8. Janji Aksa

1093 Words
Langkah Luna terasa berat saat memasuki kantor outsourcing tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir. Gedung itu sederhana, jauh berbeda dengan kemegahan Mahendra Sentra Utama, tetapi justru di sanalah Luna merasa aman. Tidak ada bayang-bayang masa lalu, dan juga tidak ada nama Mahendra yang menghantui setiap tarikan napasnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu ruang atasannya. Telapak tangannya berkeringat. Jantungnya berdetak cepat. Namun Luna tahu, jika ia tidak melakukan ini sekarang, ia akan semakin terjebak. Tok tok tok. Pintu ruangan ia ketuk hingga terdengar sahutan dari dalamnya. “Masuk.” Luna membuka pintu dan melangkah masuk. Pak Hendra, sang atasan menoleh dari balik meja kerjanya, sedikit terkejut melihat kehadiran Luna yang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Baru sekitar dua mingguan gadis itu mendapat tugas penempatan kerja di Mahendra Sentra Utama. Dan biasanya jika tidak ada laporan penting yang ingin disampaikan, mereka para pekerja outsourche tidak akan datang ke kantor utama. “Luna? Ada apa? Tumben tiba-tiba kamu datang tanpa pemberitahuan. Memangnya kamu tidak kerja hari ini?” tanyanya. Luna menarik napas panjang, lalu duduk dengan tangan saling menggenggam di pangkuannya. “Hari ini saya ijin datang terlambat, Pak, karena ada hal yang ingin saya bicarakan.” Pak Hendra mengernyitkan kening. “Kelihatannya penting sekali kalau saya lihat dari raut wajah kamu yang tampak serius begitu." Luna memang terkenal ceria, ramah, dan mudah akrab dengan orang lain. Lebih banyak tersenyum dan jarang menunjukkan wajah kaku dan serius seperti itu. “Saya … saya ingin meminta agar saya ditarik dari penempatan di Mahendra Sentra Utama,” ucap Luna akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegas. Pak Hendra mengernyit. “Ditari⁠k? Kenapa?” “Saya nggak bisa lanjut kerja di sana, Pak.” “Kenapa?” Pak Hendra bersandar di kursinya. “Bukankah gajinya lumayan? Banyak staf outsourcing lain justru berharap bisa ditempatkan di perusahaan sebesar itu.” Luna menunduk. “Iya, Pak. Saya tahu. Tapi, saya nggak bisa.” Jawaban itu jelas tidak cukup untuk membuat Pak Hendra langsung menyetujui permintaan Luna. Sebab ini semua menyangkut kredibilitas perusahaan. “Luna,” suara Pak Hendra sedikit berubah, lebih serius, “kamu tahu saya harus punya alasan yang jelas. Penempatan kamu baru berjalan. Kalau saya menarik kamu tanpa sebab yang kuat, itu bisa merusak reputasi kita di mata klien.” Luna mengepalkan jemarinya. “Saya paham, Pak. Dan saya tahu ini tidak profesional.” Ia mengangkat wajahnya, menatap Pak Hendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tapi saya benar-benar tidak bisa cerita sekarang. Saya mohon … mohon bantuan Bapak untuk mengganti saya dengan orang lain.” Ruangan itu hening beberapa detik. Pak Hendra menatap Luna lama. Ia mengenal gadis di hadapannya sebagai karyawan yang jarang mengeluh, selalu patuh, dan dikenal bertanggung jawab di setiap penempatan. Jika Luna sampai memohon seperti ini, pasti ada sesuatu yang serius. “Luna,” katanya akhirnya dengan nada lebih lembut, “saya tahu kamu gadis yang baik. Dan saya percaya kamu tidak akan meminta seperti ini tanpa alasan.” Luna menghela napas lega, meski hatinya belum tenang sepenuhnya. “Saya tidak akan memaksa kamu cerita sekarang,” lanjut Pak Hendra. “Tapi saya akan bantu menghubungi pihak HRD Mahendra Sentra Utama. Kita ajukan permohonan resmi.” Kedua mata Luna berbinar dan ada secercah harapan di sana. “Terima kasih banyak, Pak. “Tapi,” Pak Hendra menambahkan, “kamu juga doakan saja mereka tidak mempersulit. Perusahaan sebesar itu biasanya cukup ketat.” “Iya, Pak. Saya mengerti.” "Nanti saya akan kabari kamu lagi." "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Saat Luna keluar dari ruangan itu, langkahnya terasa gontai. Bukannya lega, justru kecemasan baru mulai merayap. Ia tahu, menarik diri dari Mahendra Sentra Utama tidak akan semudah yang ia bayangkan terlebih jika Aksara ikut campur. Dan benar saja. Di gedung Mahendra Sentra Utama, ruang HRD mendadak terasa tegang. Pak Hendra baru saja menelepon salah satu staff bagian personalia tersebut untuk menyampaikan perihal penarikan Luna dan Pak Hendra berjanji akan menggantikan dengan karyawan yang lainnya. Arsa Aluna, pegawai outsourcing yang baru dua mingguan penempatan di kantor ini. “Permohonan penarikan dari pihak outsourcing sudah masuk,” ujar salah satu staf HRD dengan nada ragu. “Alasannya bersifat personal dan tidak dijelaskan secara detail.” Kepala HRD menghela napas. “Masalahnya, Pak Aksara sebelumnya sudah meminta data seluruh karyawan termasuk outsourcing. Beliau pasti akan memperhatikan kasus ini.” Tak ada yang berani mengambil keputusan. Akhirnya, Kepala HRD berdiri. “Kita laporkan langsung ke Pak Aksara.” Tak lama kemudian, Pak Arif yang merupakan kepala HRD datang menghadap ke ruangan Aksara. Beliau menyampaikan maksud dan tujuannya. “Apa maksudnya Arsa Aluna diganti?” tanya Aksara dengan nada meninggi. Wajahnya dingin, suaranya datar namun jelas menyimpan ketegangan. “Kami menerima permintaan resmi dari pihak outsourcing, Pak,” jawab Kepala HRD hati-hati. “Mereka meminta penggantian personel.” “Alasannya?” “Bersifat pribadi, Pak.” Aksara mengernyit. “Pribadi?” Ia berdiri dari kursinya. “Dia sudah terlanjur masuk ke perusahaan ini. Sudah mengetahui sedikit banyak data legal dan dokumen penting. Apa kalian tidak curiga kenapa tiba-tiba dia minta diganti?” Aksara mengembuskan napas kasar. “Saya tidak setuju,” lanjut Aksara tegas. “Ini perusahaan saya. Dan saya tidak mau keputusan sepenting ini diambil tanpa kejelasan.” Ia menatap Kepala HRD lurus. “Pastikan Arsa Aluna menghadap saya langsung. Saya ingin mendengar alasannya dari mulutnya sendiri.” “Baik, Pak,” jawab Kepala HRD cepat. "Sekarang Aluna di mana?" "Tadi izin datang siang, Pak." "Jika dia sudah datang, minta dia ke ruangan saya." "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Pak Arif buru-buru keluar dari dalam ruangan Aksara. Entah kenapa Pak Arif sedikit ketakutan melihat Aksara dengan kemarahannya. Ya, begitu lah Aksara. Jika sudah menyangkut tentang karyawan, sedikit sensitif. Aksa terkenal loyal dengan para karyawannya tapi juga tidak akan ada kata ampun bagi karyawan yang menyepelekan urusan pekerjaan. Namun, apa yang Aksa sampaikan tadi memang masuk akal. Aluna sudah dua minggu berada di perusahaan ini dengan terikat perjanjian kontrak yang pasti tidak bisa sembarangan memutuskan secara sepihak. Tapi biasanya Aksa tidak pernah seikut campur ini dalam urusan karyawan dan entah kenapa beberapa hari yang lalu tiba-tiba pria yang merupakan CEO di perusahaan ini meminta data-data karyawan outsourcing. Sementara itu di dalam ruang kerjanya, sesaat setelah Pak Arif keluar, Aksara kembali duduk. Tangannya mengepal di atas meja. Luna ingin pergi. Dan ia tentu tahu apa alasannya. Ini pasti ada kaitannya dengan Kakek Sastro. "Tidak, Aluna. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi. Apa pun caranya, aku pasti bisa mendapatkanmu kembali. Dan akan aku pastikan hidupmu jauh lebih baik lagi sebagai penebus rasa bersalahku padamu selama ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD