Bab 2. Sentuhan Kopi Ica

1476 Words
Ica tersentak kecil, tubuhnya refleks menegang. "Jadi ... jadi tunangan Bapak? Tapi, Pak Denis kan sudah punya Mbak Manda?" "Manda sibuk," potong Denis cepat. "Dan saya lelah menjadi bahan tertawaan. Saya akan bayar kamu. Anggap saja ini lembur spesial." Ica terdiam. Ia menatap mata Denis yang tampak penuh permohonan di balik tatapan dinginnya. Ada sesuatu dalam suara Denis yang membuat Ica merasa dibutuhkan, sesuatu yang jarang ia rasakan sebagai orang baru di kota ini. "Tapi saya ... saya tidak punya baju bagus untuk acara seperti itu, Pak," bisik Ica pelan, kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini memerah hebat. Denis mengulurkan tangannya, jari telunjuknya mengangkat dagu Ica agar kembali menatapnya. Sentuhan itu singkat, dingin, tapi meninggalkan bekas panas di kulit Ica. "Soal itu, kamu jangan khawatir. Sore ini, setelah jam kantor selesai, kita akan melakukan 'bimbingan' singkat. Saya sendiri yang akan memilihkan apa yang pantas kamu pakai." Tangan Denis turun dari dagu Ica, tapi bayangan sentuhan itu seolah membekas seperti tanda permanen. Denis tahu ia sedang mengundang badai ke dalam hidupnya yang tertata. Ica adalah, sebuah risiko yang seharusnya ia hindari sebagai tunangan Manda. Tapi saat ini, ia tidak ingin menjadi kekasih. Ia hanya ingin menjadi seorang pria yang ingin membuktikan bahwa dia tidak pernah sendirian. "Jadi, bagaimana, Ica? Ini perintah atasan." Ica menelan ludah. Ia merasa seperti sedang melangkah ke sebuah ruangan gelap yang ia tahu akan sangat berbahaya, tapi rasa penasaran dan pesona Denis menariknya masuk semakin dalam. "Baik, Pak." ​Denis memperhatikan keraguan di mata Ica. Sebagai HRD berpengalaman, dia tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk mengunci kesepakatan. ​"Tapi ingat satu hal, Ica. Ini adalah lembur rahasia," bisik Denis pelan, nyaris seperti rahasia paling gelap yang pernah ia bagi. "Saya akan membayar gaji lemburmu lima kali lipat sebagai gantinya." ​Mata Ica berbinar sejenak mendengar tawaran itu. Di kepalanya, nominal angka langsung berputar, membayangkan berapa lembar uang yang akan ia dapatkan hanya untuk "berakting" selama dua jam. Uang itu bisa sangat membantu cicilan motornya bulan ini atau sekadar menambah tabungan di kosan. ​Mendadak, rasa takutnya menguap, berganti dengan hitung-hitungan logis yang menguntungkan. Ica otomatis mengangguk tanpa ragu. ​"Baik, Pak. Kalau begitu ... saya siap membantu." Denis tersenyum puas. "Bagus. Kembali ke meja kamu. Dan Ica ... jangan panggil saya Pak jika kita sudah di luar kantor nanti." "Lalu ... panggil apa?" "Panggil Denis. Layaknya seorang tunangan yang saling mencintai." Ica mengangguk pelan lalu berbalik dan keluar dari ruangan dengan jantung yang berdegup kencang. Sementara itu, Denis kembali duduk di kursinya, menyandarkan punggung, dan menatap langit-langit ruangannya. Begitulah awal dari sebuah audit yang melenceng. Denis merasa sudah mengatur semuanya dengan sempurna, tanpa menyadari bahwa dalam permainan hati, tidak ada SOP yang bisa menjamin keselamatan dari kehancuran. Malam itu, di bawah lampu kota Jakarta yang mulai menyala, sebuah sandiwara akan dimulai. Dan Denis tidak tahu, bahwa Ica bukan sekadar "perwakilan", melainkan awal dari sebuah candu yang akan membuatnya melupakan jalan pulang ke pelukan Manda. *** Pukul empat sore adalah waktu di mana energi para pekerja kantoran biasanya berada di titik nadir. Di kantor HRD, suasana terasa seperti kuburan yang dilengkapi pendingin ruangan. Denis menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, matanya menatap kosong ke arah cangkir kopi di atas mejanya. Kopi itu sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Ada lapisan tipis yang terbentuk di permukaannya—tanda bahwa cairan hitam itu sudah diabaikan pemiliknya selama lebih dari satu jam. Sama seperti hubungannya dengan Manda. Dingin, pahit, dan sudah terlalu lama dibiarkan tanpa pemanas. Denis meraih ponselnya yang tergeletak di samping cangkir. Tidak ada notifikasi panggilan tak terjawab. Hanya ada satu pesan w******p dari Manda yang masuk sepuluh menit lalu. Manda: Don't forget to pay the apartment's electricity bill. Aku nggak sempat cek m-banking hari ini, meeting-nya overload. Denis menghela napas. Jarinya bergerak mengetik balasan. Denis: Sudah aku bayar tadi pagi. Gimana Surabaya? Panas? Lima menit berlalu. Hanya centang dua biru yang muncul, tapi tak ada balasan. Denis bisa membayangkan Manda di sana, mungkin sedang berdiri di depan papan tulis putih atau menatap layar proyektor dengan rahang tegas, mengabaikan pesannya seolah itu hanyalah iklan operator seluler yang mengganggu fokus kerja. Sepuluh menit kemudian, barulah sebuah balasan masuk. Sangat singkat, dan sangat Manda. Manda: Hot. Busy. Talk later. Denis meletakkan ponselnya kembali dengan gerakan kasar. Itulah ringkasan hubungan mereka selama tiga tahun terakhir. Busy. Talk later. Seolah-olah "nanti" adalah sebuah waktu ajaib yang tidak pernah benar-benar datang. Begitulah Manda, wanita yang menganggap cinta adalah sebuah proyek jangka panjang yang bisa didelegasikan kepada waktu. Dia lupa bahwa perasaan bukan laporan tahunan yang cukup ditinjau sesekali. Dia merasa sudah memberikan segalanya, padahal yang dia berikan hanyalah sisa-sisa tenaga setelah diperas oleh ambisi. Denis bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah lobi hotel. Dari ketinggian lantai empat, dia bisa melihat hiruk-pikuk tamu yang masuk dan keluar. Perhatiannya teralih ketika melihat sesosok gadis kecil yang baru saja keluar dari lift lobi, berjalan terburu-buru menuju meja resepsionis dengan beberapa berkas di tangannya. Dia Ica. Gadis itu tampak kewalahan. Salah satu berkas yang ia bawa terjatuh ke lantai. Ica segera berjongkok untuk mengambilnya, namun kuncir kudanya ikut berantakan. Dari kejauhan, Denis bisa melihat Ica menggerutu kecil sambil mencoba merapikan rambutnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memeluk berkas-berkas itu. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di bibir Denis. Ada sesuatu yang sangat "manusiawi" dari kecerobohan Ica. Sesuatu yang sangat berbeda dari Manda yang bahkan helai rambutnya pun seolah-olah sudah diatur oleh tim kreatif agar tidak berantakan sedikit pun. Denis kembali ke mejanya, meraih gagang telepon kabel dan menekan nomor internal admin. "Halo, Ica?" "I-iya, Pak Denis?" suara di seberang sana terdengar sedikit terengah. "Laporannya sudah selesai? Saya lihat kamu baru saja dari lobi." "Sudah, Pak. Ini saya sedang menuju ruangan Bapak untuk menyerahkan berkas revisi dari Housekeeping." "Bagus. Langsung masuk saja." Denis menutup telepon. Ia merapikan kemejanya, memastikan tidak ada lipatan yang janggal. Ia sengaja membiarkan cangkir kopi dinginnya tetap di sana, sebagai pengingat akan pahitnya harinya. Beberapa saat kemudian, ketukan pelan terdengar. Ica masuk dengan wajah yang sedikit kemerahan, mungkin karena habis berlari kecil dari lobi. "Ini Pak, berkasnya," Ica meletakkan map di meja. Matanya kemudian melirik ke arah cangkir kopi Denis. "Eh, Bapak kopinya belum diminum? Sudah dingin itu, Pak." Denis menatap cangkir itu, lalu beralih menatap Ica. "Sama seperti harinya, Ca. Dingin." Ica terdiam sejenak, menatap Denis dengan ekspresi bingung sekaligus kasihan. Sebagai karyawan baru, dia belum terlalu paham cara menghadapi atasan yang sedang melankolis, tapi sisi wanitanya merasa tidak tega. "Mau saya buatkan yang baru, Pak? Di pantry tadi ada biji kopi baru kiriman dari vendor. Katanya lebih segar," tawar Ica tulus. Denis terdiam. Tawaran sederhana itu terasa lebih hangat daripada seluruh chat Manda dalam seminggu terakhir. "Kamu nggak sibuk?" "Eh, pekerjaan input data saya sudah selesai semua. Tinggal tunggu instruksi Bapak selanjutnya untuk ... tugas nanti malam," Ica merendahkan suaranya di kalimat terakhir, teringat akan "lembur rahasia" mereka. Denis menyandarkan tubuhnya, memperhatikan Ica. "Ya sudah, buatkan saya kopi. Tapi jangan terlalu manis. Saya sedang tidak ingin sesuatu yang palsu." Ica mengangguk semangat. "Siap, Pak Denis! Eh ... maksud saya, siap, Denis?" Ica mencoba mempraktikkan panggilan nama itu, tapi lidahnya masih terasa kaku. Wajahnya memerah saat menyadari betapa anehnya dia memanggil sang Manajer HRD dengan nama saja. "Biasakan, Ca. Nanti malam kalau kamu panggil saya 'Pak' di depan teman-teman saya, sandiwara kita hancur," Denis memperingatkan, namun ada nada bercanda di dalamnya. "Iya, Pak—eh, Denis. Maaf. Saya ke pantry dulu ya." Denis memperhatikan punggung Ica yang menghilang di balik pintu. Di dalam kepala Denis, suara-suara peringatan mulai bermunculan. Ia tahu ia sedang bermain-main dengan api di dalam gudang yang penuh bahan peledak. Tapi melihat binar mata Ica saat menawarkan secangkir kopi, Denis merasa seperti seorang petualang yang baru saja menemukan setetes embun di tengah gurun yang gersang. Ica bukan sekadar solusi untuk egonya yang terluka, dia mulai terasa seperti gangguan yang ia izinkan untuk menetap. Sepuluh menit kemudian, Ica kembali dengan cangkir putih yang mengepulkan uap hangat. Aroma kopi yang segar segera memenuhi ruangan, mengusir bau apek dari kertas-kertas lama. "Ini, Pak. Eh ... Denis. Silakan diminum selagi panas," Ica meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di depan Denis. Denis meraih cangkir itu. Uapnya menerpa wajahnya. Ia menyesapnya perlahan. Hangat, dan terasa pas. Tidak terlalu pahit, tapi punya karakter yang kuat. "Enak?" tanya Ica was-was. "Lebih baik daripada kopi mana pun yang pernah saya minum di kantor ini," jawab Denis jujur. Ica tersenyum lebar. Senyum yang begitu lepas sampai matanya menyipit. "Syukurlah. Kalau Bapak ... eh, kalau kamu suka, saya bisa buatkan setiap sore." Denis meletakkan cangkirnya. Kata "setiap sore" itu terdengar seperti sebuah janji jangka panjang yang sangat menggoda. Ia menatap Ica yang masih berdiri di depannya. Gadis itu tampak polos, tapi di mata Denis, ada sesuatu yang sangat berbahaya di balik kepolosan itu. "Ca, soal nanti malam. Kamu benar-benar bersedia? Saya tidak memaksa kalau kamu merasa tidak nyaman."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD