Operasi berjalan lancar, sesuai dengan yang diharapkan. Aluna merasa lega seolah satu beban berhasil ia bebaskan. Semua berkat bantuan Kakek Sastro yang telah membuat semua jadi lebih mudah.
Begitu dokter berlalu dari ruang operasi, Aluna dan ibunya saling berpelukan. Tangis haru pun pecah, setelah beberapa jam menunggu dalam ketidakpastian akan kondisi bapaknya yang tengah berjuang di dalam ruang operasi.
Satu jam kemudian bapaknya dipindahkan ke ruang pemulihan. Selang-selang medis masih terpasang, wajah pria paruh baya itu pucat, tetapi dadanya naik turun dengan ritme yang stabil. Luna menatapnya lama, seolah baru sekarang benar-benar percaya bahwa bapaknya selamat.
Hari itu berlalu dalam kelelahan yang luar biasa. Luna hampir tidak tidur. Ia duduk di kursi rumah sakit, sesekali berdiri mengecek kondisi bapaknya, sesekali menatap kosong ke dinding. Pikirannya kembali terlempar akan satu hari sebelum operasi bapaknya dilakukan. Ketika pada akhirnya Luna mengetahui siapa orang yang telah membayar lunas biaya operasi bapaknya, sekaligus menyelesaikan semua administrasi rumah sakit selama bapaknya dirawat.
Untung saja Luna akhirnya berhasil menghubungi Kakek Sastro sehingga ketika hari ini bapaknya menjalani operasi, Luna cukup tenang dan lega.
Teringat kembali bagaimana kakek Sastro menelponnya.
“Kakek baik-baik saja, Luna. Jangan khawatir,” ucapnya waktu itu, seolah tahu isi hati Luna bahkan sebelum gadis itu sempat bertanya.
Barulah dari sana Luna tahu kebenarannya. Kakek Sastro mengakui bahwa dialah yang mengurus semuanya. Namun ketika Luna berulang kali mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar, kakek hanya tertawa kecil.
“Bukan kakek,” katanya pelan. “Kakek hanya perantara. Semua biaya operasi bapak kamu, cucu kakek yang sudah membayar lunas semua."
Deg. Sungguh makin tidak sabar saja Luna ingin bertemu dengan cucu kakek Sastro. Selain ingin berkenalan, Luna juga ingin mengucapkan rasa terima kasihnya. Sebab tanpa bantuan itu, Luna tidak tau apakah bapaknya bisa sembuh atau tidak.
•••
Satu hari pasca operasi, pagi itu suasana rumah sakit lebih tenang. Bapak Luna yang bernama Pak Burhanudin, masih belum sadar sepenuhnya, tetapi kondisinya sudah lumayan stabil. Luna sedang mengganti air minum di meja kecil ketika ibunya mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.
"Luna, ada tamu.”
Luna menoleh. "Tamu siapa, Bu?"
"Cari kamu. Pas ibu tanya katanya namanya Pak Sastro."
"Kakek Sastro?"
"Iya"
"Bu, beliau itu yang sudah bantu kita."
"Hah!" Ibunya terkejut karena jujur tidak menyangka ketika Luna mengatakan ada orang baik yang telah menolongnya dan meminjamkan uang untuk biaya operasi. Awalnya ibunya sempat ragu dan berpikir Luna berbohong. Bahkan sang ibu sempat punya pikiran jika sebenarnya Luna menerima bantuan dari dokter Rafli. Sebagai seorang ibu, tentu saja beliau tidak bodoh untuk bisa tau jika Dokter Rafli memiliki ketertarikan pada putrinya. Sayangnya dokter Rafli sudah punya istri sehingga beliau tidak ingin berharap lebih jika Luna dan dokter Rafli berhubungan lebih dekat.
"Iya, Bu. Beliau itu yang sudah meminjamkan uang padaku. Sekarang kakek ada di mana?"
"Ada di luar. Ayo kita temui."
Luna mengangguk. Dia pun keluar kamar karena tidak mungkin mereka mengobrol di dalam ruangan bapaknya. Pasti tidak diijinkan oleh suster.
"Kakek!"
Kakek Sastro yang tadi duduk kini berdiri menyambut uluran tangan Luna sembari senyum khas yang selalu membuat orang merasa segan.
"Luna, gimana bapak kamu? Kakek ikut senang mendengar kabar dari dokter jika bapak kamu berhasil dioperasi."
Mata Luna langsung berkaca-kaca.
“Kek,” suaranya nyaris pecah. “Terima kasih. Terima kasih banyak. Berkat kakek, operasi bapak bisa dilakukan dan berjalan lancar.”
Kakek Sastro menepuk kepala Luna lembut. “Sudah, sudah. Yang penting bapakmu baik-baik saja.”
Luna seolah baru tersadar jika di belakang tubuhnya ada sang ibu. "Kek, kenalkan. Ini ibunya Luna."
"Oh, senang bisa bertemu. Luna ini gadis yang baik, Bu."
"Terima kasih Pak karena sudah membantu keluarga kami"
"Sama-sama, Bu. Saya juga senang bisa membantu. Tapi ... sebenarnya bukan saya yang membayar semua biaya operasi bapaknya Luna. Tapi cucu saya."
Ibunya Luna menatap putrinya dengan kerutan di dahi. Jelas beliau baru tau akan hal ini. Lalu kembali menatap pada Kakek Sastro. "Benarkah? Sekarang cucunya di mana? Tidak ikut ke sini? Saya dan Luna juga ingin mengucapkan terima kasih padanya."
"Sebentar lagi juga ke sini. Tadi datangnya juga bareng saya tapi masih mampir ke toilet sebentar."
"Oh begitu."
Mereka pun pada akhirnya duduk di kursi depan kamar karena takut mengganggu Pak Burhan.
Belum sempat mereka mengobrol, langkah kaki terdengar mantap, diikuti aroma maskulin yang entah kenapa terasa familiar.
“Maaf, Kek. Saya kelamaan di toilet."
Suara itu. Tubuh Luna menegang. Ia menoleh perlahan. Dan dunia seperti berhenti berputar.
Pria itu berdiri di sana dengan canggung. Sorot mata tajam, rahang tegas, dan ekspresi tenang yang sulit ditebak.
Dia lah Aksara Mahendra.
Pria itu melangkah mendekat. "Tadi toiletnya ngantri."
Kakek Sastro tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Duduklah.”
Aksa duduk di kursi yang berseberangan dengan Luna. Jarak mereka tidak lebih dari dua meter, tetapi bagi Luna terasa seperti jurang yang dalam.
Luna terdiam dengan pandangan masih tertuju pada pria itu. Inginnya Luna tak percaya jika cucu yang kakek Sastro maksud adalah Aksa.
Bagaimana bisa ini semua tidak dia ketahui sejak awal?
"Luna, kenalkan. Ini cucu kesayangan kakek. Namanya Aksa."
Luna masih tak bergeming di tempatnya sebab rasa terkejutnya. Dan ternyata sang ibu yang duduk di sampingnya juga tak kalah terkejutnya.
"Sebentar," ucap beliau memperhatikan wajah Aksa lekat-lekat. "Kamu ... kamu Aksa Mahendra, kan?"
Aksa tak sanggup menjawab karena dia sudah menduga jika bertemu kembali dengan Luna dan keluarganya maka dia pun harus siap jika luka lama yang telah lama terkubur akan kembali naik dan mempengaruhi kehidupannya selanjutnya.
Aksa mengangguk ragu. "Benar, Bu. Saya ... Aksara Mahendra," jawabnya lirih tapi tegas.
Tubuh ibunya Luna bergetar hebat. Dan hal itu menarik perhatian Kakek Sastro.
Beliau menatap saling bergantian antara Luna, ibunya Luna, kemudian pada Aksa.
"Sebentar. Luna ... kalian sudah saling kenal rupanya?"
Bukan Luna yang menjawab, tapi ibunya. "Bukan hanya kenal. Tapi, dia lah orang yang telah menorehkan luka yang sangat dalam di keluarga kami. Dia juga yang telah merenggut kebahagiaan kami tujuh tahun silam!"
Deg.
Kakek Sastro mendongak menatap Aksa yang duduk dalam diam tanpa pembelaan. Kakek Sastro menatap Luna dan ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ternyata dunia ini tak selebar daun kelor. Dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia ini, kenapa harus dipertemukan kembali dengan orang-orang lama yang kembali hadir tanpa diminta dan dalam kondisi yang tak terduga.
Jelas kakek ingat peristiwa tujuh tahun silam yang menimpa cucu kesayangannya. Dan yang tak kakek habis pikir, ternyata Luna dan keluarganya yang tujuh tahun lalu bermasalah dengan keluarga Mahendra.
Sungguh kakek memang tidak pernah bertemu langsung dengan Luna dan keluarganya dulu karena beliau tidak mau ikut campur atas permasalahan yang menimpa sang cucu.
Tapi sekarang? Semua yang terjadi di dunia ini bukan tanpa alasan dan bukan karena kebetulan. Tapi karena ada campur tangan Tuhan di dalamnya dan kakek Sastro percaya itu.