Max benar-benar lega karena Catherine menjadi penurut malam ini, kamar di apartemennya hanya satu. Dia membiarkan Catherine tidur di atas ranjang sedangkan dia masih ada di ruang tamu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat di tinggal olehnya tadi.
Saat tengah malam, barulan dia menghentikan aktifitasnya namun dia pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil minum.
Dia terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang dan bahkan mencium punggungnya.
"Catherine!" Jelas saja Max sudah menduga jika itu adalah keponakan nakalnya.
"Sudah bagus tidur, kenapa terbangun!" Omelnya namun jantungnya benar-benar berdetak kencang. Dia menelan salivanya dengan susah ketika melihat baju tidur yang di kenakan Catherine dan tercetak jelas bobanya di sana.
"Sial! Kenapa orang butik memilihkan baju tidur seperti ini." Batin Max karena memang dia yang memesankan baju untuk Catherine, namun dia tidak tau jika baju tidur yang datang malah tipis.
"Aku haus, tadinya sekalian mencarimu dan ingin tau kau tidur di mana, ternyata aku sangat beruntung melihatmu di sini. Paman." Catherine tersenyum manis.
"Cepat minum dan tidur lagi, aku juga ingin tidur." Jawabnya dan akhirnya meninggalkan Catherine agar dia tidak khilaf seperti tadi pagi dan akan membuatkan kehilangan akalnya.
Catherine tersenyum miring dan akhirnya mengambil air terlebih dahulu karena dia memang haus.
"Paman tidur di sini?" Tanya Catherine karena ternyata Max tidur di ruang tamu dan sudah menata bantal ingin bersiap tidur.
"Ya, kau tidurlah. Jangan mengangguku. Cath. Aku harus bangun pagi karena ada pertemuan penting." Ucap Max.
"Kau terlihat takut sekali denganku, Paman. Aku kan tidak menggigit. Kau tadi pagi yang menggigitku." Ucqp Catherine.
"Sudah! Tidurlah, Cath. Semakin malam kau semakin melantur saja." Ucap Max yang memilih tidak menghiraukan keponakannya dan membaringkan tubuhnya.
Dia bahkan membelakangi Catherine namun dia malah terkekeh sendiri dan meninggalkan Max ke kamarnya.
Max mengerutkan dahinya karwna merasa Catjerine sudsh tidak ada di belakangnya.
"Eh! Tumben sekali dia pintar." Gumamnya lalu mengangkat kedua bahunya dan bernafas lega karena Catherine tidak menganggunya.
Sedangkan Catherine memang sengaja tidak menganggu Max karena dia tau Max besok sudah pasti akan sibuk,
Keesokkan paginya, Max mengantar Catherine ke kampusnya terlebih dahulu karena dia ada kelas pagi.
Sebelumnya mereka pergi ke mansion untuk mengambil peralatan Catherine dan beruntungnya sudah tidak ada wartawan di sana.
"Terima kasih, Paman." Catherine tersenyum dan mencium pipi Max yang membuat dia tidak sempat menghindar jelas saja terkejut,
Dia menoleh ke arah Catherine namun sialnya di manfaatkan oleh keponakannya ini dan dia langsung mencium bibirnya.
"Jangan jual mahal kepadaku, Paman! Jika nanti ada yang mendekatiku, akan kupastikan jika kau cemburu nantinya." Ucap Catherine lalu keluar dari mobil.
Max hanya diam saja dan melihat ke arah Catherine yang berjalan masuk dan ternyata sudah di tunggu Viola di sana.
Max tersenyum tipis karena meremehkan perkataan Catherine yang mengatakan jika dia akan cemburu padanya.
Dia ingin pergi dari sana namun tidak jadi karena melihat ada yang menghampiri Catherine dan bahkan mencium pipinya.
Max mengerutkan dahinya ketika Catherine berbicara dengan lelaki itu yang membuat dia merasa kesal sendiri.
Dia ingin keluar dari mobilnya namun tidak jadi karena dia sadar untuk apa dia melakukannya.
"Sialan! Mana mungkin ini perasaan cemburu." Gerutunya.
"Tidak! Ini hanya perasaan sebagai seorang paman yang khawatir dengan keponakannya, aku rasa ini wajar." Ucap Max.
Dia melihat ke arah Catherine yang menoleh ke arah mobilnya. Dia mengedipkan sebelah matanya yang membuat Max geram.
"Dia memang sengaja. Sial!" Umpatnya dan memilih untuk pergi dari sana untuk menjaga kewarasannya.
"Semenjak Catherine di sini, aku sepertinya menjadi gila." Omelnya.
Sedangkan di kampus, Catherine dan Viola terkekeh karena melihat Max pergi dari sana.
"Kau membuatnya marah." Ucap Viola.
"Harus begitu, dia sepertinya harus di buat cemburu. Menyebalkan sekali jika dia jual mahal seperti itu."
"Terima kasih, Rom. Kau membantuku." Ucap Catjerine kepada teman lelakinya namun dia tidak mengerti.
"Membantu apa?" Tanya Romi.
Viola dan Catherine terkekeh dan akhirnya menggelengkan kepalanya.
Mereka meninggalkan Romi yang masih kebingungan.
"Cath! Tunggu! Kau belum memberikan nomor ponselmu." Romi menyusul Catjerine karena memang sebenarnya dia sedari awal mengejar Catherine dan meminta nomor telefonnya, hanya saja Catjerine tidak memberikannya.
*****
"Bagaimana?" Tanya Max kepada asistennya.
"Jam 10, Tuan. Semua orang akan berkumpul di depan." Jawabnya yang di mengerti oleh Max.
"Dia memang tidak waras, dia ingin menyeretmu agar kau mau bertanggung jawab atas dirinya." Ucap Daniel yang sebenarnya juga geram dengan Lucy.
Max menghela nafas panjangnya dan akhirnya menyandarkan tubuhnya di kurai kebesarannya.
"Ngomong-ngomong. Bagaimana dengan keponakan nakalmu itu, apa dia semakin nakal?" Daniel terkekeh karena dia tau jika Max juga pusing memikirkan Catjerine yang sepertinya semakin menganggunya.
"Bagaimana menurutmu? Bukankah orang lain akan berfikiran yang tidak-tidak terhadapku dan Catherine jika kita bersama." Ucap Max.
Dia mengakui jika sepertinya memang dia memiliki perasaan lain kepada Catherine, apalagi tadi saat dia di dekati dan tertawa bersama dengan pria lain.
Entah itu perasaan cemburu atau memang sebagai pamannya yang ingin menjaga keponakannya, namun dia tetap tidak suka dengan pria yang mendekati Catherine, apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kau benar-benar menyukainya, kan?" Ucap Daniel.
"Entahlah, perlu kau jika aku dan Catherine hampir melakukannya." Ucap Max yang membuat Daniel terkejut, bukan hanya Daniel. Namun Samuel yang berada di sana juga terkejut.
"S-sepeetinya aku harus pergi dari sini, Tuan." Samuel yang merasa tidak enak memilih untuk pergi dari sana namun Max malah mencegahnya.
"Di sini saja," ucap Max yang jelas saja di turuti oleh Samuel.
"Melakukan apa? Jangan aneh-aneh. Jikapun kau menyukainya. Jangan terpancing dengannya. Bagaimanapun dia masih kecil dan belum mengerti apapun." Ucap Daniel.
"Dia sudah berumur 20 tahun, dia bukan anak kecil lagi. Perlu kau tau jika dia yang memimpin permainan saat menggodaku, dia sangat berbahaya bagiku yang hanya pria normal." Ucap Max.
"Dia juga mengatakan ingin hamil anakku agar bisa menjeratku." Lanjutnya
Daniel melototkan matanya dengan perkataan sahabatnya.
"Dia sepertinya sangat terobsesi denganmu, astaga— tapi sepertinya itu akan memguntungkan bagimu jika kau sedang memginginkannya." Ucap Daniel terkekeh sendiri.
"Sialan!" Max melempar Daniel dengan pulpen yang membuat Daniel semakin tertawa.
"Tidak masalah jika kau juga menyukainya, kalian tidak sedarah, tapi memang mungkin perjalanan cinta kalian sepertinya tidak akan biasa dan bahkan banyak yang akan kalian lalui kedepannya termasuk restu dari kakakmu sendiri."