"Cath." Max sudah menduga jika Catherine akan kedinginan saat dia masuk ke dalam mobil.
Bagaimana tidak, Catherine hanya memakai kaos dengan rok pendek saja, dan semuanya basah karena hujan.
"Aku harus berganti secepatnya, Paman. Jika tidak. Aku bisa menggigil kedingingan." Ucap Catherine yang sekarang saja sudah merasa kedinginan.
"Hm, kita cari butik terdekat." Max menyalakan mobilnya meskipun hujan semakin deras, bahkan sebenarnya dia sendiri juga basah, hanya saja dia sudah membuka jasnya dan masih tahan dengan kedinginan.
"Paman, ini terlalu deras, bahkan aku saja sampai tidak bisa melihat ke depan, kita berhenti saja dulu, aku tidak mau mati muda." Ucap Catherine yang merasa takut sendiri dengan hujan yang benar-benar deras.
"Kau tidak akan mati." Max berdecak karena perkataan keponakannya. Namun dia sepertinya memang tidak bisa melanjutkan perjalanannya dan akhirnya berhenti di pinggir jalan.
"Aku sudah mematikan pendinginnya. Apa masih dingin?" Tanya Max yang sebenarnya bisa melihat jika Catherine masih kedinginan.
Catjerine bahkan tidak menjawab dan hanya bisa meringkuk.
"Di belakang ada bajuku, apa kau mau berganti baju? Tapi sepertinya hanya kaos atau kemeja. Setidaknya itu kering dan tidak basah," ucap Max yang langsung di angguki oleh Catherine karena dia sudah tidak tahan dengan dinginnya.
Max akhirnya meraih salah satu bajunya dan memberikannya ke Catherine.
Dia sendiri yang juga basah sepertinya harus mengganti pakaiannya agar tidak sakit juga.
Max melotot karena Catherine ingin membuka bajunya di depannya.
"Astaga, anak ini. Apa dia tidak sadar jika dadanya sudah besar, apa dia mau memperlihatkannya kepadaku." Gumamnya pelan dan jelas saja dia menoleh ke arah lain.
Namun sialnya meskipun dia menoleh ke samping. Kacanya masih terlihat di mana Catherine membuka bajunya dan bahkan juga membuka bra-nya.
Jelas saja Max langsung memejamkan matanya sebelum bra itu terlepas dari tempatnya.
Catherine sendiri yang kedinginan namun juga tersenyum tipis melihat pamannya yang menoleh membelakanginya dan memejamkan matanya.
Catherine memakai kemeja Max karena memang ternyata di belakang hanya ada kemeja. Dia melepaskan semua pakaiannya dan bahkan semua dalamannya karena memang basah semua.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Max.
"Aku sudah selesai dari tadi, kenapa paman malah menoleh ke sana." Ucap Catherine.
"Jika tidak menoleh ke sana lalu ke mana? Aku tidak mungkin melihatmu berganti baju di depanku." Ucap Max.
"Kenapa tidak mungkin? Mungkin saja. Aku tidak masalah." Ucap Catherine yang membuat Max melotot.
"Bahaya sekali anak ini." Batin Max dan tidak menanggapinya lagi.
"Kau juga melepaskan rok-mu?" Max baru tersadar jika Catherine hanya memakai kemejanya karena paha mulus Catherine terlihat sangat jelas.
"Semua bajuku basah, jelas aku melepaskan semuanya, Paman. Ini saja masih kedinginan." Ucap Catherine.
Bagaimana tidak, dia benar-benar tidak memakai apapun dan hanya kemeja yang di berikan Max tadi.
"Kau kedinginan karena membuka semuanya."
Perkataan Max tidak di jawab oleh Catherine karena dia benar-benar kedinginan.
Max yang melihat Catherine kdinginan menjadi khawatir dan akhirnya menyalakan mobilnya.
"Apa yang paman lakukan. Ini masih deras, jangan menyalakannya terlebih dahulu." Ucap Catherine yang mencegaj Max menyalakan mobilnya.
"Tapi kau kedinginan, Cath. Aku akan menjalankan mobilnya dengan pelan. Setidaknya mungkin ada butik atau hotel terdekat di sini agar kau bisa nyaman dan menutupi tubuhmu dengan selimut." Ucap Max yang membuat Catherine terdiam sebentar dan akhirnya menyetujuinya krena memang dia benar-benar kedinginan.
Max menyalakan dan melajukan mobilnya depan pelan karena memang hujan masih sangat deras.
Dia bersyukur karena menemukan hotel disekitar sana meskipun memang hotelnya tidak begitu besar, namun dia terpaksa berhenti karena Catherine yang masih kedinginan.
"Tunggu, pakai ini juga untuk menutupi bawahmu." Ucap Max yang di angguki saja oleh Catherine.
Dia sudah tidak tahan dan ingin masuk ke dalam lalu bergelung dengan selimut agar tubuhnya merasa hangat.
Max memeluk tubuh Catherine masuk ke dalam dan langsung memesan kamar untuk mereka berdua.
"Maaf, Tuan. Kebetulan kamar kita tinggal 1 yang kosong." Ucap resepsionis yang membuat Max mengumpat.
Dia melihat Catherine yang hanya diam saja akhirnya memgambilnya. Karena ada pengunjung lain yang tadinya ingin menginap juga.
"Cath, kamarnya hanya satu, aku akan tidur di sofa nantinya." Ucap Max.
Lagi-lagi Catherine tidak menjawab dan hanya mengangguk.
Sesampainya di kamar, Max terkejut dan lupa jika ini bukanlah hotel mewah, sehingga tidak ada sofa di sana.
"Sial!" Umpatnya.
"Kita bisa berbagi ranjang, Paman, tidak perlu bingung." Ucap Catherine namun dia masuk terlebih dahulu dan naik ke atas ranjang.
Catherine bahkan langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa bibirmu masih menggigil, Cath? Di sini bahkan pendingin ruangannya tidak menyala." Ucap Max yang menjadi khawatir sendiri.
"Jika kedinginan memang bisa seperti ini, biasanya Mommy dan Daddy akan memelukku jika aku kedinginan seperti ini." Ucap Catherine yang akhirnya membuat Max terdiam sebentar.
Nakun dia akhirnya naik juga ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut Catherine.
"Kemarilah, biar aku memelukmu."
Tanpa menjawab, Catherine langsung memeluk tubuh kekar pamannya dan memang sudah merasa sedikit hangat.
Sedangkan Max menahan dirinya dan bahkan sesekali menahan nafasnya karena jelas saja benda kenyal Catherine terasa jelas saat berpelukan dengannya seperti ini.
"Sepertinya kau harus membuka bajumu, Paman, bukankah jika memeluk orang yang kedinginan seperti itu?l tanya Catherine.
"Tidak! Seperti ini saja, akan bahaya jika aku membukanya." Ucap Max yang membuat Catherine mendoangakkan kepalanya.
"Bahaya kenapa?" Tanyanya dengan polosnya.
"Kau tidur saja, Cath. Tidak perlu banyak bicara." Ucap Max yang bahkan tidak bisa melihat wajah Catherine karena dia takut tidak bisa menahan diri.
"Bibirku juga kedinginan, Paman." Ucap Catherine namun Max hanya diam saja karena tidak tau maksut Catherine mengatakan itu.
"Aku sudah memelukmu. Seharusnya ini sudah lebih baik." Ucap Max namun Catjerine menggeleng pelan.
Dia sedikit naik ke atas dan meraih bibir Max yang membuat dia jelas saja terkejut dan reflek menghindar.
"Catherine! Apa yang kau lakukan! Sudah ku bilang jika kau tidak boleh menciumku lagi." Ucal Max yang marah.
"Aku kedinginan." Ucap Catherine yang akhirnya kembali merisut ke bawah dan hanya memeluk Max.
Max bisa merasakan nafas Catjerine memang sangat dingin, oadahal dia memakai baju, namun nafasnya bisa sampai tembus di dadanya.
"Cath." Panggil Max namun Catherine menjawabnya dengan deheman, dia masih memeluk tubuh Max karena selain merasa kedinginan, jelas saja dia sangat berasa nyaman di pelukan Max.
Catherine semakin menyembunyikan wajahny di tubuh Max namun Max mencegahnya, dia meraih wajah Catherine,
Bibirnya memang sedikit membiru dan terlihat jika dia benar-benar kedinginan.
Enrah kenapa Max malah mendekatkan wajahnya dan akhirmya bibir mereka bertemu.