Denis keluar dari ruangannya, mendekati meja Ica.
"Ica, masuk ke ruangan saya sebentar," ucapnya parau.
"Saya, Pak?" ucapnya hati-hati.
"Iya. Manda sedang bertemu klien lagi di lobby." Alis Denis terangkat sebelah seolah mengatakan, 'Jangan khawatir, Ica.'
Ica masuk dengan kepala tertunduk. Begitu pintu tertutup, Denis tidak kembali ke mejanya. Ia berdiri tepat di depan Ica.
"Soal semalam ... dan soal tadi pagi ..." Denis memulai. Suaranya tidak lagi dingin. "Saya minta maaf sudah membiarkan kamu diperintah seperti itu oleh Manda."
Ica mendongak, matanya berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Pak. Saya memang staf admin. Itu tugas saya."
Pria dengan kumis tipis itu mengulurkan tangannya, gerakannya ragu sejenak, lalu ia meletakkan telapak tangannya di atas tangan Ica yang berada di sisi tubuhnya. Ini adalah sentuhan tangan pertama yang disengaja tanpa ada penonton, tanpa ada akting untuk Rendy.
Tangan Denis yang besar menyelimuti tangan Ica yang mungil. Terasa hangat dan posesif.
"Panggil saya Denis kalau kita berdua saja, Ca," potong Denis. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang kedap suara itu.
Pria tinggi itu melangkah maju, memangkas jarak hingga Ica bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang kini mulai bercampur dengan aroma kopi dan sedikit sisa wangi Manda yang tertinggal di ruangan itu. Ica mundur selangkah hingga punggungnya membentur daun pintu yang tertutup rapat, tapi Denis tidak berhenti.
Pria itu mengulurkan tangannya. Mmeraih tangan kanan Ica yang gemetar. Denis menggenggam jemari mungil itu, membawanya naik ke depan wajahnya.
Ica menahan napas. Matanya melebar saat melihat Denis menundukkan kepala.
"Saya tidak bermaksud menghina kamu dengan uang semalam, Ca. Saya cuma bodoh. Saya pikir angka bisa menutupi rasa bersalah saya karena sudah mencuri sesuatu yang bukan milik saya dari kamu," bisik Denis di depan jemari Ica.
Lalu, perlahan namun pasti, Denis memejamkan mata. Ia mendaratkan kecupan yang lama di punggung tangan Ica. Bukan kecupan singkat layaknya pria bangsawan, melainkan kecupan yang dalam, penuh penekanan, dan membuat jantung gadis itu merosot. Ica bisa merasakan hangatnya bibir Denis dan embusan napas pria itu di kulit tangannya.
"Terima kasih untuk semuanya, Ca. Benar-benar terima kasih yang ... mungkin berlebihan," gumam Denis tanpa melepaskan tangan Ica.
Ica hanya bisa mematung, suaranya tak bisa keluar seolah sudah habis tersedot kecupan sang atasan barusan.
Denis membalikkan tangan Ica, lalu mengecup telapak tangannya pula, tepat di titik nadinya yang sedang berdenyut kencang. Sentuhan bibir Denis di sana membuat lutut Ica terasa lemas.
Di dalam kepala Ica, segala kemarahan soal 'uang lembur' tadi malam menguap menjadi abu. Kecupan Denis di tangannya terasa lebih 'mahal' dari sepuluh kali lipat gaji manajer mana pun. Ia merasa seperti sedang ditandai, bukan sebagai staf maupun senjata bayaran, melainkan sebagai wanita yang diam-diam telah meruntuhkan pertahanan sang Manajer HRD yang dingin ini.
Denis mendongak, matanya yang gelap mengunci tatapan Ica. "Saya tahu ini salah. Saya tahu besok Manda mungkin akan menelepon lagi. Tapi untuk saat ini ... biarkan saya bersikap egois sebentar saja."
Ica hanya bisa terpaku. Tangan Denis yang satu lagi kini perlahan merayap naik, menyelipkan helai rambut Ica ke belakang telinga, jempolnya mengusap pipi Ica dengan sangat lembut.
"Jangan menangis lagi karena saya, Ica. Itu ... merusak pemandangan saya," bisik Denis dengan senyum miring yang tipis namun mematikan.
***
Pukul sepuluh pagi, dan kantor HRD terasa seperti arena pasar yang dipaksa tenang. Ica duduk di mejanya, jemarinya bergerak di atas keyboard laptop, tapi matanya berulang kali melirik pintu kaca ruangan Denis yang tertutup rapat. Di dalam sana, ada dua orang yang sedang menentukan masa depan, sementara di luar sini, Ica hanya mencoba bertahan hidup.
Sejak insiden "parfum peach" di ruangan tadi, Ica merasa setiap embusan napasnya dipantau oleh Manda. Wanita itu tidak lagi bicara padanya, tapi kehadirannya yang dominan di sofa ruangan Denis seolah menjadi garis pembatas yang sangat tebal.
"Ica, kamu oke? Muka kamu pucat banget," bisik Rani, teman semeja Ica, sambil menyodorkan sebungkus biskuit.
Ica tersentak, hampir menjatuhkan tetikusnya. "Eh? Iya, Ran. Oke kok. Cuma kurang tidur aja karena nyelesein laporan audit semalam."
Bohong. Ica bukan kurang tidur karena laporan. Ia kurang tidur karena setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakan hangatnya bibir Denis di telapak tangannya. Ia merasa seperti pencuri yang baru saja mendapatkan berlian paling mahal, tapi tak tahu harus menyembunyikannya di mana.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Denis terbuka. Manda keluar lebih dulu, disusul Denis di belakangnya. Manda masih sibuk dengan ponsel di telinga kiri dan laptop di tangan kanan.
"Den, aku harus ke Surabaya lagi pesawat jam satu. Berkas tadi sudah aku update, tolong dipantau ya. Jangan sampai ada staf kamu yang teledor lagi kayak tadi," ucap Manda ketus, matanya melirik sekilas ke arah meja Ica tanpa ekspresi.
Denis hanya mengangguk pelan. "Iya, Manda. Hati-hati di jalan. Perlu aku antar ke bandara?"
"Nggak usah, aku sudah pesan taksi online. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu yang menumpuk itu," jawab Manda. Ia mencium pipi Denis, kecupan singkat yang lagi-lagi terasa seperti transaksi ATM, wanita berambut pendek itu lalu melangkah pergi menuju lift tanpa menoleh lagi.
Denis menggelengkan kepalanya samar, kapan Manda akan bergelayut manja di dadanya? Mustahil. Itu hanyalah angan-angan dalam mimpi.
Suasana kantor mendadak kembali 'bernapas' setelah pintu lift tertutup. Denis berdiri di tengah ruangan sejenak, menatap ke arah Ica yang pura-pura sibuk mengetik. Denis menjaga jarak, ia tahu puluhan pasang mata staf HRD sedang menonton. Namun, tatapan mereka bertemu di udara selama tiga detik, tatapan yang penuh dengan kata-kata yang tak sanggup diucapkan di depan umum.
Denis berbalik dan masuk kembali ke ruangannya.
***
Ica menatap layar laptopnya yang menampilkan barisan angka audit yang membosankan, namun pikirannya justru berkelana ke tempat lain. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.
Ica menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Jujur saja, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada bagian dari dirinya yang sangat menikmati sandiwara ini. Siapa yang dia bohongi? Denis adalah definisi pria impian bagi wanita mana pun di gedung ini. Mapan, berwibawa, dan punya cara bicara yang sanggup membuat lutut terasa lemas.
Apalagi setelah malam reuni itu. Ica masih bisa merasakan sensasi jemari Denis yang merayap di tengkuknya, atau tatapan protektifnya saat Rendy berulah. Ica bukan wanita munafik. Di balik rasa takutnya, ada gairah yang mulai tumbuh subur. Dia merasa 'berharga' saat berada di dekat Denis, seolah-olah dia bukan lagi sekadar staf admin yang gajinya habis untuk bayar kosan dan cicilan motor. Di tangan Denis, dia merasa seperti wanita yang layak diperjuangkan.
Tapi kemudian, saat matanya melihat Manda tadi, Ica seperti diseret kembali ke tanah. Realita menghantamnya telak: Denis sudah 'dimiliki'.