bc

Touch of Sin: Terjerat Sentuhan Dosen Pembimbing

book_age18+
332
FOLLOW
3.1K
READ
one-night stand
teacherxstudent
fated
dominant
drama
bxg
campus
city
professor
like
intro-logo
Blurb

Serenea Elaris atau yang akrab disapa Nea, tak pernah menyangka bahwa pria yang pernah terlibat sebuah insiden 'satu malam' tak terduga dengannya-yang susah payah Nea hilangkan bayang-bayangnya, tiba-tiba muncul sebagai dosen pembimbing skripsinya.

.

Edgara Daskarendra, lelaki itu terlihat jauh dari yang pernah Nea temui 3 bulan lalu. Sikapnya terkesan dingin, berwibawa, dan nyaris tak menunjukkan bahwa mereka menyimpan satu rahasia yang sama.

Dan sialnya, waktu, ruang, serta status kini mempertemukan mereka kembali-dalam lingkaran yang rumit antara batas profesional dan desir yang tak bisa dimengerti.

.

Mampukah mereka menjaga jarak, ketika takdir justru memperdekat? Mampukah mereka tetap dalam porosnya, ketika temu justru membawa mereka pada batas yang lebih dekat dari yang seharusnya.

.

--------------------

All Right Reserved

Copyright ©2025

by Velvoura_nee

.

[Dilarang keras untuk mengcopy cerita ini sedikit, sebagian, bahkan seluruhnya tanpa seizin penulis!]

.

chap-preview
Free preview
0 | Prologue
Hari itu seharusnya berjalan biasa saja. Nea bahkan sempat bercermin dua kali sebelum keluar kosan, memastikan kemeja baby blue yang ia masukan ke dalam celana jeansnya rapi, rambutnya tertata—yang sengaja ia buat curly bagian ujungnya dan wajahnya cukup segar untuk bertemu dosen pembimbing pertama kali. Oh satu lagi yang tak boleh terlupakan. Lipstik berwarna pink soft favoritnya. Ia juga memastikan itu sudah on point di bibirnya. Tidak, tidak semata-mata untuk merayu dosen pembimbing seperti desas desus yang banyak ia dengar agar skripsi berjalan mulus. Serenea tidak sepicik itu. Ia hanya ingin terlihat rapi dan well to looks? Gadis cantik berusia 21 tahun itu kini siap menghadapi hari yang menurut beberapa mahasiswa fase skripsi adalah fase yang paling berat dalam dunia perkuliahan. Nea duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruangan 3.12 di mana ia dan beberapa mahasiswa lainnya akan melakukan sesi pertemuan pertama sekaligus langsung bimbingan dengan dospen pembimbingnya. Sesi itu dilakuan one by one yang membuat Nea sedikit gugup karena selain ini adalah first meet, berbekal informasi kecil yang Nea dapatkan dospemnya kali ini adalah sosok yang tegas, killer dan dingin. Nea bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan bagaimana jika ada kesalahan kecil dalam penulisan skripsinya. Apakah ia akan dicecar habis-habisan oleh sang dospem? Setelah menunggu sekitar 15 menit, kini giliran Nea untuk masuk. Ia merapikan barang-barangnya, membawa draft skripsi di dadanya dan melangkah masuk dengan perasaan yang tentu saja campur aduk. Namun, ia berusaha setanang mungkin. “Silakan duduk,” ucap pria di balik meja kayu itu. Suaranya dalam. Tenang. Berwibawa. Saat keduanya bertemu tatap, Nea membeku. Dunia terasa seperti dihentikan paksa. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik—atau mungkin lima? Tenggorokannya tercekat. Draft skripsi yang ia bawa mendadak jatuh ke lantai. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Itu dia. Pria itu. Dosen pembimbingnya ... Flashback Tiga bulan lalu... Musik berdentum di segala penjuru ruang. Lampu-lampu neon berpijar ungu dan merah muda, menyinari tubuh-tubuh yang bergoyang di antara asap vape dan gelak tawa. Nea berdiri di pojok, menatap minuman di tangannya dengan pandangan kosong. Gaun berwarna hitam yang membungkus tubuh indahnya mulai terasa tak nyaman. "Nea, minum aja. Santai dikit napa," seru Faya sambil menyodorkan gelas baru. Faya, teman sekelasnya sekaligus pemilik party malam ini. Dan ya, disini lah Nea sekarang. Disebuah caffee semi bar yang dijadikan tempat Faya merayakan ulang tahunnya. Nea menggeleng pelan. "Gue udah cukup, Fay." Disaat yang bersamaan, seseorang datang menyela. "Ntar bisa-bisa dia gak bisa pulang, Fay. Nea gak bisa minum banyak-banyak." Faya terkekeh. "Iya-iya. Ya udah pokoknya have fun ya, Ne. Gue nyapa yang lain dulu." Perempuan cantik itu berlalu dan menghampiri teman-teman sekelasnya yang lain juga beberapa mahasiswa dari kelas lain yang diundangnya. "Ini gak keras kok, cuma fruit punch." Kavin menyodorkan gelas berbeda. Senyumnya ramah seperti biasa. Namun, itu selalu membuat Nea tidak nyaman. Harapan di mata lelaki itu takkan pernah bisa Nea balas sampai kapanpun. Itu masalahnya. Nea mengambil gelas itu, dan meneguknya. Berharap mampu menghilangkan sedikit rasa tidak enak yang sedari tadi dia rasakan dari minuman alkohol yang sempat di minumnya. "Thanks, ya." yang langsung diangguki oleh Kavin dengan senyum yang sama. "Lo berangkat sendiri? Jua mana? Biasanya lo bareng terus sama dia?" tanya lelaki itu basa basi. "Iya. Tadi Jua katanya mau berangkat bareng Rega dan nawarin gue supaya bareng aja cuman nggak enak jadi gue berangkat sendiri." Kavin kembali mengangguk. "Kalau gitu nanti pulangnya bareng gue aja. Ya?" "Nggak usah, Kav. Gue nanti pulang sendiri aja. Gue gak mau ngerepotin lo," tolak Nea lembut. Dia tidak ingin terlalu banyak merepotkan dan menerima bantuan Kavin. "Ck! Sejak kapan sih lo ngerepotin gue, Nea? Dan lagian ya, kalau ceweknya elo, gue seneng aja lagi kalau di repotin." Nea membuka mulutnya, hendak menimpali ucapan Kavin namun tubuhnya mulai aneh. Kepala terasa melayang, tapi kulitnya justru panas seperti terbakar dari dalam. Napasnya memburu, dan jantungnya berdetak tak beraturan. Gerah. Sangat gerah. Ruangan mulai tampak berputar. Musik jadi terlalu bising. Lampu terlalu terang. Pandangannya mulai memburam. "Gue... gue mau pulang..." lirihnya. "Nea, are you okay?" Nea dengan cepat menggeleng. "Kav, gue—" Kavin yang tahu Nea sedang bereaksi langsung sigap. "Gue anter, ayo." Ia langsung memapah Nea keluar dari pesta, membawanya masuk ke dalam mobil sedan putih miliknya dan bergegas pergi. Kavin melajukan mobilnya membelah ibu kota dengan Nea yang kini berada di sampingnya. Ternyata Nea berekasi lebih cepat dari yang Kavin duga. Obat yang sebelumnya Kavin campurkan ke dalam minunan Nea benar-benar manjur. Ia tersenyum dalam hati. "Kav, Ac mobil lo mati apa? Gerah banget sumpah," ujar Nea yang kini mulai gelisah. "Kurang dingin emangnya ya?" Dan Nea mengangguk. Membuat Kavin menaikan suhu AC mobilnya. "Udah?" Nea menggeleng. Kavin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak sabar untuk cepat sampai dan melancarkan aksinya. Nea sudah di depan mata, tidak mungkin untuk dibiarkan begitu saja. Nea harus menjadi miliknya. Harus. Dan kesempatan ini akan Kavin gunakan dengan sebaik mungkin. Sekitar 15 menit, mobil sedan putih itu memasuki salah satu basement apartemen. Kavin keluar dan mengitari mobilnya, ia membuka pintu mobil samping dan mengajak Nea untuk keluar. Nea yang sudah setengah sadar pun hanya menurut saja. Keduanya berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya. Kavin menekan tombol menuju lantai delapan. Nea bersandar di dinding lift, tubuhnya semakin melemas, keringat mengalir deras dari pelipis ke leher. Napasnya terengah. Begitu pintu lift terbuka, Kavin mendadak berhenti. Seseorang dari pihak apartemen menghubunginya. "Shit... mobil gue kesenggol. Gue ke basement dulu ya. Lo tunggu sini sebentar." Sebelum Nea sempat menjawab, Kavin sudah lebih dulu pergi meninggalkannya sendirian di lorong apartemen. Ia bersandar di dinding, tubuhnya semakin panas, tangannya menggenggam kusut bagian bawah dressnya, mencoba mencari keseimbangan antara dinginnya lantai dan panasnya tubuh. Suara langkah terdengar dari arah lift yang baru saja kembali terbuka. Seseorang keluar dari dalamnya. Pria tinggi, mengenakan kemeja hitam yang lengan atasnya digulung, beberapa kancing kemejanya sudah terbuka serta jas dengan warna senada yang ia bawa di tangan. Pria itu berhenti begitu melihat sosok Nea. "Kamu kenapa...?" tanyanya, suaranya rendah dan berat. Matanya menatap Nea dengan cemas namun tetap tenang. Nea berusaha bicara, tapi yang keluar hanya desahan pelan. "Gerah... aku... panas banget... tolong..." Pria itu mendekat, berjongkok di hadapannya. "Kamu mabuk? Kamu habis minum sesuatu?" "Nggak tahu... tubuhku rasanya ada yang aneh... aku nggak ngerti... tolong..." Suaranya gemetar, tubuhnya nyaris jatuh. Shit! Siapa pria b******k yang melakukan ini padanya! Cela pria itu dalam hati. Tanpa banyak bicara, pria tersebut meraih bahunya, mengangkat tubuh Nea perlahan. Nea tidak melawan. Meski ia tidak tahu siapa pria yang bersamanya kini, tapi ia merasa aman. Pelukan itu dingin. Stabil. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik-atau mungkin itu hanya efek dari obat yang terus bekerja? "Dimana unit apartemen kamu?" tanyanya. Membuat Nea menggeleng. "Unit? Aku nggak punya apartemen. Aku nggak tinggal di apartemen," terangnya susah payah. "Ok, kalau gitu di mana rumah kamu?" dan Nea kembali menggeleng. Ia menggumam. "Nggak tahu. Lupa. Bisakah kita nggak bahas itu sekarang? Aku beneran kepanasan ..." Tidak ada pilihan lain, pria itu akhirnya membawa Nea ke unit apartemennya. Ia tahu keputusannya sangat beresiko dan berbahaya namun, ia akan mengurusnya nanti. Ia merebahkan tubuh Nea dan juga dirinya di sofa. Nea refleks menggeliat. "Aku nggak tahan... panas banget... tubuh aku... tolong..." ujarnya putus-putus, tangannya meraih tangan pria itu, mencengkeramnya erat. Matanya menatapnya dengan tatapan tolong. Ia tahu apa yang diinginkan oleh Nea. Ia tahu jelas apa yang terjadi pada Nea. Tapi mengikuti permintaannya, sama sekali bukan hal yang benar. "Tolong ...." "Nggak. Kita tidak saling kenal. Apa yang kamu inginkan sangat beresiko." Nea mencebik kesal. Ia benar-benar putus asa. Rasanya sangat menyiksa dan demi apapun ia hanya ingin disentuh sekarang. "Tolong ... lepaskan baju sialan ini. Ini sangat gerah. Tolong ..." wajah putus asa itu berhasil membuat Pria yang berada di samping Nea ikut putus asa. Sialan. Dia jelas pria normal dan ... "s**t. Baiklah." Ia mulai melepaskan kain yang membalut tubuh indah Nea dengan napas yang mulai tercekat. Melihat bagaimana tubuh itu terekspos sempurna, menyisakan pakaian dalam dan sesuatu yang menyembul dibalik bra-nya. "Sentuh aku, kumohon ..." pintanya putus asa sambil meletakan tangan lelaki itu di d**a Nea. "Kamu—" "Tolong. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Ia sungguh gamang saat ini. Di satu sisi, mereka bahkan tidak saling mengenal. Akan sangat beresiko untuk masa depan gadis itu nantinya. Namun di sisi lain, ia juga pria normal yang ketika disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan seperti di hadapannya kini, tentu lah membuat sisi liarnya meronta. "Aku—" belum selesai berucap, Nea lebih dulu membungkam bibir pria itu dengan bibirnya. Melumatnya dengan asal dan tidak sabaran. Terlihat sangat payah dan amatir. "Sial. Dia benar-benar cari masalah!" ucapnya dalam hati. Apalagi ketika tangan mungil Nea yang entah sejak kapan berada di kemejanya dan membuka seluruh kancing yang tersisa. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Nea. Membuat lumatan itu terlepas. Dipandangnya lekat gadis di hadapannya. "Kamu yang meminta dan kamu juga yang memulai. Kamu akan menyesalinya. Kamu yakin?" "Ya." Ia meraih tubuh Nea, membawanya ke salah satu kamar dan langsung menindihnya di atas tempat tidur. Bibir keduanya kembali bertemu. Pelan. Ragu. Lalu semakin dalam. Gairah yang kini bukan hanya milik Nea tapi juga dirinya. Panas membakar tubuhnya. Bibir Nea terasa kenyal dan manis. Rasa yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lengkuhan gadis itu ketika ia menyentuh dadanya—yang sialnya ia sukai benar-benar telah merenggut pikiran jernihnya. Membangkitkan sepenuhnya sisi liar dari seorang pria dewasa. Ia mulai melepaskan pakaiannya satu per satu, pun sisa pakaian yang ada di tubuh Nea. Menyaksikan bagaimana tubuh gadis itu terekspos sempurna. Menarik, menggoda, dan panas. Ia berada diantara dua paha Nea yang terbuka, mencondongkan tubuhnya menghimpit tubuh mungil Nea, kembali melumat bibir gadis itu. "Aku tidak akan berhenti. Dan kamu tidak bisa mundur lagi," bisiknya. Ia mulai memasuki inti Nea, perlahan, mendesaknya pelan. Tubuh Nea melengkung refleks, gadis itu menggigit bibir bawahnya berusaha menahan suara. Rasa asing, nyeri, dan penuh memenuhi diri Nea secara bersamaan. Dan dalam satu hentakan, benda itu terasa masuk seoenuhnya dan memenuhi inti Nea, membuat Nea melepaskan lengkuhan yang sejak tadi berusaha ditahan. Ia tidak bergerak, membiarkan tubuh mereka terbiasa, membiarkan Nea beradaptasi sebelum akhirnya perlahan mulai bergerak dalam ritme yang terukur. "Eummmh ahhh ..." Erangan dan desahan pelan keluar dari tenggorokan Nea, bercampur napas terengah dan suara tubuh yang bersatu dalam malam yang panas. Tidak ada kata-kata lagi—hanya desahan, sentuhan, dan pandangan yang saling mengunci dalam cahaya kamar yang temaram. Malam itu menjadi batas, sekaligus awal dari sesuatu yang tak bisa mereka tarik kembali. Dan yang pasti, malam itu berubah menjadi sesuatu yang tak pernah direncanakan oleh keduanya. Dan sejak malam itu, mereka tak pernah bertemu lagi-hingga hari ini. Nea tidak pernah mengharapkan hari ini ada, hari ini tiba. Susah payah ia melupakan kejadian yang terus membayanginya itu, dan kini ia harus kembali berhadapan dengan pria kala itu lagi? Dan pria itu, yang saat ini menjadi dosen pembimbingnya sendiri—Edgara Daskarendra—menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu kenapa?" tanyanya datar. Pertanyaan itu berhasil menarik Nea kembali pada kesadarannya. "Ah. Nggak. Nggak apa-apa, Pak." Ia meraih draft skripsi yang sempat terjatuh. "Maaf, Pak. Maafkan saya." kemudian duduk pada kursi yang tak jauh dari posisinya berdiri. Nea menggenggam bagian draft skripsi yang berada di pangkuannya erat. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Wajah itu... suara itu... tubuh itu... Dia di sini. Dosen pembimbingku. Pria itu... Kenapa dia bisa setenang itu? Sementara aku... aku bahkan hampir tak bisa menatap matanya. Ya Tuhan... kenapa harus dia? Kenapa dari semua orang yang mungkin ada di dunia ini—harus dia? Jangan tanya bagaimana perasaan Nea saat ini. Campur aduk, tentu saja. "Senang bertemu kembali." ada sedikit jeda, sebelum pria di hadapannya kembali bersuara. "Serenea Elaris," ucapnya dengan ekspresi wajah yang datar namun cukup membuat Nea mengerti. Ini, tidak akan mudah. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.0K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.2K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
5.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.7K
bc

After We Met

read
188.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook