Ibu tiri Dinda beserta anaknya sudah berdiri di sana, menatapnya dengan tajam. Ada juga ayahnya yang hanya duduk sembari menyeruput kopi. Enggan bertengkar setelah kegiatan melelahkan tadi, Dinda memilih mengabaikan mereka dan pergi.
Tapi belum sampai beberapa langkah, tangan Dinda di cekal oleh Siska.
"Apa kamu tuli, hah! Saya tanya darimana saja kamu?!"
"Bukan urusanmu!"
Menyingkirkan tangan Siska dengan sedikit kasar, siapa sangka ternyata sampai membuat pelakor itu jatuh ke lantai..
"Mas!" Panggil Siska dengan nada lebaynya. Ayah Dinda yang tadi hanya duduk sampai berdiri dan lari memeriksa istrinya. Tidak, gundiknya.
"Dinda, apa yang kamu lakukan?!" bentaknya.
Hadeuhh mulai, deh, dramanya!
"Kalau kalian mau main drama-draman silahkan aja deh, ya. Aku capek, mau istirahat!"
"Dinda!" Bentak ayah Dinda sembari menampar putrinya.
Ayah Dinda menatap tangannya sendiri, ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Sementara Gracia dan Siska tersenyum penuh kemenangan.
"Apa papah buta, hah?! Aku cuman dorong pelakor itu sedikit. Ngga mungkin sampe bikin dia kedorong apalagi jatoh. Dan ya, aku abis kerja. Bukan seperti dia yang bisanya ngabisin duit papah!" teriak Dinda sembari menangis.
Sebenarnya bukan rasa sakit karena ditampar yang membuat Dinda menangis, tapi sikap ayahnya yang lagi-lagi tidak bisa melihat mana benar dan salah yang membuat Dinda menangis lelah.
"Tunggu! Kamu fikir kamu bisa pergi gitu aja setelah mempermalukan keluarga, hah! Papah kamu dipecat dari perusahaan Pratama karena ulahmu!"
Dinda tersenyum kecut, "Karena ulahku?!"
Jelas-jelas pernikahan itu batal karena dua penghianat tak tahu malu itu. Lalu dengan
seenaknya dia bilang itu semua karena ulahku? Haha, keluarga sinting memang.
Dinda mendekati ibu tirinya, "Kebanyakan drama, sepertinya membuat otakmu sedikit bermasalah, Siska. Ku peringatkan sekali, bukan aku ulah dari pernikahan batal itu. Tapi laki-laki sialan itu dan anak harammulah pelakunya!"
"Cukup!"
Lagi, ayahnya Dinda membentak.
"Dinda, papah mohon. Sudahilah pertengkaran ini. Keluarga Pratama sudah mengaku salah. Mereka akan tetap mempertahan papah sebagai manager di salah satu perusahaan mereka asal kamu mau memaafkan mereka dan kembali melangsungkan pernikahan."
Dinda kembali tersenyum kecut.
"Kenapa ngga dia aja yang kawin? Kan udah kumpul kebo juga."
"Kamu!" Gracia yang sejak tadi diam kembali emosi.
"Lah, iya, kan? Kenapa? Ngga mau, aib? Apa ditolak?"
"Cukup!" Ayah Dinda kembali membentak, tapi sudah bosan, Dinda kembali menyahut.
"Kalau papah maksa aku buat nikah sama pria b******k itu karena takut kehilangan jabatan, suruh aja laki-laki itu menikahi Gracia, toh sama-sama putri ayah. Sudah tidur pula, jadi sekalian itung-itung tanggung jawab, kan?!"
Semua yang hadir terdiam. Benar kata Dinda. Tapi masalahnya, Nyonya Pratama enggan menerima Gracia dan bahkan mengancam jabatan ayah Dinda jika tidak mau menikah dengan putranya.
"Cukup! Hentikan video memalukan itu!" teriak nyonya Pratama histeris. Suaminya menenangkan istrinya, termasuk Putranya sendiri Adiyudha pratama.
"Mah, aku mohon maafkan aku, ini salah faham!"
Tak ingin menjadi sasaran kesalahan, Gracia segera maju.
"Iya, tante. Mohon maafkan kami. Saya dan Pratama sudah lama saling mencintai, tapi karena tante hanya mendekatkan Dinda pada Pratama membuat Pratama sungkan dan menurut saja. Jadi tolong maafkan kami, tante."
"Diam kamu!"
Nyonya Pratama kecewa begitupun dengan Tuan besarnya.
Karena tidak ada Dinda dan hanya ada ayahnya, Tuan Pratama menatap calon besannya.
"Tuan Diksa, saya sebagai keluarga mempelaie pria mengaku salah. Kami juga mengecam perbuatan putri keduamu. Tempat Dinda yang sudah kami anggap sebagai anak tidak mungkin bisa digantikan begitu saja. Dan dengan sangat kecewa saya tangguhkan posisi anda sebagai manager di perusahaan kami. Tapi jika Dinda kami mau memaafkan dan kembali menikah akan saya anggap semuanya baik-baik saja."
"Egois!"
Ya, mereka hanya memikirkan perasaan dan reputasi mereka. Sudah menganggap sebagai anak tapi tidak bertanya tentang perasaanku.
Dinda menangis. Di pelukan bibi Sayidah Dinda menumpahkan air matanya. Setelah kepergian Ibu, Dinda memang lebih sering menghabiskan banyak waktunya bersama bi Sayidah. Bi sayidah sendiri seorang wanita tua yang sudah menganggap Dinda sebagai putri kandungnya sendiri. Jadi tak heran kadang memanggilnya Nak, kadang Non.
"Yang sabar ya, Non. Tuhan tidak mungkin menguji seorang hamba di atas kemampuannya."
"Hm, makasih ya, Bik. Makasih juga ceritanya. Aku jadi tahu cerita aslinya."
"Nggeh, Non. Yaudah istirahat, besok kerja, kan?"
"Hm."
Keesokan harinya
Pratama sudah ada di ruang tamu, duduk entah menunggu siapa. Dinda yang merasa sudah tidak ada hubungan apapun lagi memilih mengabaikan pria itu dan pergi melewatinya.
"Dinda!" katanya begitu bersemangat. Langsung berdiri ketika melihat wanita itu.
Oh ternyata menungguku. Apa ngga jadi singa tuh nanti Gracia.
"Pratama!" bentak Gracia.
Nah, kan. Baru aja ngomong.
Menghiraukan panggilan Gracia yang sama-sama baru tiba, Pratama menahan tangan Dinda.
"Dinda, plis. Dengerin penjelasanku."
Dinda terdiam sebentar, mendengarkan. Jujur, ia sendiri ingin tahu alasan Pratama melakukannya. Melewati hal bersama selama dua tahun kemudian melupakannya begitu saja itu tidak mudah. Dan ya, sebenarnya Dinda juga ingin meminta maaf karena dia juga sama-sama brengseknya. Tidur dengan pria lain di malam yang sama. Tapi entah kenapa bibirnya kelu, ia tidak sepenuhnya salah. Jika bukan karena mereka selingkuh, dia tidak akan seperti itu kan?
"Dinda, aku ...."
"Kamu bilang mau membawaku ke rumahmu untuk merayu ibumu. Kenapa malah memanggil dia?!"
Dinda tersenyum miris.
Ternyata Pratama sama sekali tidak berniat meminta maaf dan memperbaiki hubungan seperti permintaan orang tuanya. Pria itu bahkan berniat merayu ibunya agar mau menerima Gracia. Dinda yang sudah enggan memilih pergi.
"Din, Dinda, tunggu!"
"Lepas!"
"Ngga, sebelum kamu nerima aku lagi."
Nerima lagi? Sinting, ya. Jelas-jelas dia mau pergi bersama Gracia tadi. Lalu dengan sekejab berubah pikiran berubah fikiran?
"Lepas!"
"Ngga, aku ngga akan lepasin kamu." ucap Pratama kekeh.
"Lepaskan dia!" Suara bariton muncul dari arah tak terduga. Memeluk Dinda dan mencengkram tangan Pratama dengan kuat.
Pratama sedikit ciut mendengar suaranya, apalagi saat melihat wajah dan postur tubuhnya yang jelas-jelas kalah jauh darinya.
"Saya Lucian, c-"
"Calon suami aku!" ucap Dinda terburu-buru, tersenyum kikuk menatap wajah tampan Lucian.
"APA?!"
Hentakan suara muncul dari arah tangga. Siska kaget bercampur tak terima Dinda sudah memiliki calon secepat itu, lebih tampan pula.
Siska?!
Dinda jantungan bukan main. Jujur, ia hanya berniat mengejutkan kedua pasangan sialan ini tadi, kenapa malah merembet?! Ah kepalang!"
"Tentu saja. Kan, sayang?" Dengan sangat canggung Dinda mengusap pipi lembut dan rahang kokoh milik Lucian. Seolah sok tenteram padahal mah aslinya takut di terkam.
Namun sangat diluar dugaan, Lucian semakin membuat Dinda jantungan ketika pria itu mengecup bibirnya.
"Iya. Jika tidak ada perlu lagi, ayo kita pergi," ucap Lucian sembari menekukan sikunya, meminta Dinda memeluknya.
Dinda sendiri menurut, memeluk tangan Lucian dan pergi sembari melambaikan tangan.
Bersambung.