Tidak Butuh Penjelasan Apapun

1151 Words
* * * "Kar, ini semua kecelakaan! Aku tidak bermaksud menghancurkan kita!" Zaki berhasil menjangkau ujung jaket Sekar, mencoba menariknya agar berhenti. Sekar menyentak lengannya dengan kasar hingga Zaki hampir tersungkur. Ia berhenti mendadak, berbalik, dan menatap Zaki dengan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat pria itu membeku di tempat. "Jangan. Sentuh. Aku," desis Sekar. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. "Simpan semua sampahmu itu untuk besok pagi di depan penghulu. Aku tidak butuh penjelasan. Aku butuh kamu menghilang dari pandanganku sekarang juga." "Tapi kamu tidak mengerti, Kar..." "Aku sangat mengerti, Zaki," potong Sekar cepat. "Aku mengerti kalau aku sudah memelihara benalu selama tiga tahun. Sekarang pergilah. Siapkan dirimu untuk menjadi suami kakakku. Bukankah itu yang kalian inginkan?" Sekar segera berbalik dan masuk ke dalam rumah melalui pintu samping, menguncinya rapat-rapat sebelum Zaki sempat mencapai gagang pintu. Gedoran di pintu kamar Sekar belum berhenti. Zaki seolah tidak punya urat malu lagi. Suaranya yang merengek terdengar sangat kontras dengan harga diri yang selama ini dia banggakan di depan kolega-kolega Sekar. "Sekar, tolong buka! Aku janji pernikahan besok itu cuma formalitas! Aku cuma mau menyelamatkan nama baik keluargamu saja!" teriak Zaki dari balik pintu. "Minggu depan, kita tetap nikah, Kar! Aku sudah pesan jasnya, aku sudah latihan janji sucinya. Hanya kamu yang aku mau sebagai istriku!" Sekar yang sedang mengenakan headphone perlahan membukanya. Dia bangkit dari ranjang, berjalan mendekati pintu, tapi tidak membukanya. Dia hanya berdiri di sana, mendengarkan kebohongan yang keluar dari mulut pria yang dulu sangat dia puja. "Ranti itu cuma kecelakaan, Kar! Dia yang goda aku waktu aku kesepian karena kamu tinggal ke London!" Zaki terus meracau, mencoba melemparkan kesalahan pada kakak Sekar demi menarik simpati. "Aku akan ceraikan dia setelah bayinya lahir, aku janji! Kita bisa pindah ke luar kota, bawa semua uangmu, kita bangun hidup baru. Kamu mau kan, Kar? Kamu kan sayang sama aku?" Sekar tertawa kecil. Tawa yang sangat pendek dan tajam. "Kamu mau menikahiku Minggu depan dengan uang siapa, Zaki? Uangku lagi?" Zaki terdiam sejenak, lalu suaranya melunak, mencoba terdengar manis. "Kita kan satu tim, Sayang. Kamu punya karir, aku punya cinta. Kalau kita nikah, semua asetmu tetap aman bersamaku. Aku akan jaga kamu, aku akan jadi suami yang penurut. Kamu nggak mau kehilangan aku, kan?" "Penurut?" Sekar akhirnya bersuara, nadanya dingin menusuk. "Kamu bukan penurut, Zaki. Kamu itu parasit. Kamu takut kehilangan aku karena kalau aku pergi, kamu nggak punya tempat tinggal, nggak punya mobil, dan nggak punya akses ke gaya hidup mewah yang selama ini aku biayai." "Enggak, Kar! Aku tulus!" "Tulus?" Sekar memutus perkataan Zaki. "Kalau kamu tulus, kamu nggak akan mengetuk pintuku malam ini sambil membawa bau parfum kakakku. Kamu baru saja memeluknya di bawah, kan? Dan sekarang kamu merayuku untuk menikahimu minggu depan? Kamu benar-benar menjijikkan." Zaki terengah-engah di depan pintu. Dia merasa Sekar benar-benar akan lepas dari genggamannya. Rasa panik membuatnya semakin nekat. "Oke, oke! Kalau kamu nggak mau nikah minggu depan, setidaknya jangan tarik aset-aset itu dulu! Aku butuh mobil itu untuk bawa Ranti ke rumah sakit besok setelah akad! Kamu nggak kasihan sama keponakanmu?!" *** "Sekar... Kamu mau ke mana? Acara kakakmu mau dimulai," bisik Ningrum dengan suara bergetar. Sekar turun dengan langkah yang sangat tenang. Ia tidak terlihat seperti wanita yang hancur; sebaliknya, ia mengenakan setelan kantor berwarna hitam yang sangat rapi, rambutnya disanggul modern, dan sorot matanya tajam. Di kedua tangannya, ia menyeret dua koper besar. Semua tamu, termasuk ibu-ibu kompleks, menahan napas. Ningrum berdiri dengan wajah pucat, mencoba menghalangi langkah Sekar di ujung tangga. Sekar berhenti tepat di depan ibunya. Ia tidak menatap Zaki yang duduk mematung di meja akad, tidak juga menatap Ranti. Fokusnya hanya pada wanita yang melahirkannya namun tega menjual kebahagiaannya. "Aku pindah ke apartemen pagi ini," ucap Sekar, suaranya jernih dan cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. "Semua barangku sudah kukemas. Mulai detik ini, rumah ini bukan lagi tempat kepulanganku." Sekar merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Ia menyodorkannya kepada Ningrum. "Ini ada uang tunai dan sertifikat rumah ini," kata Sekar datar. "Rumah ini sudah lunas. Aku berikan untuk Ibu sebagai tanda bakti terakhirku. Tapi ada syaratnya." Ningrum menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Syarat apa, Nak?" "Jangan pernah cari aku lagi. Jangan hubungi aku untuk alasan apa pun. Anggap saja anakmu yang manajer ini sudah mati di London," ucap Sekar tanpa emosi. Ia kemudian menoleh sekilas ke arah meja akad, ke arah Zaki dan Ranti yang menunduk dalam-dalam. "Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Zaki, ambillah Ranti. Ranti, ambillah pria ini. Kalian memang pantas untuk satu sama lain, dua pengkhianat di bawah satu atap," Sekar tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyakitkan daripada makian. "Aku ikhlas kalian menikah, asal jangan pernah lagi tunjukkan wajah kalian di hadapanku. Jika aku melihat kalian satu meter saja di dekatku, aku tidak akan segan menggunakan pengacaraku untuk mengambil kembali rumah ini." Zaki mencoba berdiri. "Sekar, dengar..." "Cukup, Zaki," potong Sekar. "Simpan suaramu untuk ijab kabulmu. Jangan kotori telingaku lagi." Sekar berdiri tegak di tengah ruangan, tangannya menggenggam erat gagang kopernya. Ranti memberanikan diri berdiri, mencoba mendekati adiknya dengan langkah gontai karena beban perutnya. "Sekar... tolong, jangan pergi seperti ini. Kakak tahu Kakak salah, tapi kita masih keluarga," isak Ranti, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Sekar. Sekar mundur selangkah, menatap tangan itu seolah-olah itu adalah racun. "Keluarga? Keluarga tidak tidur dengan pria yang dicintai adiknya saat adiknya sedang berjuang di negeri orang, Ranti. Jangan gunakan kata itu untuk mencuci dosamu." Zaki ikut berdiri, wajahnya memerah karena malu di depan para tamu. "Sekar, kamu tidak perlu sampai pindah ke apartemen. Aku bisa tinggal di rumah lain kalau itu maumu. Tolong jangan buat Ibu sedih!" "Kamu masih saja tidak paham, Zaki," Sekar tertawa getir. "Aku pindah bukan karena aku takut melihat kalian. Aku pindah karena bau pengkhianatan di rumah ini membuatku mual. Rumah ini sudah kuberikan pada Ibu. Silakan tinggal di sini, hiduplah dengan bayang-bayang apa yang telah kalian lakukan padaku setiap kali kalian melewati kamarku." Sekar menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya. "Aku sudah mengikhlaskan kalian. Menikahlah. Hiduplah dalam kebahagiaan yang kalian curi ini. Tapi ingat, jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Sedetik pun aku melihat wajah kalian, aku pastikan kalian akan menyesal." Tepat saat Sekar hendak melangkah pergi, ponsel di saku blazernya bergetar hebat. Ia merogohnya, berniat menolak panggilan itu, namun matanya membelalak saat melihat nama yang tertera di layar. Sekar mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. "Halo?" Wajah Sekar yang tadinya sedingin es mendadak pucat pasi. Matanya yang tajam kini dipenuhi ketakutan yang nyata. "Apa? Kapan? Lalu bagaimana sekarang?!" Zaki dan Ranti saling pandang, bingung melihat perubahan drastis pada Sekar. "Sekar? Ada apa?" tanya Ningrum khawatir. Setelah sambungan telpon terputus, Sekar kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Ada apa, Sekar? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Ningrum. "Setelah hari ini, apa pun yang terjadi padaku, bukan lagi urusan kalian. Jangan sekali - kali mencampuri atau ikut campur dalam urusanku," Setelah mengatakan itu, Sekar pun melangkah meninggalkan mereka semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD