Bab 18

1059 Words
Karena terlalu lama menunggu, Catherine bahkan sampai ketiduran menunggu Max. Max memang lama karena ternyata tadi adalah Samuel yang mengingatkannya jika dia ada meting, dia akhirnya langsung keluar dari ruangannya dan melakukan meting. Dia meninggalkan Catherine dan percaya jika dia pasti tidak akan aneh-aneh. Setelah dia kembali dari meting, Max langsung menuju ke ruangan pribadinya. Dia terkejut melihat Catherine yang membuka pakaiannya dan menyisakan bra-nya saja. Dia tertidur dengan ponsel yang masih menyala karena dia sepertinya menunggunya sambil menonton film. Max melihat wajah Catherine yang terlihat tenang jika seperti ini. Matanya tertuju dengan dua buah melon yang masih terbungkus tempatnya di sana. Dia mengakui jika buah Catherine benar-benar menggoda dan terlihat padat, dia bahkan tadi merasakannya meskipun dia mempermainkannya dari luar saja. "Bukankah ini aneh, aku menerima godaannya. Tidak seperti biasanya. Selama ini Saat di club bahkan banyak yang telanjang di depanku tapi aku jijik dengan mereka, tapi dengan Catherine sangat berbeda, apa aku benar menyukainya." Gumam Max. Dia menghela nafas panjangnya, dia merasa tidak memiliki pemberanian untuk menyukai Catherine mengingat hubungannya dengannya adalah paman dan keponakan. Meskipun dia memang tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya, entah kenapa dia masih merasa ragu. Max memilih untuk menyelimuti tubuh Catherine dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah satu jam. Catherine terbangun karena ponselnya yang berbunyi. "Hm, ada apa?" Tanya Catherine dengan malas dan belum membuka matanya. "Eh! Kau tidur? Bukankah kau bilang tadi jika mau ke kantor pamanmu?" Tanya Viola yang di tanggapi Catherine dengan deheman. "Hm apa? Kau di mana sekarang?" Tanya Viola. "Aku— eh! Catherine langsung terbangun dan bahkan memposisikan dirinya menjadi duduk. Dia melihat sekitar dan baru menyadari jika dirinya memang ada di kantor pamannya dan dia tertidur di sana. "Aku ketiduran. Aku akan menghubungimu lagi nanti," Catherine bahkan langaung mematikan sambungan telefonnya tanpa menunggu jawaban dari Viola. Catherine menyikap selimut yang tadi membalutnya namun dia tersadar sesuatu jika tadi dia tidak memakai selimut. "Bukankah dia sangat manis." Gumamnya akhirnya terkekeh sendiri karena sudah pasti Max yang menyelimutinya. Dia tersenyum dan akhirnya pergi ke kamar mandi dulu untuk membasuh wajahnya. Setelahnya barulah dia keluar untuk menemui pamannya. Dia mengintip sebentar dan memastikan jika pamannya sedang sendirian di ruangan mengingat dia hanya memakai bra saja. Dia semakin tersenyum ketika melihat Max ternyata hanya sendirian dan hanya fokus dengan dokumen yang di pegang olehnya. Catherine berlari kecil dan duduk di atas pangkuan pamannya yang membuat Max jelas saja terkrjut, terlebih Catherine saat ini hanya memakai bra saja di depannya. "Catherine! Astaga! Pakai bajumu." Tegur Max namun Catherine menggeleng. Max terpaksa meraih remotnya agar pintunya terkunci. Dia takut jika ada yang masuk ke dalam. "Paman, aku membutuhkan celana dalam, tadi celana dalamku basah. Jadi aku melepasnya." Ucap Catherine yang membuat Max terkejut. "Astaga, anak ini. Kalau begitu turunlah!" Ucap Max yang takut jika dia khilaf kembali. "Tidak mau. Pesankan dulu." Ucap Catherine. "Kita pulang saja, aku sudah mau pulang." Max jelas saja tidak mau, jika dia pesan tau orang kantor tau, jelas saja akan membuat berita yang tidak-tidak nantinya. "Pakai lagi bajumu." Ucap Max. Catjerine terkekeh namun malah menurunkan tali bra-nya. "Tidak mau mencobanya dulu?" Catherine tersenyum namun Max mencegah tangan Catherine. "Cepat pakai, Cath." Catherine terkekeh dan akhirnya turun dari pangkuan Max. Dia masuk ke dalam kamar Max lagi untuk mengambil bajunya dan memakainya yang membuat Max benar-benar bisa bernafas dengan lega. Max terpaksa menghentikan pekerjaannya dan pulang lebih awal karena Catherine yang tidak memakai dalaman. Saat ingij sampai di mansion. Max terkejut karena di depan pagarnya banyak wartawan yanh sepertinya dia tau apa yang mereka inginkan. "Sial!" Umpatnya dan memilih untuk memutar mobilnya dan menjauh dari sana meskipun ada wartawan yang sempat mobilnya. "Ada apa, Paman? Mereka seperti wartawan. Kenapa ada wartawan di depan mansionmu?" Tanya Catherine yang tadi juga terkejut mihat banyaknya orang di depan sana. "Tidak apa, kita ke apartemen dulu sampai mereka tidak ada." Ucap Max memilih untk pergi ke apartemen pribadinya. Catherine hanya bisa mengangguk setuju meskipun dia belum tau apa yang terjadi. Sesampainya di apartemen. Mereka masuk ke dalam namun Max melupakan jika Catherine tidak memiliki baju di sini. "Aku akan pesankan baju untukmu, sementara pakai saja bajuku di lemari." Ucap Max yang di angguki oleh Catherine. Karena tubuhnya sudah gerah, Catherine akhirnya berendam di kamar mandi. Sedangkan Max menghubungi asisten dan pengawalnya yang ada di mansion untuk mengatasi apa yang terjadi. "Pastikan mereka tidak pergi sampai ke apartemenku, aku tidak mau melibatkan Catherine dan wajahnya sampai kesorot kamera." Ucap Max kepada Samuel yang dimengerti olehnya. Max menghela nafas panjangnya dan akhirnya terpaksa mngadakan jumpa pers untuk besok dan mengklarifikasi berita yang ada. "Lucy sialan! Ku pikir dia wanita baik-baik." Gumamnya memijat pangkal hidungnya. Padahal dulu Max memang sudah serius dengannya dan berniat menikahinya, namun dia bersyukur itu belum terjadi dan ternyata tuhan memberi petunjuk kepadanya jika ternyata Lucy tidak sebaik itu. Dia tidak pernah meresmikan Lucy menjadi kekasihnya, hanya saja dia memang menyukainya, dia tidak ingin memiliki komitmen apapun karena dia tidak menyukainya, hanya saja orang-orang menganggap mereka adalah sepasang keksih, dan Max tidak membantahnya karena saat itu memang dia serius dengan Lucy. "Paman." Panggil Catherine karena di kamar ternyata belum ada baju untuknya. Max menoleh dan lupa untuk memesankan baju untuk Catherine. "Aku lupa memesankan baju untukmu, sebentar." Ucap Max karena Catherine memakai bajunya yang terlihat kebesaran di tubuhnya dan bahkan paha mukusnya terlihat jelas di sana. "Tidak perlu, Paman. Lagi pula jika tidur aku biasa tidak pernah memakai dalaman." Ucap Catherine. "Akan lebih baik jika kau memakainya." Ucap Max tetap memesankan pakaian untuk keponakan nakalnya ini karena akan bahaya jika dia tidak memakai dalaman apalagi bawahnya. Dia takut jika Catherine akan menggodanya yang lebih aneh-aneh lagi karena sepertinya dia tidak akan bisa menahan dari godaam keponakannya. Catherine terkekeh dan akhirnya membiarkannya. "Pesan makanan juga, Paman! Aku lapar!" Ucap Catjerine yang di angguki lagi oleh Max. Akibat wartawan di mansionnya, dia jadi lupa dengan segalanya dan lupa memesan makanan untuk mereka. "Aku mandi dulu, nanti ambil saja jika ada yang mengantar baju dan makanan." Ucap Max yang membuat Catherine mengangguk. Namun belum Max ke kamar, dia berbalik dan tidak jadi mandi karena mengingat apa yang di pakai Catherine. "Kenapa tidak jadi?" Tanya Catherine karena Max malah duduk lagi di sampingnya. "Aku saja yang mengambil baju dan makananmu nanti." Ucap Max. "Kenapa?" "Tidak apa." Ucap Max menolak memberikan alasan. Dia jelas saja tidak membiarkan Catherine nantinya bertemu dengan kurir dalam keadaan dirinya seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD