"Argghh sial, siapa cowok ganteng itu?" teriak Gracia setelah mereka Dinda dan Lucian keluar, Wajah Pratama merah padam.
"Cowok ganteng?"
Sesaat Gracia terdiam takut, tapi kemudian balik marah.
"Apa?! Kamu juga ngemis-ngemis ke cewek sialan itu tadi, kan!" Tak mau kalah, Gracia menjawab.
"Tapi kamu berbohong mengatakan bahwa kita akan kerumah dan merayu ibuku!"
Jujur, Pratama sedikit kecewa. Ia memang datang ke sini untuk menjemput Gracia, tapi bukan untuk mengajaknya ke rumah apalagi sampai merayu ibu. Melainkan untuk merasakan sensasi itu kembali. Ya, Pratama ketagihan dengan apa yang dilakukan oleh Gracia waktu itu.
Lalu perihal Dinda? Sudah ia serahkan pada orangnya. Pratama tahu betul perempuan seperti apa dia. Tidak akan mudah memaafkan begitu saja apalagi sebuah kesalahan besar. Dan sepertinya, hanya tekanan yang bisa membuatnya menyerah.
Pratama juga tidak tahu jika Dinda masih berada di rumah dan belum berangkat bekerja karena Gracia mengatakan jika Dinda sudah pergi sedari pagi. Makannya hal itulah yang membuat Pratama berani datang ke rumah ini.
"Habis itu mau bagaimana lagi? Kita sudah ketahuan tidur bareng dan menghianati Dinda. Pernikahan kalian juga sudah batal. Tidakkah sebaiknya kita merayu ibumu agar kita bisa menikah?!"
"Betul, Nak. Tidakkah kamu ingin bertanggung jawab pada putri Om?" ujar Ayah Dinda menimpal yang diangguki setuju oleh istrinya. Sayang udah cape-cape bikin jebakan tapi ngga jadi mantu keluarga kaya, kan?
Pratama terdiam.
Ia hanya bermain sekali dengan wanita ini.
"Tidakkah nak Pratama membiarkan anak kalian lahir tanpa ayah?!"
"Anak?!"
Pratama seperti kehabisan udara.
Gracia tersenyum tipis sembari mengelus perutnya.
"Iya, tidakkah kamu kasihan dengan anak kita?!"
Lagi, Pratama terkejut bukan main. Tapi kemudin menghela nafas sebentar dan menjawab.
"Baiklah, akan kubicarakan dengan mama dan papa setelah ini," katanya yang langsung membuat mereka semua tersenyum senang.
Sementara di tempat lain.
Dinda dan Lucian kini sudah berada di dalam mobil duduk dengan canggung. Sebenarnya ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi keterdiaman pria itu membuat Dinda gugup bukan main. Apakah ia sudah terlalu lancang? Atau bahkan keterlaluan? Argh Tuhan, aku menerima hukuman apapun darimu setelah ini.
"Apa kamu yakin hukuman apa saja?!" ditengah keheningan suara Lucian terdengar.
Dinda menatap pria itu lekat, "Tuan bisa mendengar isi hatiku?"
Lucian hanya tertawa tipis, kemudian beringsut mendekati Dinda.
"Menurutmu, hukuman apa yang pantas untuk seorang wanita yang lancang, hm?!" Mengusap pipi Dinda lembut.
Dinda kelabakan, menjauh sejauh mungkin.
"Tuan, apa yang kau ucapkan? Ak-"
"Menatapnya?"
Lucian mentap Dinda dengan begitu dekat, bahkan sangat dekat sampai Dinda bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
"Atau menciumnya seperti ini?"
Lucian mengecup singkat bibir Dinda, sama persis seperti ucapannya. Seketika Dinda membeku. Ia tidak tahu apakah ini sebuah berkah atau ujian. Tapi satu hal yang pasti, Dinda begitu terpesona saat ini. Wajah tampan dan perlakuan lembut Lucian cukup membuat Dinda merasakannya. Apalagi perlindungannya.
Perlindungan?
Dinda menahan d**a Lucian yang ingin kembali menciumnya.
"Eh tunggu, bagaimana bisa Tuan ada di rumahku tadi pagi?"
"Tentu saja bisa. Apa kamu lupa sekertarisku yang mengantarmu kemarin?!"
"Lalu?"
Ya, jelas Dinda tidak lupa kalau ia diantar Sekertaris Roy kemarin. Tapi maksudnya, Lalu untuk apa Tuan Lucian yang pastinya begitu sibuk tiba-tiba datang ke rumahnya. Pagi-pagi sekali pula.
"Lalu saya datang untuk pertanggung jawaban," jawab Lucian. Seketika Dinda marah, mendorong Lucian dan bahkan menunjuknya. Sopir di depan sempat hendak bertindak, tapi langsung diam ketika Lucian mengedipkan mata.
"Tuan, saya sadar diri kalau saya hanyalah karyawan kecil di perusahaan anda. Tapi anda tidak bisa terus menekan saya. Saya sudah mengaku salah dan menebusnya kemarin, apa itu masih kurang bagi anda?!" ucap Dinda hampir menangis.
Hidupnya yang berantakan sudah hampir tak tersisa, orang tua yang bercerai kemudian ayah menikah lagi dan sekarang Pratama yang selingkuh. Ya, hampir tidak ada satupun kebahagiaan dalam hidupnya. Dinda hampir menyerah.
Lucian yang dikira akan memukul ternyata mengusap air mata Dinda dengan begitu lembut.
"Pria bodoh mana yang mau meminta pertanggung jawaban dari gadis cengeng sepertimu?!
"Maksud Tuan?"
"Saya yang akan bertanggung jawab padamu. Karena telah menyentuhmu, maka saya akan bertanggung jawab padamu. Aku bahkan bisa menikahimu jika kamu mau."
Ha?
Dinda meneguk saliva kuat. Dia tidak salah dengar kan? Atau bosnya ini tidak sedang mabuk kan?
Dinda menempelkan punggung tangannya ke dahi Lucian.
"Tuan, apa kamu baik-baik saja?"
Lucian yang merasa terhina sedikit tak terima, "Tentu saja! Kamu pikir saya penyakitan?!"
"Ah, tidak! Bukan seperti itu. Sebelumnya mohon maaf, saya hanya merasa kalau Tuan sedang melantur tadi."
"Tidak! Saya serius dengan ucapan saya!"
"Tapi kenapa? Kenapa Tuan sampai harus serepot ini, saya tidak apa-apa ko. Saya juga janji tidak akan menuntut Tuan. Hal kemarin, murni saya lakukan demi menebus kesalahan saya pada Tuan."
Lucian mentap tajam, "Apa kamu sedang menolak saya?"
Dinda melotot, serba salah. Dia bingung sekaligus gugup. Bingung dengan sikap Lucian yang menurutnya aneh dan terlalu baik dan gugup harus menjawab apa dari setiap perkatannya.
Kalau begitu turun dari mobil saya!"
Dinda menatap Lucian lekat. Namun tak menghiraukannya, mobil berhenti dan sang sopir membukakan pintu.
Dinda menunduk lebih dulu baru kemudian akhirnya keluar dari mobil mewah milik Lucian tersebut. Ya, dia tidak mungkin tetap berada di sana setelah sang pemilik mengusirnya. Lagian aneh, dia yang jemput dia juga yang nurunin.
"Dasar singa galak!" maki Dinda setelah mobil itu jauh meninggalkannya.
Sementara di dalam mobil
"Berapa langkah dari sini ke perusahaan."
"Hanya sekitar dua puluh langkah, Tuan."
"Bagus!"
Tiba di perusahaan
Dinda di kerumuni oleh teman-temannya. Mereka penasaran dengan apa yang Dinda dan bos mereka bahas perihal projek kemarin karena setelah rapat hari itu, mereka tidak bisa menemukan Dinda dan Sekertaris Roy mengatakan jika Dinda demam.
"Din, bagaimana kabarmu? Apa demamnya sudah turun?!" Nindi lebih dulu bertanya.
"Demam?"
"Ya, Sekertaris Roy bilang kamu demam dan perlu istirahat, tapi kenapa sekarang malah maksa masuk?"
Dinda terdiam. Ternyata Lucian sengaja menyuruhku pulang agar bisa menghilangkan jejak.
Kamu tenang saya Tuan, tanpa melakukan hal itupun aku tidak mungkin memberi tahu mereka perihal hubungan terlarang itu.
"Tapi syukurdeh, kalau kamu udah sehat lagi. Oh ya, bagaimana projek kita? Apa aja yang kamu bahas sama Tuan Lucian? Semuanya aman kan?" salah satu karyawan bernama Bunga bertanya.
Dinda tersenyum kikuk, mana ada bahas projek yang ada malah aku yang jadi objek.
"Aman ko aman." Dinda menjawab setenang mungkin
"Awas ya kamu goda Pak Lucian, dia itu udah punya pacar dan akan segera menikah!" Bu Mega yang sepertinya mendengarkan diam-diam sejak tadi baru menimpal.
Hanya mengangguk kecil Dinda, mensyukuri keputusannya yang langsung pergi dari mobil tadi kemudian duduk dan meminum minuman yang telah dibawanya sebelumnya.
Bersambung....