*
*
*
"Mbak Sekar! Akhirnya sampai juga," Doni, asisten pribadinya, langsung menghadangnya di depan lift dengan wajah cemas.
"Ada apa, Don? Kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Sekar sambil terus berjalan cepat.
Sekar melangkah masuk ke lobi kantor pusat Dirgantara Global dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur. Pakaian kantor yang ia kenakan memang rapi, tapi sorot matanya yang sembab tak bisa menyembunyikan badai yang baru saja ia lalui di rumah sakit dan rumah ibunya.
"Pak Adrian, Mbak. Beliau sudah menunggu di dalam ruangan Mbak sejak satu jam yang lalu. Suasananya... sangat tidak enak," Doni berbisik sambil melirik ke arah pintu ruangan Sekar yang tertutup rapat.
Sekar mengerutkan kening.
"Menungguku? Ada masalah dengan data yang kukirim tadi pagi?"
"Bukan itu saja, Mbak. Semalam... Mbak seharusnya melapor begitu mendarat di Jakarta. Jadwal meeting makan malam dengan investor dari Tokyo, Mr. Tanaka, berantakan karena Mbak tidak muncul dan ponsel Mbak tidak bisa dihubungi. Pak Adrian terpaksa menghandle sendiri, tapi investor itu merasa tidak dihargai karena Mbak yang memegang kunci teknis proyek ini,"
Sekar mematung di depan pintunya. Jantungnya mencelos. Pengkhianatan Zaki dan kondisi ayahnya benar-benar menghapus jadwal profesionalnya dari ingatan.
"Mr. Tanaka hampir menarik diri, Mbak," tambah Doni takut-takut. "Pak Adrian murka besar."
"Serius, Don?"
"Mr. Tanaka marah besar, Mbak," Doni mendekat, merendahkan suaranya hingga hampir tak terdengar.
"Semalam beliau menunggu di restoran selama dua jam. Pak Adrian mencoba menghandle sendiri, tapi Mr. Tanaka merasa tersinggung. Beliau bilang, kalau Manajer Proyeknya saja tidak bisa menghargai waktu untuk meeting pertama, bagaimana bisa dipercaya mengelola investasi ratusan milyar?"
Sekar memejamkan mata sejenak, merasakan pening yang luar biasa.
"Lalu? Apa mereka membatalkan kontraknya?"
"Hampir, Mbak! Doni menghela napas berat.
"Tadi pagi sekretaris Mr. Tanaka menelepon. Mereka sedang mengemasi barang dan berencana terbang kembali ke Tokyo sore ini. Mereka resmi menyatakan ingin menarik diri dari kerja sama kita. Pak Adrian mengamuk, Mbak. Beliau merasa Mbak sudah mempermalukan nama baik perusahaannya di mata investor internasional,"
Sekar meremas jemarinya.
"Ini salahku, Don. Aku benar-benar lupa soal meeting itu karena kekacauan semalam,"
"Bukan cuma itu, Mbak," Doni menelan ludah.
"Pak Adrian bilang ke saya tadi, 'Kalau Sekar Armani tidak muncul dalam sepuluh menit dengan alasan yang logis dan solusi untuk menahan Tanaka, suruh dia tidak usah masuk ke ruangan saya selamanya'. Mbak... posisi Mbak sekarang benar-benar di ujung tanduk."
Sekar terdiam, menatap pintu ruangan Adrian yang seolah menjadi gerbang menuju eksekusi karirnya.
"Don, ambilkan aku berkas cadangan proyek Tanaka di meja analis sekarang," perintah Sekar, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan fokus.
"Dan tolong, hubungi pihak maskapai. Cek apakah ada jadwal penerbangan ke Tokyo yang bisa kita tahan atau jika kita bisa membelikan kursi first class tambahan untuk delegasi mereka agar mereka mau menunda kepulangan dua jam saja,"
"Mbak mau apa?" tanya Doni bingung.
"Aku akan masuk ke sana dan menyerahkan kepalaku pada Pak Adrian," ucap Sekar sambil memperbaiki kerah blazernya.
"Tapi aku tidak akan membiarkan Tanaka pergi. Pergilah, Don! Lakukan sekarang!"
Di dalam, Adrian duduk di kursi kerja Sekar, menatap pemandangan kota dari jendela besar tanpa menoleh sedikit pun.
"Sepuluh menit lewat dua detik, Sekar," suara Adrian bergema tanpa ia perlu berbalik.
"Berikan saya satu alasan kenapa saya tidak boleh memecat Anda sekarang juga."
"Maaf, Pak Adrian. Saya benar-benar minta maaf atas kelalaian saya semalam," suara Sekar bergetar namun berusaha tetap profesional.
Adrian memutar kursinya perlahan. Tatapannya setajam sembilu, menguliti ketenangan yang coba Sekar bangun sejak di lobi tadi. Ia melemparkan sebuah map berisi draf kontrak yang sudah robek di sudutnya ke atas meja.
"Mr. Tanaka sudah berada di terminal keberangkatan satu jam lagi, Sekar," suara Adrian rendah, namun penuh penekanan.
"Beliau merasa kita mempermainkannya. Di Jepang, ketepatan waktu adalah kehormatan. Dan semalam, Anda baru saja menginjak-injak kehormatan perusahaan saya,"
Sekar berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas.
"Saya tahu permohonan maaf tidak akan cukup, Pak. Saya siap menerima konsekuensinya, tapi saya mohon beri saya waktu tiga puluh menit untuk bicara dengan beliau sebelum pesawatnya lepas landas,"
Adrian tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata.
"Bicara? Setelah Anda menghilang tanpa kabar? Anda pikir investasi 500 miliar bisa diselamatkan hanya dengan kata-kata manis di telepon?"
"Bukan dengan telepon, Pak," potong Sekar tegas.
"Saya sudah meminta Doni menyiapkan materi teknis terbaru yang belum sempat saya tunjukkan semalam, analisis risiko yang akan memangkas biaya operasional mereka sebesar 15% di tahun pertama. Mr. Tanaka adalah pebisnis. Dia mungkin marah, tapi dia tidak akan membuang peluang keuntungan sebesar itu hanya karena ego,"
Adrian berdiri, berjalan mendekati Sekar hingga aroma maskulinnya yang kuat mengepung indra penciuman Sekar.
"Anda sangat percaya diri, ya? Padahal Anda sendiri sedang hancur. Bagaimana Anda bisa meyakinkan investor raksasa jika membangun profesionalisme kamu saja, kamu tidak mampu?"
Sekar mendongak, menatap langsung ke dalam mata Adrian.
"Aaya tidak punya pilihan selain memastikan proyek ini berhasil. Karir ini adalah satu-satunya hal yang tidak mengkhianati saya. Jika Pak Adrian mengizinkan saya pergi ke bandara sekarang, saya jamin Mr. Tanaka tidak akan naik ke pesawat itu,"
Adrian terdiam sejenak, mengamati sorot mata Sekar yang penuh tekad sekaligus keputusasaan.
"Bagaimana jika Anda gagal?"
"Maka saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya detik itu juga, tanpa pesangon satu rupiah pun," jawab Sekar tanpa ragu.
Adrian mengambil kunci mobilnya di atas meja.
"Tiga puluh menit, Sekar. Dan saya sendiri yang akan menyetir. Jika dalam perjalanan ke bandara Anda tidak bisa meyakinkan saya lewat presentasi lisan bahwa analisis 15% itu masuk akal, saya akan turunkan Anda di pinggir jalan tol,"
*
*
*
"Analisis 15% itu cerdas, Sekar. Saya tidak menyangka Anda sempat memikirkan struktur biaya logistik saat pikiran Anda... sedang terbagi," ucap Adrian tanpa menoleh.
"Terima kasih, Pak. Fokus adalah satu-satunya cara saya tetap waras," jawab Sekar pendek.
Mesin mobil SUV itu menderu pelan di jalur cepat jalan tol menuju Soekarno-Hatta. Adrian menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi dengan ritme yang sulit ditebak. Di sampingnya, Sekar menyandarkan punggungnya yang kaku. Napasnya mulai teratur, meski keringat dingin masih membekas di pelipisnya setelah setengah jam "disidang" habis-habisan oleh Adrian mengenai angka-angka proyek.
Tiba-tiba, Adrian kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari aspal di depannya.
"Doni bilang, kamu akan menikah Minggu depan?" ucap Adrian.
Sekar tersentak. Pertanyaan itu datang seperti serangan mendadak. Selama ini, Adrian adalah tipikal atasan yang sangat menjaga jarak profesional, ia tidak pernah berbasa-basi, apalagi menanyakan urusan domestik karyawannya.
"Pernikahan itu batal, Pak," jawab Sekar pendek, mencoba menjaga suaranya tetap datar meski ada nyeri yang kembali mencubit dadanya.
Sekar menunggu reaksi Adrian. Ia mengira bosnya akan terkejut, bingung, atau setidaknya mengucapkan kalimat simpati formal seperti "Saya turut prihatin". Namun, Adrian justru tetap tenang, bahkan ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
"Kenapa dibatalkan?" tanya Adrian lagi.
"Karena tunangan saja tidak bisa menjaga komitmen dan kepercayaan yang saya berikan," jawab Sekar dengan entengnya.
"Heumm..."
Adrian hanya berdehem tanpa lanjut bertanya lagi. Setelah itu suasana mobil kembali hening. Sampai suara decitan ban mobil bertemu aspal memecah suasana senyap itu.
Ciiiiitttt!
Suara gesekan ban dengan aspal jalan tol yang panas memekik nyaring. Tubuh Sekar terlempar ke depan dengan keras karena sentakan mendadak itu. Sebelum ia sempat menahan diri dengan tangan, keningnya menghantam dasbor mobil yang keras dengan bunyi duk yang cukup kencang.
"Sial!" Adrian menggeram, tangannya mencengkeram kemudi dengan urat-urat yang menonjol. Sesosok bayangan,mungkin seekor hewan atau benda yang jatuh dari truk di depan baru saja melintas secara gila di jalur cepat.