1 | Pertemuan yang Tak Terduga

1744 Words
Kafe kecil di pojok kampus sore itu terasa lebih bising dari biasanya, meski Nea sendiri tak benar-benar mendengar apa pun. Suara mesin kopi, obrolan mahasiswa lain, bahkan alunan musik akustik yang biasanya menenangkan-semuanya seperti tenggelam di balik pikirannya yang penuh. Di depannya, Jua masih menatap dengan ekspresi campur aduk.antara syok dan bingung. "Ne, ulangi lagi," kata Jua, matanya membulat penuh antisipasi. "Yang jadi dospem kita itu... siapa?" Nea menarik napas, pelan, dalam, lalu menatap sahabatnya yang duduk di seberangnya. "Masa harus gue ulang buat yang ke 8 kalinya sih, Jua...." Sejenak Jua terdiam, seperti masih butuh waktu untuk mencerna. Sesaat kemudian, ia bersuara. "Ne, sumpah ya, kisah lo tuh kayak karakter utama di novel-novel tau gak, sih. Terlibat insiden satu malem sama orang yang gak dikenal, terus tau-tau orangnya dosen bimbingan sendiri. Terus dospemnya ganteng lagi. Terus kalian terlibat—" “Juaaaaaa,” desis Nea. Tapi Jua malah makin semangat. “Gila sih, ini plot twist. Aku pikir dia cuma cowok ganteng random yang muncul sekali terus hilang. Ehh taunyaaaa ....” “Ck! Ini semua gara-gara si Kavin sialan! Kalau bukan karena dia yang nyampurin sesuatu di minuman waktu itu, gue gak bakal ketemu Pak Daska, gak bakal minta tolong dia, gak bakal kejadian—Aaaaaaa Juaaaaaaa....” Nea menelungkupkan kepalanya di meja. Membuat Jua iba dan menepuk-nepuk pucuk kepala Nea lembut. "Gue ngerti, Nea. Tapi coba deh lo bayangkan kalo sampe si Kavin itu gak ninggalin lo di lorong apartemen, apa gak lebih ngeri kejadiannya? Lo sama dia—Ahhh nggak bisa, nggak bisa, Ne. Gue lebih gak bisa bayangin!!!!" Mendengar hal itu, Nea semakin memelas dan terlihat lebih mengenaskan. Benar yang dikatakan oleh Jua. Kalau sampai saat itu Kavin nggak meninggalkan dia di lorong apartemen, kejadiannya pasti akan berbeda dan Nea tidak sanggup jika harus membayangkannya lebih jauh. "Terus menurut lo, gue harus bersyukur gitu?" gerutu Nea. Tak habis pikir dengan isi kepala Jua. Jua nyengir. "Yaaa, enggak juga sih Ne. Tapi ya Ne, astaga... kalau bener orangnya pak Daska, oh my god ... lo tahu kan semua anak kampus heboh ngomongin dia. Dosen baru, pinter, masih muda, terus—ya ampun Ne, lo tahu kan dia tuh kayak versi akademik dari tokoh utama webtoon?" Nea hanya bisa memelas mendengar ocehan Jua yang sama sekali tidak membantu itu. "Tapi lo inget jelas dia waktu malam itu? Maksud gue lo kan posisinya mabuk dan yaaa you know lah ..." "Banget." Nea menghela napas. "Gue bahkan bisa gambar ulang bentuk rahangnya dari ingatan." Jua tertawa, tapi cepat-cepat menutup mulutnya. "Sorry, sorry. Ini serius. Tapi ya... gila sih." "Dia juga kayaknya inget gue." Nea menggigit bibir bawahnya. "Dia gak mungkin bilang senang bertemu lagi kalau nggak inget gue kan, Jua?" "Oh my god! Seriously? Dia bilang gitu?" Nea mengangguk. "Terus... dia ngomong apa lagi?" "Nggak ada. Itu doang. Terus ya bahas skripsi gue." Nea meneguk lattenya yang hambar. Jua meletakkan dagunya di telapak tangan, menatap Nea lekat-lekat. "Nea, lo sadar nggak sih hidup lo mulai kayak fanfiction?" Nea melotot. "Ih! Gak lucu, Jua." Jua kembali nyengir. "Ngomong-ngomong bisa nggak sih ganti dospem? Minta tuker atau apa gitu ke kaprodi?" "Gue juga awalnya kepikiran gitu tapi kayaknya nggak bisa, deh. Sistemnya otomatis. Kecuali ada alasan darurat banget." "Ya ini darurat dong! Lo pernah... you know... dengan dia!" Jua berbisik dramatis." "Iya tapi kan gak mungkin juga gue ceritain yang sebenernya Juaaaa. Itu kejadiannya udah lama, sebelum dia jadi dosen di kampus kita juga. Dan lagi Jua keadaannya waktu itu gue yang minta, you got it, kan? Jadi nggak mungkin. Gue nggak mau masalahnya makin ribet apalagi klo sampe satu kampus tahu. Gak bisa bayangin gue ...." Jua menatap Nea nelangsa. Apa yang dibilang sahabatnya itu ada benarnya juga sedangkan dia sendiri tidak memiliki ide apapun saat ini. "Ne, gue jadi kepikiran sesuatu, deh. Menurut lo kenapa Pak Daska bilang kalau dia seneng ketemu lagi sama lo. Maksudnya apa coba?" Nea menggigit bibir bawahnya. Saat hendak bersuara, ponselnya lebih dulu bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor yang sempat ia simpan dengan ragu-ragu tadi siang-yang ia ambil dari grup bimbingan. Dosen Pembimbing 1 - Pak Edgara Daskarendra Kirimkan draft bab 1-mu sebelum jam 10 malam. Saya ingin tahu seberapa serius kamu. Dan saya harap... kamu lebih siap menghadapi saya dibanding terakhir kali kita bertemu. "What???" Nea membelalakan matanya tak percaya. Jua yang berada di sampingnya langsung mencondongkan tubuh, penuh rasa ingin tahu. "Kenapa? Ada apa? Pesan dari siapa?" Jua langsung mengambil alih ponsel Serenea, membaca cepat pesan itu. Lalu... "Astaga, yang bener aja. Eh tapi kok ini dia ngehubungin lo lewat pesan pribadi, sih? Bukan di grup?" Sesaat Nea tersadar. "Ponsel lo, Jua. Coba cek Pak Daska ada kirim pesan pribadi atau enggak?" Jua buru-buru mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Dan setelah di cek, tidak ada pesan masuk baik pesan pribadi ataupun grup di grup bimbingan dari Pak Daska. "Nggak ada," katanya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Nea. Nea kembali menggigit bibir bawahnya. Dia tidak berani menebak apapun saat ini. Jua meletakkan ponselnya dan kembali membaca chat yang dikirim Pak Daska di ponsel Nea. "Gila, sih. Tapi ya di samping apapun motifnya Pak Daska bersikap kayak gini ke elo, Ne, Dia tuh... Apa ya, ngasih perintah tapi sambil ngasih ancaman halus. Tapi kayak... halus yang seksi? Ngerti gak sih?" Nea mengangkat wajahnya, mata lebarnya menatap tajam. "Enggak ngerti dan gak mau ngerti. Gue panik, Jua! Jam 10? Tonight? Yang bener ajaaaaa ..." "Apa jangan-jangan dia suka sama lo lagi, Ne? Bisa jadi, kan? Nggak mungkin banget kalau dia nggak ada apa-apa sama lo, chatnya jalur pribadi gini ya, kan? Logikanya nih, klo Pak Daska gak ada maksud lain harusnya kan chat aja di grup? Berlaku buat semuanya. Lah ini, pesan pribadi. Fix, sih. Pak Daska pasti tertarik sama lo, Ne." "Juaaaaaaaaaaa ...." *** Jam sudah menunjukkan pukul 21.55 saat Nea masih duduk bersila di karpet, laptop menyala di depan mata, draft skripsi yang baru sempat ia poles seadanya terbuka di layar. Tangannya gemetar saat menekan ctrl+S untuk kesekian kali, meski tak ada perubahan berarti dari lima menit lalu. Jua yang memutuskan untuk menginap malam ini demi menenani Nea menyelesaikan revisinya, mengintip dari di balik guling dia tas tempat tidur Nea. “Udah mau jam sepuluh, Ne. Kirim sekarang, sebelum internet lo tiba-tiba drama.” Nea menoleh pelan, wajahnya datar tapi jelas sedang panik. “Kira-kira kalau gue kirim jam 10.01 dia marah gak, ya?” “Nea, dia tuh bukan cowok random dari dating app. Dia dosen. Dominan. Misterius. Dan kayaknya punya catatan mental tentang lo. Jadi jangan cari masalah,” ujar Jua sambil memijit pelipisnya. Dengan napas berat, Nea mengetikkan email itu. Judul: Draft Bab 1 – Serenea Elaris. Lampiran dicek ulang. Isinya? Ia bahkan udah lupa baca ulang. Tangannya sempat berhenti di atas touchpad. “Lagian ya, kenapa sih dia harus ngomong gitu… ‘lebih siap dibanding terakhir kali kita bertemu’? Gila, Ju, itu ancaman atau undangan?” “Menurut gue… dua-duanya.” Klik. Sent. Nea mendelik sinis. Sedangkan Jua hanya terkekeh pelan. Benar, kan? Tidak ada gunanya memang berbicara dengan Jua. Ia bersandar, menatap langit-langit kamar kos yang tiba-tiba terasa sempit. “Gue kayaknya gak akan bisa tidur malam ini, Jua...” Gadis dengan cepolan rambut berantakan itu segera membereskan laptop dan perintilan lainnya ke atas meja kecil yang biasa ia gunakan untuk mengerjakan tugas. Ia tidak ingin terlalu memikirkan bagaimana nasib draft bab satunya itu meski sebenarnya isi kepalanya sangat penuh dan riuh. Saat ini yang ingin ia lakukan hanya bergabung dengan Jua ke atas tempat tidur dan berusaha untuk tidur. Namun, baru saja menarik selimut, layar ponselnya menyala dan bergetar pelan. Nama itu—Pak Edgara Daskarendra muncul di layar. “JUAAA!” teriak Nea spontan, membuat ponsel Jua hampir saja mencium lantai karena tangan Nea yang menepuk-nepuk sembarangan. “Pak Daska nelpon. Aduh gimana, ini? Dia pasti mau ngomel-ngomel. Juaaaa, gue angkat atau jangan?” “Angkat lah! Gila! Mau jadi mahasiswa kurang ajar lo gak angkat telepon dosen?” sahut Jua yang juga setengah panik. Nea menatap layar ponselnya lekat sambil berusaha mengatur napasnya. Setelah tiga helaan napas, ia akhirnya menggeser tombol hijau, mengangkat telepon itu. “Halo… malam, Pak…” Suara di seberang terdengar tenang, namun terlalu jernih dan tajam. “Malam, Serenea. Sudah saya terima draft kamu.” Nea menelan ludah. “I—Iya, Pak…” “Jujur saja, ini di luar standar kepuasan saya terhadap mahasiswa bimbingan skripsi. Apa kamu membaca ulang sebelum mengirimnya?” Napas Nea tercekat. “Saya... saya sempat merevisi, Pak, tapi—” “Revisi tanpa arah. Alurnya masih berantakan. Argumen kamu lemah. Dan—saya tidak bisa membedakan mana kutipan dan mana opini pribadi. Ini bukan catatan harian, Nea.” Jua, yang mendengarkan dari dekat, membelalak. Nea memukul pelan paha Jua, menyuruhnya tidak bersuara sekecil apapun itu. “Bab 1 itu fondasi. Latar belakang kamu terlalu lebar, fokus masalahmu kabur. Kamu juga tidak menjelaskan urgensinya secara meyakinkan. Saya tidak akan bisa bimbing kamu kalau kamu sendiri tidak tahu kamu sedang menulis apa.” Daska kembali melanjutkan. “Kamu terlalu banyak memakai kutipan umum, dan pembukaan kamu tidak menunjukkan urgensi dari penelitian ini. Seolah-olah kamu hanya ingin menyelesaikan tugas, bukan menyelami masalahnya.” “Saya... saya akan revisi, Pak,” sahut Nea pelan. “Revisi bukan cuma soal mengganti kata, Serenea. Saya ingin kamu benar-benar memahami kenapa ini penting. Coba mulai dengan pertanyaan—kenapa mahasiswa zaman sekarang bisa merasa kesepian meski tiap hari terhubung lewat media sosial? Dari situ, bangun argumennya.” Nea mengangguk, meski tentu saja Daska tak bisa melihatnya. “Saya... akan perbaiki, Pak. Saya minta maaf.” Hening sebentar. Lalu suara Daska terdengar sedikit lebih rendah nadanya. “Saya bukan ingin menjatuhkan kamu, Nea. Tapi kamu tahu saya tidak bisa toleransi asal jadi. Kalau kamu ingin saya bimbing dengan serius, kamu juga harus serius.” “Iya, Pak…” “Saya tunggu versi revisi berikutnya. Lusa. Sebelum jam dua siang. Dan Nea...” Nea menggigit bibir bawahnya. “Ya, Pak?” “Jangan sampai kita ulangi kesalahan malam itu, lewat skripsi ini... atau hal lain.” Klik. Telepon terputus. Nea membeku. Jua menatapnya dengan mulut terbuka. “Nea... barusan dia ngomong... malam itu? What the actual—?” Nea masih terdiam. Matanya terpaku ke layar yang kini gelap. “Gue harus jadi orang baru mulai malam ini juga, Jua. Karena kayaknya... Pak Daska bukan cuma mau ngetes skripsi gue. Dia ngetes gue. Hidup gue!!!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD