Ica memainkan jari-jarinya. "Awalnya saya takut, Denis. Tapi setelah Bapak ... eh, kamu bilang soal gaji lembur itu, saya rasa ini kesempatan bagus. Lagipula, saya cuma perlu menemani makan dan bicara sebentar, kan?"
"Lebih dari itu, Ca. Kamu harus bisa membuat mereka percaya bahwa kamu memang orang yang saya cintai. Kamu harus bisa membuat mereka iri karena saya memiliki kamu," Denis mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Ica sedikit mundur karena merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Denis.
Denis menatap leher Ica yang putih bersih, membayangkan bagaimana rasanya jika bibirnya mendarat di sana untuk menandai bahwa sandiwara ini memiliki harga yang mahal. Ia merasa denyut nadinya mulai berpacu lebih cepat. Setiap kali Ica bernapas, aroma peach yang segar itu seolah-olah merayap masuk ke dalam pori-porinya, mencemari logika yang selama ini ia agungkan.
"Gimana caranya supaya mereka percaya?" bisik Ica, suaranya nyaris hilang.
"Dengan sentuhan," jawab Denis pelan. "Saya akan sering merangkul kamu, memegang tangan kamu, atau mungkin ... mendekatkan wajah saya ke wajah kamu. Kamu tidak keberatan?"
Ica menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, suaranya berdentum di telinganya sendiri. "Asal ... asal jangan yang aneh-aneh ya, Denis?"
Denis tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat maskulin dan sedikit gelap. "Tergantung apa definisi 'aneh-aneh' menurut kamu, Ca. Tapi tenang saja, saya masih punya etika, sedikit."
Ponsel Denis kembali bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi muncul. Kali ini bukan dari Manda, melainkan dari grup chat rekan bisnisnya.
Randy: Don't forget tonight, Bro! Jangan lupa bawa 'hantu' tunangan lu itu. Kalau lu dateng sendirian lagi, mending lu duduk di meja anak-anak aja, soalnya meja orang dewasa cuma buat yang punya pasangan.
Denis membaca pesan itu dengan rahang yang mengeras. Ia menunjukkan layar ponselnya kepada Ica.
"Lihat ini? Mereka tidak akan melepaskan saya kalau sandiwara kita gagal. Jadi, pastikan sore ini kita beli baju yang paling pas untuk kamu. Saya ingin kamu terlihat seperti wanita paling berharga di ruangan itu nanti malam."
Ica membaca pesan itu dan merasa sedikit marah pada teman-teman Denis. "Mereka jahat sekali bicaranya, Pak ... eh, Denis."
"Begitulah dunia bisnis, Ca. Kejam. Kalau kamu tidak punya perisai, kamu akan habis dimakan." Denis berdiri, meraih kunci mobilnya. "Ayo. Jam kantor sudah mau habis. Kita mulai bimbingan pertama kita di mall."
"Sekarang?"
"Sekarang. Saya tidak ingin tunangan saya terlihat seperti admin yang habis lembur tujuh hari tujuh malam. Kita harus merombak penampilan kamu."
Denis berjalan menuju pintu, tapi ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Ica yang masih terpaku di tempat.
"Satu lagi, Ica. Mulai detik ini, lupakan kalau saya adalah atasan kamu. Di luar kantor ini, kamu adalah milik saya. Paham?"
Ica mengangguk pelan, seolah tersihir oleh otoritas dan ketampanan pria di depannya. Ia mengikuti langkah Denis keluar ruangan, meninggalkan kopi dingin yang dipesankan Manda yang terlupakan dan menggantinya dengan harapan baru yang masih mengepul hangat di hatinya.
Begitulah Denis, ia sedang mencoba menukar kopi dinginnya dengan cokelat panas yang manis. Ia merasa sedang memegang kendali atas semua skenario ini, tanpa menyadari bahwa dalam setiap sandiwara yang melibatkan hati, aktor utamanya seringkali menjadi orang pertama yang lupa bahwa semua itu hanyalah akting.
Mereka berjalan menuju lift. Di dalam ruang sempit lift yang berdinding cermin itu, Denis bisa melihat pantulan mereka berdua. Denis yang tinggi besar dengan balutan jas yang kaku, dan Ica yang mungil dengan wajah penuh antisipasi.
Sentuhan Ica nanti malam akan menjadi candu yang mulai Denis rencanakan sejak sekarang. Seperti tinta hitam yang siap mengotori kertas putih pernikahannya, Denis sudah tidak sabar untuk melihat sejauh mana noda itu akan menyebar.
***
Pusat perbelanjaan di pusat kota Jakarta pada jam pulang kantor adalah gedung beton yang penuh dengan manusia-manusia yang lelah. Namun, bagi Denis, mall ini terasa seperti medan tempur di mana ia harus membentuk "senjata" barunya. Ia berjalan tegap, langkahnya panjang dan berwibawa, sementara Ica mengekor di belakangnya seperti anak kucing yang takut kehilangan induk.
Denis berhenti di depan sebuah butik kelas atas. Cahaya lampu butik itu memantul di lantai marmer yang mengilap, membuat segalanya tampak mahal dan eksklusif.
"Masuk," perintah Denis singkat.
Ica menelan ludah, menatap label harga di gaun yang dipajang di manekin depan. Angkanya lebih besar dari total cicilan motor dan uang makannya sebulan. "Denis ... ini sepertinya terlalu mahal. Apa tidak ada tempat yang lebih ... biasa?"
Denis berbalik, menatap Ica datar. "Saya tidak sedang mengajak admin saya jalan-jalan, Ca. Saya sedang menyiapkan tunangan seorang Manajer HRD. Kamu harus terlihat seperti wanita yang tidak bisa dibeli dengan recehan."
Denis mulai menyusuri gantungan baju. Jarinya yang panjang dan bersih menyentuh helai-helai kain sutra dan brokat dengan teliti. Ica hanya diam, tangannya meremas ujung kemeja kantornya sendiri, merasa sangat kecil di tempat semewah itu.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Denis bergetar. Ia merogohnya dan mendengus pelan saat melihat nama pengirimnya.
Manda: Aku habis ketemu klien. Baru sempat mau makan siang malah. Capek banget.
Denis menatap pesan itu dengan tatapan sinis. Makan siang jam lima sore? Pikirnya. Ia bahkan tidak membalas. Ia hanya mendengus, sebuah suara yang penuh dengan kekecewaan yang sudah menumpuk jadi kerak. Baginya, keluhan Manda sekarang terdengar seperti rekaman rusak yang diputar berulang-ulang.
Denis sedang berdiri di depan ratusan gaun indah untuk wanita lain, sementara tunangan aslinya bahkan tidak punya waktu lima detik untuk bertanya apakah dia sudah sampai di rumah atau belum. Manda sibuk menaklukkan dunia, sampai lupa kalau istananya sendiri sedang disusupi "pencuri" kecil beraroma peach.
"Coba ini," Denis menyodorkan sebuah gaun berwarna merah marun dengan potongan off-shoulder yang berani.
"Ini ... bukannya terlalu terbuka di bagian atasnya, Denis?" Ica menerima gaun itu dengan tangan gemetar.
"Justru itu poinnya. Merah itu warna keberanian, dan potongan ini akan menonjolkan leher kamu. Cepat masuk ke ruang pas," perintah Denis tak terbantahkan.
Ica baru saja akan melangkah menuju ruang pas di bagian belakang butik, ketika tiba-tiba matanya menangkap sosok yang familiar di depan pintu kaca butik. Ada dua orang wanita dengan id-card yang masih menggantung di leher—rekan kerja mereka dari divisi Accounting.
"Mampus ... itu Mbak Maya sama Citra!" bisik Ica panik. Wajahnya pucat pasi. "Kalau mereka lihat kita di sini, besok satu kantor bakal tahu Pak Manajer HRD lagi belanja bareng anak magang!"
Denis menoleh cepat. Benar, dua penggosip kelas berat itu sedang berjalan mendekat ke arah butik ini. Tanpa pikir panjang, Denis meraih lengan Ica.
"Ikut saya!"
Denis menarik Ica dengan cepat menuju deretan ruang pas. Ia mendorong pintu salah satu bilik yang kosong dan masuk ke dalamnya, menarik Ica ikut serta sebelum mengunci pintunya dari dalam.
Klik.
Ruangan itu sangat sempit. Mungkin hanya berukuran satu kali satu meter, dengan cermin besar di satu sisi. Denis yang bertubuh 185 cm seolah memakan seluruh ruang yang ada. Ica terpaksa mundur hingga punggungnya menempel pada dinding cermin yang dingin.
"Denis ... sempit," bisik Ica, napasnya mulai tidak beraturan.
"Diam. Jangan bersuara," desis Denis. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ica.
Di luar, terdengar suara tawa dan langkah kaki Mbak Maya dan Citra yang masuk ke dalam butik. "Eh, lihat deh gaun ini, lucu banget ya buat party besok?" suara mereka terdengar sangat jelas karena ruang pas itu hanya dibatasi sekat kayu yang tidak sampai ke langit-langit.
Denis menempelkan tubuhnya lebih dekat ke arah Ica untuk memastikan bayangan mereka tidak terlihat dari celah bawah pintu. Ica terengah. Karena ruang yang begitu terbatas, d**a Ica yang berukuran cukup berisi itu kini tertekan kuat oleh d**a bidang Denis yang keras.
Ica bisa merasakan detak jantung Denis yang stabil namun kuat, sementara jantungnya sendiri terasa seperti mau melompat keluar. Tekanan itu membuat Ica merasa sesak, tapi di saat yang sama, ada sensasi panas yang menjalar dari titik sentuhan itu.
Denis menunduk, menatap Ica yang terhimpit di bawah ketiaknya. Dari jarak sedekat ini, aroma peach dari rambut Ica memenuhi rongga hidungnya, bercampur dengan aroma keringat tipis yang justru terasa sangat menggoda. Mata Denis jatuh pada bibir Ica yang gemetar, lalu turun ke bagian dadanya yang terhimpit kemejanya sendiri. Ada sesuatu yang asing dalam diri Denis yang meronta ingin dilepaskan. Ruangan ini terlalu sempit untuk dua orang, tapi terlalu luas untuk sebuah godaan yang sedang memuncak.
"Denis ... mereka masih di sana?" tanya Ica sangat pelan, nyaris seperti desahan. Ia mencoba bergerak sedikit karena merasa dadanya terlalu "digencet", tapi gerakannya justru membuat gesekan itu semakin terasa intens.
"Masih. Jangan bergerak," bisik Denis di dekat telinga Ica. Napas hangat Denis membuat bulu kuduk Ica meremang.
Tangan Denis tanpa sadar bertumpu pada dinding di sisi kepala Ica, mengurung gadis itu sepenuhnya. Paha mereka bersentuhan, kain celana bahan Denis bergesekan dengan rok span Ica, menciptakan listrik statis yang membuat suasana semakin "basah".