelas yang ada di meja, menyeramkan! "Dinda, apa yang terjadi? Kenapa wanita itu keluar marah-marah?!" "Benarkah?!" Dinda menatap sahabatnya. Ia kira mbak Bella hanya akan marah-marah di dalam ruangan. "Iya, dia bahkan membanting gelas yang ada di meja Bu Mega," timpal Siska. "Ada hubungan apa kamu sama pak Lucian?" tanya Bu Mega dengan tegas, ia bahkan menatap Dinda mencoba menghardik Dinda. "Sejak kapan seorang kepala staff mempunyai nyali sebesar itu nya?!" Sekertaris Roy muncul dari balik pintu. "Sekertaris Roy, saya ...." "Pindahkan dia ke bagian cleaning!" katanya tegas. "Apa? Tidak! Sekertaris Roy, anda salah faham, saya hanya bertanya sedikit padanya." Tak menghiraukan ucapan Mega, tindakan Sekertaris Roy cukup membuat semua orang takut. Apalagi dengan sorot matanya yang tajam dan ucapannya yang tegas. Tidak jauh berbeda dengan tuannya, Lucian. "Nona, Tuan meminta dokumen projek yang anda buat!" "Projek? Ah, iya, sebentar!" Dinda buru-buru ke meja, mengambil dokumen dan memberikannya pada Sekertaris Roy. "Terima kasih, Nona. Tuan mengatakan jika beliau puas dengan kerja keras anda." Dinda tersenyum kikuk, "Ha ha ya, terima kasih, Sekertaris Roy!" "Beliau juga mengatakan akan menyetujui projek tersebut. "Benarkah Sekertaris Roy?" "Betul, Nona!" jawab Sekertaris Roy sembari tersenyum kemudian membungkukkan badan dan pergi dari sana. Dinda menatap pintu ruangan Lucian yang sudah tertutup rapat. Mungkinkah Tuan Lucian bermaksud menyelamatkannya. Ah, baik sekali! "Dinda, baru saja kami salah faham padamu. Ternyata kamu hanya bekerja demi projek kita, makasih banyak ya!" Siksa dan Nindi memeluknya. Tak ketinggalan, yang lain pula mengucapkan terima. Karena berkat Dinda, kerja keras mereka akhirnya terbayarkan. "Jangan hanya berterima kasih padaku, kalian juga bekerja keras sama sepertiku. Ayo kita rayakan pencapaian kita setelah pulang kerja." "Setuju!" Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD