Catherine yang sebenarnya cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pamannya namun tersenyum tipis, dia bahkan memejamkan matanya dan membalas ciuman pamannya yang sudah mulai melumatnya.
Max merasakan bibir Catherine yang dingin namun tidak membuat dia menghentikan aktifitasnya.
Bahkan dia kehilangan akal dan semakin mempermainkan bibir Catherine yang membuat ciumam mereka menjadi memanas.
Max benar-benar sudah terbawa suasana terlebih dia merasa menyukai bibir perempuan yang berstatus menjadi keponakannya ini
Tangan Max bahkan tanpa sadar dan dengan instingnya sendiri mengelus pelan paha mulus Catherine.
Tangan Catherine melingkar dengan manjanya di leher Max dan sedikit menekannya agar ciuman mereka semakin mendalam.
Mereka berdua benar-benar menikmati ciuman mereka tanpa sadar jika hubungan terlarang ini akan di mulai dari sini.
Catnerine merasakan tubuhnya tersengat karena ciuman Max sudah mulai menjalar di lehernya. Catherine mengizinkannya dengan mendongakkan kepalanya karena dia bahkan juga sangat menginginkan sentuhan pria yang dia kagumi dan cintai selama ini.
Catherine semakin tersenyum ketika merasakan benda keras tak bertulang milik pamannya menyentuh tubuhnya meskipun dia masih di dalam sangkarnya.
Max yang terpancing dan merasa aktifitasnya ini semakin b*******h bahkan menciumi da da Catherine karena dia tidak menutupnya dengan sempurna.
"Ini benar-benar wangi dan kenyal." Batin Max yang sudah kehilangan akal.
Tangannya semakin merambat ke atas di mana Catherine memang tidak menggunakan dalaman apapun.
"Aah! Paman—
Desahan Catherine membuat Max sebenarnya semakin berhasrat namun dia malah tersadar dan akhirnya melepaskan Catherine.
Catherine yang tadinya memejamkan matanya karena menikamti apa yang dilakukan oleh pamannya akhirnya membuka matanya.
"Kenapa berhenti, Paman?" Perkataan Catherine membuat Max menatap keponakannya.
"Ini salah, Cath!" Max menegakkan tubuhnya dan duduk di tepi ranjang.
Dia mengusap wajahnya karena dia merasa sudah sangat salah, namun Catherine malah tidak marah dan mempertanyakan dia berhenti dari aktifitasnya.
"Tidak ada yang salah jika kita sama-sama menginginkannya." Catherine membantah perkataan Max karena menurutnya yang dilakukan tidak salah.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan? Kita adalah keluarga, Cath. Kau keponakanku." Max tidak habis fikir dengan apa yang dikatakan oleh Catherine yang terang-terangan menginginkannya.
"Kita tidak ada hubungan darah, kau pasti tau itu," ucap Catjerine yang membantah perkataan pamannya.
"Bagaimana kau tau jika kita tidak ada hubungan darah?"
"Aku tidak sengaja mendengar obrolan Mommy dan Daddy. Dan asal kau tau aku sangat bahagia mendengarnya," ucap Catherine.
"Status kita tetaplah keponakan dan paman, ini salah meskipun kau kita tidak ada hubungan darah," Max menolak meskipun di sendiri entah kenapa malah menyukai aktifitas mereka tadi.
Selama dia sendiri, dia tidak pernah tergoda dengan wanita manapun, namun entah kenapa dia sekarang malah menerima godaan Catherine dan bahkan mampu menyentuhmya dan menikmati bibirnya.
Max memilih untuk keluar dan menjaga kewarasannya. Dia benar-benar merasa salah karena sempat menikmati tubuh Catherine, di mana dia adalah keponakannya.
Sedangkan Catherine menatap Max dengan sendu. Dia membaringkan tubuhnya dan kembali menyelimutinya.
Aktifitasnya dengan Max tadi membuat tubuhnya menghangat namun sayangnya Max menghentikannya.
"Kau milikku, Paman! Kau milikku. Akan kupastikan kau menyentuhku agar kita terikat dan kau benar-benar menjadi milikku." Catherine yang sudah terobsesi dengan pamannya tidak memperdulikam apapun,
Hubungannya yang tidak sedarah membuat dia semakin menginginkan Max untuk menjadi miliknya.
Max masih berada di luar hotel yang ternyata bahkan masih hujan deras.
Dia masih memikirkan apa yang sudah terjadi dengannya dan Catherine tadi.
Namun tak lama lamput tiba-tiba mati yang membuat Max terkejut.
Dia langsung menyalakan ponselnya dan berlari ke kamar Catherine karena takut dia akan ketakutan.
Namun saat dia masuk ke kamar, beruntungnya lampu sudah menyala dan terlihat Catjerine meringkuk dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Catherine." Panggil Max yang membuat Catherine langsung membuka selimutnya dan memeluk pamannya.
"Tadi lampunya mati, aku memanggilmu tapi kau tidak menyautiku." Ucap Catherine.
"Aku ada di luar, maafkan aku. Sekarang tidurlah. Aku di sini." Max akhirnya memutuskan untuk tidak meninggalkan Catherine lagi.
"Apa yang harus aku lakukan." Batin Max yang takut jika perasaan salah ini akan semakin menjadi.
*****
Semenjak saat itu, Catherine benar-benar menggoda Max secara terang-terangan. Namun Max selalu berusaha menghindarinya.
Sampai Catherine akhirnya masuk kuliah, Max semakin lega karena Catherine memiliki aktifitas lain selain menganggunya.
"Aku tidak percaya ini, tapi sedari awal aku sudah curiga dengan keponakanmu, perlu kau tau jika tatapannya padamu memang sangat berbeda." Ucap Daniel saat sahabatnya ini menceritakan kegilaan keponakannya.
"Aku menganggapnya hanya tatapan keponakan yang sayang dengan pamannya." Ucap Max.
"Tapi kau sudah pernah menyentuhnya dan aku sedikit terkejut akan itu karena kau tidak sembarangan menyentuh wanita jika kau tidak menyukainya. Itu berarti kau menyukai Catherine."
Perkataan Daniel membuat Max terdiam namun menggeleng.
"Aku tidak menyukainya, aku melakukannya karena terbawa suasana dan instingku sebagai lelaki normal," ucap Max yang mengelaknya.
"Bahkan dulu sering ada wanita yang telanjang di depanmu tapi kau hanya diam saja, akui saja jika kau sebenarnya juga menaruh rasa dengan Catherine, Max." Daniel jelas saja tidak percaya dengan perkataan sahabatnya ini karena dia sangat tau bagaimana Max jika di depan wanita yang bukan di kehendaki olehnya.
"Kau dan Catherine tidak sedarah, tidak masalah jika kalian memang saling suka, kalian bisa bersama bahkan menikah sekalipun." Lanjutnya.
"Itu tidak mungkin! Meskipun kita tidak sedarah, orang tau jika dia keponakanku, dan Kak Evan pun tidak akan pernah setuju dengan hubunganku dengan Catherine karena kita adalah keluarga." Ucap Max yang tetap menolak dan berusaha menghilangkan perasaannya yang entah memang dia menyukai Catherine atau tidak.
"Kak Evan sangat menyayangimu dan Catherine, aku rasa dia pasti mengerti dan menyetujuinya karena tau jika kalian tidak sedarah," Daniel sejujurnya malah mendukung Catherine.
Meskipun status Catherine memang keponakannya, namun dia merasa jika Catjerine mencintai Max dengan tulus, dan jika di lihat dari Max pun juga sebenarnya menyukai Catherine,
Jika tidak, tidak mungkin Max meladeni ciuman Catherine dan bahkan masih peduli dengannya di mana dia sering menggodanya secara terang-terangan.
Dia sangat tau Max, jika tidak suka dengan wanita, dia bahkan akan menatap wanita itu dengan jijik.
"Sudah, jangan membahasnya. Memikirkannya membuatku sakit kepala." Max sampai memijat pangkal hidungnya karena menjadi pusing sendiri jika sudah membahas Catherine.
"Ngomong-ngomong. Aku lupa mengatakan kabar terbaru dari Lucy, dia menjadi perbincangan orang-orang. Sudah banyak orang yang tau jika dirinya hamil, tapi dia bungkam dan tidak mengatakan siapa ayah dari dalam kandungannya, dan semua orang mengarah kepadamu karena mereka gau jika kau pernah memiliki hubungan dengan Lucy.
"Ck! Brengsekk!"