7. Dilema Dua Orang Yang Terjebak Akan Kisah Masa Lalu

1057 Words
Bu Wulan yang tak lain adalah ibunya Luna, terduduk lemas di kursi, begitu Kakek Sastro dan Aksa meninggalkan tempat. Bahunya merosot dengan disertai napas yang berat seolah seluruh tenaga yang beliau miliki terkuras habis. Dan itu semua karena pertemuan tak terduganya dengan Aksara Mahendra. Luna mendekat, lalu duduk di samping ibunya. Jarak mereka begitu dekat, tetapi perasaan Luna terasa jauh dipenuhi rasa bersalah, takut, dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. “Bu,” suara Luna bergetar. “Maafkan aku." Gadis itu menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin. Bu Wulan tak menjawab. Luna kembali berucap, "Aku sungguh tidak tahu kalau cucunya Kakek Sastro adalah Aksa. Kalau aku tahu sejak awal, aku tidak akan pernah menerima bantuan apa pun dari beliau.” Bu Wulan menghembuskan napas panjang. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahannya dengan keras kepala. “Kita harus mengembalikan uang mereka, Luna.” Kalimat itu terdengar tegas, nyaris tanpa keraguan sama sekali. "Ibu tidak mau berutang apa pun pada keluarga Mahendra,” sambungnya. “Tidak sekarang. Tidak juga nanti.” Luna menelan ludah. “Tapi, Bu. Bagaimana caranya kita mengganti uang mereka?” “Terserah,” jawab Bu Wulan cepat. “Kita bisa jual rumah. Atau apa pun yang kita punya.” Luna menoleh cepat. “Bu, jangan begitu. Kalau kita tidak punya rumah, bagaimana dengan Bapak? Pasca operasi, Bapak butuh tempat tinggal yang nyaman. Dokter juga bilang, kondisi Bapak masih rentan.” Bu Wulan mengepalkan tangan. “Lalu menurut kamu apa pilihannya?” Nada suaranya meninggi. “Apa kamu mau hidup dengan dikendalikan oleh mereka?” Kepala Luna menggeleng cepat. “Tidak, Bu. Aku tidak mau.” “Lalu?” Luna terdiam. Dadanya sesak. Ia menunduk, menatap jemari ibunya yang terlepas dari genggamannya. “Bu, sebenarnya,” ucap Luna ragu, “aku dan Kakek Sastro waktu itu ada perjanjian.” Bu Wulan menoleh tajam. “Perjanjian apa?” “Kakek ingin menikahkan aku dengan cucunya sebagai kompensasi atas semua biaya yang telah mereka keluarkan untuk operasi dan perawatan bapak selama berada di rumah sakit ini." Wajah Bu Wulan seketika memucat. Tubuhnya menegang. “Dan kamu mau menikah dengan lelaki itu?” Nada suaranya berubah. Bukan lagi sekadar marah, melainkan luka lama yang kembali berdarah. “Lelaki yang sudah menghancurkan keluarga kita?” lanjut Bu Wulan dengan suara gemetar. “Lelaki yang membuat hidup kita jatuh sampai sejauh ini?” “Aku tidak tahu, Bu,” jawab Luna pelan. “Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.” Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh satu per satu. Luna menyeka pipinya yang mulai basah dengan punggung tangan. “Andai sejak awal aku tau jika cucu kakek adalah Aksara Mahendra, aku juga tidak akan semudah itu menerima tawaran yang beliau berikan." Luna menyandarkan punggungnya lalu memejamkan mata. Ini terlalu rumit. Dia menolak penawaran dokter Rafli karena tidak ingin menjadi istri kedua dan tidak mau menyakiti hati perempuan lain, tapi sekarang justru keputusan yang dia ambil malah menyakiti ibunya. Andai bapaknya tau jika biaya operasi yang menyelamatkan nyawa beliau berasal dari keluarga Mahendra, akankah bapaknya ikhlas menerima? Sungguh, Luna merasa sangat bersalah. ••• “Jadi, kamu sudah tahu sejak awal kalau gadis yang kakek maksud adalah Luna?” Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Kakek Sastro, setelah beberapa waktu yang lalu keduanya saling bungkam. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah cafe yang ada di depan rumah sakit. Tempat nyaman untuk mereka saling mengobrol dari hati ke hati. Aksa mengangguk tanpa ragu. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keyakinan. “Saat kakek menyebut nama Arsa Aluna,” ucap Aksa lirih, “saat itu juga aku tahu. Tidak mungkin ada dua Luna di hidupku.” Kakek Sastro menghela napas panjang. “Kalau begitu, kenapa kamu tetap membantu? Bahkan membayar lunas semua biaya tanpa bicara dulu pada kakek.” Aksa menatap lurus ke depan. “Karena aku tidak perlu berpikir dua kali, Kek, untuk membantunya.” "Apa kamu melakukan semua itu karena rasa bersalah?" "Sama sekali tidak." “Dan kalau kakek tahu sejak awal Luna adalah gadis dari masa lalumu,” suara Kakek Sastro sedikit bergetar, “mungkin kakek tidak akan memberikan penawaran itu padanya.” Aksa menatap lekat kakeknya. “Kenapa, Kek?” “Karena Luna gadis baik,” jawab Kakek Sastro jujur. “Dan kamu … kamu tidak mungkin kembali berhubungan dengannya. Apalagi sampai menikah.” Kalimat itu jatuh seperti palu. “Kenapa tidak mungkin?” tanya Aksa pelan, tapi tegas. Kakek Sastro memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Karena kakek tidak ingin kalian kembali terjebak pada masa lalu. Masa lalu yang hanya akan membawa masalah baru. Kakek tidak ingin luka lama terbuka.” Aksa mengembuskan napas panjang. “Maafkan kakek,” lanjut Kakek Sastro pelan. "Kakek tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang seharusnya berterima kasih,” sambung Aksa. “Karena kakek telah membuka jalan baru buat aku untuk kembali masuk ke dalam kehidupan Aluna.” “Aksa,” suara Kakek Sastro meninggi sedikit, “apa maksudmu?” Mata tua Kakek Sastro menyipit menatap wajah sang cucu dengan kebingungan. “Jangan bilang kalau kamu masih mencintai Luna,” ujar Kakek Sastro lirih, “setelah apa yang terjadi tujuh tahun silam.” Aksa tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu mengangkat wajahnya perlahan. “Kek,” katanya dengan suara yang nyaris bergetar, “sampai kapan pun rasa cintaku pada Luna akan tetap sama.” Kakek Sastro terdiam. “Karena dia adalah cinta pertamaku,” lanjut Aksa, “dan juga cinta terakhirku.” Kata-kata itu menggantung di udara. Kakek Sastro menatap cucunya lama, seakan mencari kebohongan di balik tatapan itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang bahkan waktu tujuh tahun pun tidak mampu menggerusnya. “Kamu tahu,” ucap Kakek Sastro akhirnya, “kakek tidak pernah menyalahkanmu sepenuhnya atas kejadian itu.” Aksa mengerjap. “Dan kakek juga tidak pernah menyalahkan Luna,” sambungnya. “Kalian tidak salah jika saling mencintai.” Aksa menggenggam tangannya erat di atas meja. Dadanya terasa sesak. “Yang salah adalah keadaan,” lanjut Kakek Sastro lirih. “Keadaan yang menghadirkan peristiwa itu. Keadaan yang memisahkan kalian dengan cara paling kejam.” Aksa memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia menahan diri untuk tidak marah pada siapa pun juga yang dulu pernah memfitnah dirinya. Bahkan hingga saat ini pun, belum ada kejelasan yang mampu ia berikan pada keluarga Luna meski itu hanya sekedar untuk membela dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD