9. Kehadiran Kakek Sastro

1032 Words
Tanpa sepengetahuan Aksara maupun Aluna, Kakek Sastro kembali datang ke rumah sakit itu. Kali ini hanya ditemani oleh pengawal sekaligus sopir pribadinya, tanpa pemberitahuan kepada siapa pun. Langkahnya memang tidak lagi sekuat dulu, tetapi tekadnya tetap tegak. Niat beliau sederhana yaitu menjenguk Pak Burhan, ayah Luna, yang kabarnya sudah menunjukkan perkembangan baik pasca operasi. Kakek Sastro berhenti sejenak di depan pintu kamar perawatan. Dari balik kaca kecil, ia melihat Pak Burhan yang terbaring dengan wajah lebih segar dibandingkan terakhir kali ia dengar ceritanya. Ada selang oksigen tipis, tetapi napas lelaki itu terlihat stabil. Di sisi ranjang, Luna tidak ada. Hanya Bu Wulan yang duduk sambil mengupas apel dengan gerakan pelan. Kakek Sastro mengetuk pelan sebelum membuka pintunya. "Biar aku saja yang masuk ke dalam. Kamu tunggu diluar," perintah beliau pada Ramdan, sang pengawal. Kakek Sastro berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan. "Selamat pagi, Pak Burhan ... Bu Wulan!" sapa Kakek dengan ramah seolah mereka adalah keluarga dekat. Jika Bu Wulan langsung menunjukkan raut tegang dan tidak suka, berbeda dengan Pak Burhan yang tampak terkejut. Pria paruh baya tersebut mengernyit, jelas mencoba mengingat wajah pria tua yang berdiri di hadapannya. “Maaf, Bapak siapa ya?” tanya Pak Burhan jujur dengan nada lirih. Bu Wulan yang berdiri di samping ranjang tampak gelagapan. Wajahnya menegang. Ia membuka mulut, tetapi kata-kata tak kunjung keluar. Kakek Sastro justru tersenyum ramah. “Saya Sastro. Kebetulan juga pasien di rumah sakit ini. Sering ketemu Aluna di koridor, jadi saya mampir menjenguk.” “Oh,” Pak Burhan mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak. Maaf kondisi saya masih begini.” “Tidak apa-apa,” jawab Kakek Sastro. “Justru saya senang melihat Bapak sudah jauh lebih baik. Aluna dan Bu Wulan merawat Bapak dengan sangat telaten.” Bu Wulan menatap Kakek Sastro, sedikit terkejut saat pria itu mulai memuji putrinya. “Aluna itu gadis yang baik,” lanjut Kakek Sastro tulus. “Jarang saya melihat anak seusianya setegar itu. Dia bertanggung jawab, berbakti, dan hatinya lembut.” Pak Burhan tersenyum samar. “Dia memang begitu sejak kecil.” “Bapak dan Ibu berhasil membesarkannya dengan baik,” ujar Kakek Sastro lagi. Pujiannya membuat Bu Wulan semakin tidak nyaman. Dadanya terasa sesak, bukan karena bangga, melainkan karena ia tahu siapa sebenarnya pria tua di hadapannya. Tak lama kemudian, Kakek Sastro pamit. “Saya tidak lama-lama. Bapak butuh istirahat. Semoga lekas pulih.” Kakek Sastro melangkah keluar kamar, dan Bu Wulan refleks mengikutinya. Mereka berdua berdiri di depan pintu kamar perawatan. Bu Wulan menarik napas panjang. “Pak Sastro.” Kakek Sastro menoleh. “Saya akan mengembalikan uang yang Bapak pinjamkan untuk biaya operasi suami saya,” ucap Bu Wulan tegas. Kakek Sastro menggeleng perlahan. “Tidak perlu, Bu. Saya ikhlas membantu. Begitu pula dengan Aksara.” “Justru itu yang saya tidak mau,” suara Bu Wulan bergetar menahan emosi. “Saya tidak mau punya utang budi pada keluarga Mahendra.” “Saya bahkan tidak ada niat seperti itu,” balas Kakek Sastro tenang. “Niat saya murni membantu.” “Dengan meminta imbal balik agar Luna menikah dengan cucu Anda?” Bu Wulan menatapnya lurus, tanpa gentar. Kakek Sastro terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Bu Wulan, saya akui memang ada permintaan seperti itu. Karena saya tahu Luna adalah gadis yang baik dan cocok untuk cucu saya.” “Tapi saya tidak setuju,” potong Bu Wulan cepat. “Sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan cucu Anda kembali merusak hidup putri saya.” Nada suaranya tajam. Luka lama kembali terbuka. Kakek Sastro menghela napas. “Bu Wulan, saya tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Tapi sebagai seorang kakek, saya jujur mengatakan jika saya tidak pernah percaya jika Aksara yang melakukan perbuatan hina pada almarhum putri Anda.” Wajah Bu Wulan mengeras seketika. “Aksara tidak mungkin sekeji itu,” lanjut Kakek Sastro. “Apalagi saat itu, yang saya tahu, Aksara dan Luna sedang menjalin asmara. Mana mungkin Aksa tega melakukan perbuatan asusila pada adiknya Luna." “Cukup,” Bu Wulan memalingkan wajahnya. “Bukti sudah cukup jelas bagi saya.” “Kejadian itu memang sudah lama,” kata Kakek Sastro lembut namun tegas. “Tapi bukan berarti keluarga Mahendra lepas tangan. Dari hasil penyelidikan polisi waktu itu, bukankah Aksara sudah dinyatakan tidak bersalah?” Bu Wulan tertawa kecil, getir. “Karena keluarga Anda punya banyak uang. Apa pun bisa dibungkam dengan uang.” Kakek Sastro menunduk sesaat. “Baiklah. Saya tidak akan memaksa Bu Wulan untuk percaya. Karena saya sendiri tidak berada di posisi Ibu saat kehilangan anak.” Bu Wulan terdiam. “Namun satu hal yang pasti,” lanjut Kakek Sastro, menatap lurus ke depan, “keinginan saya untuk menikahkan Aksara dengan Luna akan tetap saya wujudkan.” Bu Wulan menoleh tajam. “Apa?” “Aksara sudah setuju,” kata Kakek Sastro pelan. “Dan Luna, saya kira juga tidak akan punya banyak pilihan. Karena Luna sudah berjanji pada saya.” Jantung Bu Wulan berdegup keras. Tak ada kata-kata yang berhasil beliau ucapkan. “Jika begitu,” sambung Kakek Sastro sambil melangkah mundur, “saya permisi. Semoga Pak Burhan cepat sembuh.” Lalu kakek Sastro menatap pada Ramdan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Ayo, Ramdan. Kita pulang sekarang." "Baik, Tuan Besar." Dengan sigap Ramdan menuntun tuan besarnya meninggalkan Bu Wulan yang masih berdiri terpaku di koridor yang kembali sunyi. Bu Wulan mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak, matanya panas. Wanita itu menyadari satu hal yang membuatnya gemetar, pertarungan ini bukan lagi soal uang. Ini soal masa lalu yang belum selesai. Soal janji yang terucap tanpa seizinnya. Dan soal takdir yang kembali menarik Luna ke dalam pusaran keluarga Mahendra. Bu Wulan menutup mata. Beliau benar-benar ketakutan. Ada rasa tidak rela jika keluarga Mahendra akan kembali merenggut kebahagiaan keluarganya. Namun, Wulan juga tak bisa mengingkari jika berkat biaya yang diberikan Aksa suaminya bisa kembali sembuh. Bu Wulan mengusap air mata yang menetes sebelum kembali masuk ke dalam kamar. Dan benar saja, Pak Burhan langsung mengajukan tanya. "Bu, siapa sebenarnya Pak Sastro? Apa benar beliau hanya pasien di rumah sakit ini? Kelihatannya beliau adalah orang baik." Lidah Bu Wulan kelu, tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan pada suaminya tentang siapa sebenarnya pria tua bernama Sastro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD