bc

Bimbingan Terlarang Sang Manajer

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
BE
age gap
friends to lovers
arrogant
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
office/work place
affair
assistant
like
intro-logo
Blurb

Bagi Denis, hidupnya adalah deretan prosedur yang rapi. Jabatan sebagai Manajer HRD, tinggi badan 185 cm yang mengintimidasi, dan tunangan sempurna bernama Manda. Namun, kesempurnaan itu terasa hambar karena Manda terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.​Lalu datanglah Ica. Karyawan baru yang mungil, beraroma peach, dan selalu butuh "bimbingan".​Apa yang dimulai sebagai sandiwara di depan rekan bisnis, berubah menjadi audit perasaan yang tak terkendali. Di balik pintu ruang arsip yang tertutup dan di bawah temaram lampu kantor, Denis menemukan candu baru yang mempertaruhkan segalanya: kariernya, tunangannya, dan kewarasannya.Berapa harga yang harus dibayar untuk cinta yang terlarang?​"Dia adalah kesalahan paling indah dalam kontrak hidupku yang sempurna."

chap-preview
Free preview
Bab 1. Tunangan Dua Jam
Menjadi seorang Manajer HRD di hotel bintang lima membuat Denis terbiasa memverifikasi segala sesuatu. Ijazah palsu? Dia tahu dalam sekali lirik. Pengalaman kerja yang dilebih-lebihkan? Dia punya penciuman setajam anjing pelacak untuk itu. Tapi ironisnya, di dunia luar—tepatnya di meja makan sebuah restoran rooftop yang penuh dengan asap cerutu dan tawa sinis rekan bisnisnya—status Denis sendiri adalah sesuatu yang diragukan keabsahannya. "Jadi, Den? Mana ini calon Nyonya Denis?" Randy, pria dengan kemeja brand ternama yang kancing perutnya hampir mencelat karena lemak trans, menyandarkan tubuh ke kursi. Matanya berkilat jahil. "Jangan bilang dia lagi ada kunjungan kerja ke planet Mars?" Tawa pun pecah di meja itu. Denis hanya bisa tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia berikan kepada karyawan yang baru saja kena SP 3. Ia mengaduk minumannya, merasakan es batu yang sudah mencair dan mendinginkan telapak tangannya. "Manda lagi ada proyek besar di Surabaya, Ran. Dia baru mendarat sore tadi," jawab Denis tenang, meski di dalam hati ia merasa seperti sedang menginput data palsu ke sistem. "Surabaya lagi? Bulan lalu Singapura. Bulan sebelumnya London," timpal Bagas, rekan bisnis yang lain. "Lama-lama gue curiga, Den. Manda itu beneran tunangan lu atau cuma karakter chatbot AI yang lu kasih nama cewek? Soalnya, sejak tunangan dua tahun lalu, batang hidungnya nggak pernah mampir ke kumpul-kumpul kita." "Dia sibuk, Gas. Posisi Executive Manager nggak didapat cuma dengan ongkang-ongkang kaki," bela Denis, suaranya masih stabil, namun jari-jarinya meremas gelas kaca itu sedikit lebih kuat. "Ya, ya, kita tahu dia wanita karier hebat. Tapi masa buat reuni rekan bisnis calon suaminya besok malam dia nggak bisa?" Randy kembali memancing. "Hati-hati, Den. Di dunia kita, kalau barang nggak pernah dipajang, orang bakal mikir barangnya fiktif. Atau jangan-jangan ... lu cuma nggak laku?" "Aku curiga Denis penyuka batang." Rendy meneplak bahu Denis lumayan keras. Kembali, suara tawa memenuhi udara malam itu. Denis merasa harga dirinya yang setinggi 185 sentimeter itu perlahan menciut menjadi seukuran debu di karpet hotel. Ia adalah pria yang memegang kendali atas ratusan karyawan, namun di mata teman-temannya, dia hanyalah pria yang "dibuang" oleh kesibukan pasangannya sendiri. Begitulah Denis, merasa jadi sutradara hebat di film hidupnya sendiri, padahal dia hanya aktor figuran yang naskahnya sebentar lagi dibakar—atau setidaknya dilupakan—oleh Manda. Setelah pertemuan yang melelahkan itu berakhir, Denis berjalan menuju area parkir. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya. Ia segera masuk ke mobil, menutup pintu, dan terdiam sejenak dalam kesunyian kabin yang kedap suara. Ia mengambil ponselnya. Menatap layar kunci yang menampilkan fotonya dan Manda. Foto itu diambil setahun yang lalu, saat mereka merayakan hari jadi. Manda tampak cantik dengan gaun formalnya, tersenyum ke arah kamera, tapi matanya ... tampak seperti sedang memikirkan jadwal rapat berikutnya. Denis menarik napas panjang dan menekan nomor Manda. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua, barulah terdengar suara wanita yang terdengar terburu-buru. "Halo, Den? Aku baru mau masuk hotel ini. Ada apa?" Suara Manda terdengar datar, diiringi suara langkah kaki yang beradu dengan lantai marmer di seberang sana. "Manda, aku cuma mau memastikan soal besok malam. Reuni rekan bisnis itu ... kamu bisa datang, kan? Aku sudah pesan tempat untuk kita." Terdengar helaan napas di seberang sana. Jenis helaan napas yang membuat Denis tahu apa jawabannya sebelum kata-kata itu keluar. "Aduh, Den. Tadi klien dari Jepang baru saja minta pertemuan besok malam. Proyek ini krusial sekali untuk kuartal ini. Aku nggak bisa tinggalin gitu saja." "Cuma dua jam, Manda. Teman-temanku mulai menganggap kamu itu fiktif. Aku malu selalu datang sendirian dan dicerca pertanyaan yang sama setiap waktu," suara Denis sedikit meninggi, ada nada frustrasi yang mulai bocor. "Malu?" Manda berhenti melangkah, suaranya mendingin. "Sejak kapan kamu jadi sependek itu pemikirannya? Mereka itu cuma bicara, Denis. Kamu tahu aku kerja buat siapa, kan? Buat masa depan kita juga. Jangan kekanak-kanakan." "Masa depan apa kalau sekarang saja kita jarang punya waktu buat duduk bareng tanpa kamu pegang HP, Manda?" "Sudahlah, aku capek. Baru sampai hotel, mau mandi terus tidur. Besok pagi aku harus sudah di lokasi proyek jam tujuh. Kita bahas ini nanti saja kalau aku sudah di Jakarta. Oke? Love you, bye." Klik. Denis menatap layar ponselnya yang menggelap. "Love you," gumamnya sinis. Kata-kata itu terasa seperti stempel formalitas di atas kertas kontrak yang sudah kedaluwarsa. Ia melempar ponselnya ke kursi penumpang dan menyandarkan kepala ke kemudi. Di dalam kabin mobil yang sempit itu, Denis bisa merasakan kekosongan yang merayap. Manda adalah pelabuhan yang seharusnya ia tuju, tapi setiap kali ia mencoba berlabuh, pelabuhan itu selalu menutup gerbangnya dengan alasan renovasi karir. Hati Denis terasa seperti kertas putih yang mulai menguning, menunggu tinta baru yang tidak sekaku jadwal kerja Manda. *** Keesokan paginya di kantor, Denis masuk dengan wajah yang lebih kaku dari biasanya. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya hanya berani mengangguk singkat, takut terkena semprot sang Manajer HRD yang sedang dalam mode "badai". Ia duduk di kursinya, memandangi tumpukan dokumen. Pikirannya masih tertuju pada acara reuni nanti malam. Ia membayangkan Randy dan Bagas yang akan kembali menertawakannya. "Mana Nyonya Denis? Lagi rapat di Bulan ya?" Bayangan itu membuatnya mual. Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. "Masuk," ucap Denis singkat. Pintu terbuka, dan seorang gadis masuk dengan langkah ragu-ragu. Namanya Ica, sangat jelas di name tagnya yang bertuliskan huruf kapital. Dia adalah staf admin baru yang sedang dalam masa percobaan di bawah pengawasan langsung Denis. Tubuhnya mungil, tingginya mungkin hanya mencapai d**a Denis. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajahnya yang tampak segar. "Pak Denis ... maaf mengganggu. Ini laporan data lembur divisi housekeeping yang Bapak minta kemarin," suara Ica lembut, sedikit bergetar. Denis mendongak. Ia menatap Ica yang berdiri di depan mejanya. Ica mengenakan kemeja putih sederhana dan rok span hitam yang memperlihatkan kakinya yang jenjang meski tubuhnya kecil. Ada aroma samar dari tubuh gadis itu—bukan parfum mahal yang menyengat seperti milik Manda, tapi aroma yang lebih mudah dikenali. Aroma sabun mandi dan sedikit wangi peach yang lembut segar. "Taruh di meja," kata Denis, matanya tak lepas dari wajah Ica. Ica mendekat, meletakkan map cokelat itu di meja Denis. Saat ia membungkuk sedikit, Denis bisa melihat rona merah di pipi gadis itu. Ica tampak grogi, dan entah kenapa, kegrogian itu justru membuat Denis merasa ... berkuasa. Sesuatu yang jarang ia rasakan saat bersama Manda yang selalu dominan. "Ada lagi, Pak?" tanya Ica, ia mulai merasa risi ditatap begitu intens. Denis terdiam. Sebuah ide gila tiba-tiba melintas di kepalanya. Sebuah rencana yang melanggar semua aturan profesionalisme yang selama ini ia agung-agungkan. Tapi hatinya yang sakit hati dan egonya yang terluka butuh obat penawar segera. "Ica," panggil Denis, suaranya kini melunak, masuk ke frekuensi yang lebih berat. "I-iya, Pak?" Denis berdiri. Tinggi badannya yang 185 cm membuat Ica harus mendongak jauh untuk menatap matanya. Denis melangkah memutari mejanya, mendekati Ica. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa satu jengkal. Denis menatap manik mata Ica yang bulat dan jernih. Di sana, ia tidak melihat jadwal rapat atau target kuartal. Ia melihat kekaguman, rasa takut yang manis, dan sebuah kepolosan yang mengundang untuk dicemari. Denis merasakan sebuah sengatan di ujung sarafnya, sebuah gairah gelap yang mulai bangun dari tidurnya. "Kamu ada acara nanti malam?" tanya Denis, matanya menelusuri wajah Ica, berhenti sejenak di bibir tipis gadis itu yang sedikit terbuka. Ica mengerjapkan mata, bingung. "Nanti malam? Sepertinya tidak ada, Pak. Hanya rencana mencuci baju di apartemen kosan." Denis tersenyum. Senyum yang kali ini tidak kaku. "Lupakan soal mencuci baju. Saya butuh bantuan kamu. Ini tugas kantor, tapi... bersifat pribadi." "Tugas apa ya, Pak?" Denis sedikit menunduk, membuat wajahnya sejajar dengan telinga Ica. Ia bisa merasakan hawa hangat dari tubuh Ica dan aroma peach yang mulai tercium lebih jelas. "Saya butuh kamu untuk menjadi pendamping saya di sebuah acara reuni. Kamu hanya perlu bersandiwara menjadi tunangan saya selama dua jam. Bisa?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.3K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
3.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.3K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.1K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
6.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook