Bab 17+

1109 Words
Belum lama Daniel dan Max mengobrol soal Catherine, dia bahkan langsung muncul ke dalam ruangan Max yang membuat Max menghela nafas panjangnya dan memijat pangkal hidungnya. Sedangkan Daniel terkekeh karena melihat Catherine yang datang ke sini. "Hai, Paman." Catherine menyapa Daniel namun langsung duduk di atas pangkuan Max yang membuat Daniel melotot karena terkejut. "Catherine, apa kau tidak lihat ada Daniel di sini." Max mengomeli Catherine yang sebenarnya dia tadi juga terkejut saat dia duduk di atas pangkuannya. Catherine terkekeh. "Maaf, Paman. Aku reflek karena terbiasa." Dia akhirnya turun dari pangkuan Max namun tetap menempel kepada pamannya. "Jika tidak ada Paman Daniel, itu artinya boleh?" Tanya Catherine namun Daniel tertawa mendengarnya. "Astaga, kau sangat berbahaya, Cath. Jangan terlalu jujur dan dekat dengan pamanmu, mungkin saja dia akan memakanmu." Ucap Daniel yang langsung di angguki oleh Catherine. "Mau, aku memang sedang menunggu Paman Max memakanku." Ucap Catherine tersenyum manis namun membuat Daniel semakin tertawa. "Seharusnya kau menyukaiku, Cath. Maka aku akan memakanmu setiap hari." Ucap Daniel yang menggoda Catherine namun Max melemparmya dengan pulpem. "Pergilah brengsekk, kau semakin membuat pikiran keponakanku tercemar." Ucap Max. Daniel tertawa namun memilih untuk pergi dari sana. Dia juga ingin membiarkan Catherine yang memang ingin berduaan dengan pamannya, aah tidak! Lebih tepatnya berduaan dengan pujaan hatinya. Catherine juga terkekeh dengan perkataan Daniel, namun setelah kepergiannya, Catherine membaringkan kepalanya di atas paha Max. "Jika kau mengantuk, seharusnya kau pulang ke mansion." Seperti omelan namun Max tidak menolek saat Catherine tidur di atas pahanya. "Tidak mau, aku ingin di sini, aku lelah menghindar dari mereka." Ucap Catherine. Max mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan perkataan keponakannya. "Siapa? Ada yang menganggumu di kampus?" Tanya Max yang di angguki oleh Catherine. "Banyak yang meminta nomor telefonku. Bahkan senior di sana juga sampai datang ke kelasku." Ucap Catherine. "Lalu? Kau memberikannya?" "Tentu saja tidak, tidak ada yang setampan dirimu, kau tetap di hatiku, aku tidak mau berpaling padamu." Catherine tersenyum dan bahkan memeluk tubuh Max yang membuat dia terkejut. "Jamgan begini, Cath. Astaga anak ini." Omelnya Jelas saja yang dilakukan Catherine akan membuat ularnya nanti terbangun. Namun di lain itu, sebenarnya dia tersenyum tipis saat Catherine mangatakan tidak ada yang setampan dirinya. "Hm, aku bahkan ingin merasakannya, apa kau mau aku— Belum Catherine selesai berbicara, Max sudah menarik pelan tubuh Catherine namun membuat dia akhirnya tebangun. "Jangan aneh-aneh, dan akan lebih baik jika kau menghilangkan perasaan itu, karena sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama sebagai sepasang. Kita adalah keluarga dan orang tuamu tidak akan merestui kita." Ucap Max memperingati yang entah sudah ke berapa kali. Perasaan itu sudah ada di dalam hatiku semenjak kau meninggalkanku sepuluh tahunyang lalu, Paman. Beraeal dari kagum dan ternyata lama-kelamaan itu bukan rasa kagum, tapi perasaan cinta, dan aku sudah cukup dewasa untuk tau perasaan apa yang sebenarnya ini. Aku juga sudah pernah mencoba menghilangkannya tapi tidak bisa," ucap Catherine yang membuat Max akhirnya tertegun. Dia baru tau jika Catherine sudah menyukainya sedari lama dan bahkan semenjak dia meninggalkannya. Max yang tadinya melamun terkejut karena Catherine duduk di atas pangkuannya. "Catherine!" Entah sudah berapa lagi Max menegur Catherine namun dia seperti kebal dan tidak mau menurut sama sekali kepadanya. "Aku tau kau sudah mulai terbisa denganku, kau juga menyukaiku, bahkan milkmu bereaksi saat bersamaku. Jantungmu juga berdetak kencang saat bersmaku, jangan jual mahal seperti itu, Paman. Karena bagaimanapun kau menghindariku, aku tidak akan pernah berhenti mendekatimu," Catherine tersenyum menggoda dan bahkan meraih tangan Max. Max benar-benar mengerang ketika ternyata Catherine meraih tangannya dan mengarahkannya di mulutnya. Bahkan jarinya di lumat oleh Catherine yang jelas saja membuat Max menahan nafasnya dan akhirnya dindingnya rontoh juga. Dia meraih tengkuk Catherine dan mempermainkan bibirnya dengan sedikit kasar, Catherine sendiri tersenyum tipis meskipun dia sebenarnya selalu kualahan dengan ciuman Max. Bukan ciuman pertama bagi mereka, mereka sudah pernah melakukannya di hotel waktu itu, namun rasanya kali ini berbeda. Mereka melakukannya benar-benar sadar dan tanpa paksaan jika saat itu Max terpaksa melakukannya karena Catherine sedang kedinginan. Catherine lagi-lagi meraih tangan Max dan mengarahkannya di area benda kenyalnya yang reflek membuat tangan Max meremasnya. Catjerine semakin gelisah karena tangan Max semakin liar dalam mempermainkan benda kenyalnya. Entah Max melakukannya karena belum menyadarinya atau tidak, tapi Catherine sangat kenikmatinya. "Sial, aku benar-benar melakukannya, aku bahkan menyentuh dan menikmati bibir keponakanku." Batin Max, namun dia rasanya tidak mau berhenti. Dia masih menikmati bibir Catherine dengan tangannya tidak berhenti mempermainkan benda kenyalnya meskipun dari luar. Merasa kurang puas, Max malah membuka kancing Catherine satu persatu tanpa melepaskan ciuman mereka. Catherine sendiri membiarkannya karena dia tau Max sudah benar-benar menginginkannya, dia bisa merasakan benda keras yang menonjol miliknya di bawah sana. "Kau salah jika menggoda pamanmu, Catherine! Kau tau aku adalah pria dewasa yang normal dan akan terpancing jika kau memberikan tubuhmu dan selalu memancingku seperti ini." "Apa kau tidak takut jika saat aku sudah menikmati tubuhmu tapi kita tidak bisa bersama." Ucap Max yang menghentikan aktifitasnya tadi. "Akan ku pastikan saat kau menyentuh tubuhku, aku akan hamil anakmu. Dan kau akan terikat denganku." Jawaban Catherine membuat Max rasanya tidka percaya. Dia merasakan obsesi dari keponakannya untuknya. "Kau tau jika aku tidak pernah memiliki ikatan dengan orang lain, bahkan dengan Lucy dulu aku menidurinya tanpa status, hanya saja dia dan orang lain menganggap kita menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih." Ucap Max. "Itu dengan wanita lain, tapi tidak denganku, kau akan menjadikanku kekasihmu, istrimu dan anak dari anak-anakmu, aku akan pastikan itu," "Aku tau jika kau sudah meniduri seorang wanita, itu artinya kau menyukainya, bukan hanya menyukai tubuhnya, hanya saja kau benci di bohongi dan di hianati. Dan aku tidak akan melakukannya." Lanjutnya tersenyum dan dengan jahil menggerakkan pinggangnya di mana dia merasakan benda keras itu masih terasa dibawahnya. Max yang tadinya mencerna perkataan Catherine akhirnya memegang pinggangnya dengan erat karena apa yang dilakukan oleh Catjerine padanya. "Aaargh. Sial! Kau benar-benar mengujiku." Max bahkan terkejut ketika Catherine menurunkan bra-nya dan hampir terlihat benda kenyalnya karena memang tadinya Max sudah membukanya meskipun belum sepenuhnya. Max sudah ingin membukanya dan menyentuhnya namun terkejut saat ada yang mengetuk pintunya. Dia bahkan mendorong pelan tubuh Catherine agar turun dari pangkuannya. "Tutup bajumu, Cath." Ucap Max karena tidak mau siapapun mengetahui jika dia tadinya sednag b******u dengan Catnerine di mana orang tau dia adalah keponakannya. "Aku tidak mau." Catherine menggeleng yang membuat Max menjadi geram sendiri. Dia akhirnya menarik tangan Catherine dan membawanya ke dalam ruangan pribadinya. "Tunggu di sini dan rapikan pakaianmu." Ucap Max lalu pergi meninggalkannya. Catherine cemberut dan menggerutu, dia bahkan mengumpati orang yang tadinya mengetuk pinti ruangan Max karena telah menganggunya. "Ck, padahal sedikit lagi, milikku saja sudah terlanjur basah." Omelnya namun bukannya menutup kembali bajunya, dia malah membuka semuanya dan menyisakan bra-nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD