Luna meremas jari jemarinya, gugup ketika melangkah menuju ruangan dokter Rafli. Iya, dokter Rafli kembali memanggilnya dan memintanya bertemu. Luna pikir, dokter Rafli akan menagih jawaban atas penawaran beliau tempo hari. Dan hingga detik ini, Luna belum memiliki jawaban yang pasti. Luna masih dilanda dilema sebab keadaan ini sangat lah rumit untuk dia jalani.
"Duduklah, Luna," ucap Dokter Rafli begitu Luna masuk ke dalam ruangan pria tiga puluh lima tahun itu.
"Terima kasih, dokter." Dengan pelan Luna menyeret kursi lalu duduk saling berhadapan dengan dokter Rafli.
"Luna, saya memanggilmu ke sini karena ingin menyampaikan jadwal operasi ayah kamu."
"Jadwal operasi, Dok?"
Dokter Rafli mengangguk. "Iya. Kami sudah menjadwalkan tiga hari lagi, asalkan kondisi ayah kamu stabil."
"Tiga hari?"
"Iya."
"Tapi, dok? Bukankah saya belum menjawab penawaran dokter tempo hari?"
Kening dokter Rafli mengernyit. Ada raut bingung yang sama seperti ekspresi Luna. "Loh, saya pikir kamu memang menolak tawaran saya, Luna."
"Menolak? Kapan saya melakukannya dokter?"
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya? Dokter kenapa malah membuat saya makin bingung. Jika operasi bapak sudah dijadwalkan, itu artinya saya harus menyiapkan semua biayanya kan, Dok?"
"Bukankah kamu sudah mendapat solusi mengenai masalah biaya operasi bapak kamu?"
"Hah! Solusi bagaimana?"
Melihat wajah Luna yang tampak benar-benar kebingungan, membuat dokter Rafli yakin jika ada sesuatu yang tidak beres di sini. Dokter Rafli meraih map di atas meja, membukanya, lalu menyodorkan beberapa lembar kertas ke arah Aluna.
"Aluna, seluruh biaya rumah sakit bapak kamu sudah dibayar lunas. Termasuk deposit untuk beberapa waktu ke depan selama beliau dirawat. Dan juga semua biaya operasi transplantasi ... juga sudah lunas dibayar."
Kata-kata dokter Rafli membuat kepala Aluna berdengung.
"Apa, dok?" napasnya tercekat. "Siapa yang melunasi, Dok?"
Dokter Rafli mengangkat bahu. "Kamu tanya saya?"
Aluna menelan ludah. "Memangnya bukan dokter?"
Dokter Rafli menggeleng pelan. "Bukan saya, Aluna."
Detik itu juga, ingatan Aluna terlempar akan sosok Kakek Sastro. Mengenai pembicaraannya dengan sang kakek beberapa hari lalu. Apa mungkin kakek Sastro yang telah membayar semua?
"Luna!" Suara dokter Rafli memanggil, menariknya kembali pada kenyataan.
"I-iya, dok?"
"Kami sudah tidak bisa mengulur waktu lagi. Kondisi bapak kamu butuh penanganan segera. Operasi harus segera dilakukan dan kami butuh persetujuan dari pihak keluarga pasien. Tolong tandatangani surat persetujuan ini," lanjut dokter Rafli sambil menyerahkan lembaran kertas.
Aluna menatap dokumen itu lama. Ia menghela napas panjang. Tangannya bergetar saat menerima pulpen. Ada rasa takut serta kecemasan yang tak bisa ia jelaskan. Namun, di atas semua itu ada satu harapan besar bahwa bapaknya bisa segera sembuh.
Dengan napas panjang Aluna menandatangani surat itu.
Keluar dari ruangan dokter Rafli, langkah Aluna terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena ia bisa menemukan jalan terang bagi kesembuhan bapaknya. Berat karena dia tau konsekuensi yang harus ia bayar mahal sebagai penebus semua biaya operasi bapaknya. Ya, Aluna siap atau tidak harus mau menikah dengan cucu kakek Sastro yang bahkan belum ia kenal dan belum ia ketahui seperti apa rupanya.
Tanpa pikir panjang Aluna langsung menuju kamar VIP tempat kakek Sastro dirawat. Dadanya berdebar penuh harap. Namun, sesampainya di sana, justru informasi dari perawat membuat tubuh Luna lemas seketika.
Menurut informasi yang Luna dapat, kakek Sastro sudah pulang dan meninggalkan rumah sakit sejak pagi tadi. Dan Aluna terlambat menemui. Harapan yang sempat menghangatkan dadanya perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Aluna pun tak hilang akal. Dia merogoh tas dan menemukan ponselnya. Mencari kontak telepon kakek Sastro. Nomor tersebut ia simpan sejak beberapa hari yang lalu untuk sekedar berjaga-jaga. Jarinya sedikit gemetar saat menekan tombol panggil.
Sayangnya nomor yang ia hubungi jutsru tidak aktif.
"Kok tidak bisa sih! Duh, aku harus mencari Kakek Sastro ke mana?"
•••
Esok paginya, tidak biasanya Aksara sudah berada di kantor pagi-pagi sekali. Sengaja pria itu melakukannya, berharap dengan kedatangannya ke kantor lebih awal bisa mempertemukannya dengan Aluna. Bahkan sengaja Aksara melarang Jodi menjemputnya sebab dia tidak ingin sang asisten curiga padanya. Dan seolah keberuntungan memang sedang berpihak kepadanya, ketika baru saja memasuki lobi netra Aksara langsung menangkap punggung kecil yang berjalan beberapa langkah di depannya. Rambut panjang yang digerai rapi serta kemeja polos yang jatuh dengan pas di tubuh mungil itu, sanggup membuat jantung Aksa berdetak tidak normal.
Pria itu mempercepat langkah kakinya, cukup agar jarak di antara mereka tak semakin jauh. Tepat ketika pintu lift terbuka, Aksara ikut melangkah masuk mengikuti para karyawannya. Beberapa karyawan pun menyapanya.
"Selamat pagi, Pak Aksa."
Sapaan itu membuat Aluna menghentikan langkahnya sesaat lalu menoleh. Matanya bertemu dengan Aksara hanya sepersekian detik. Tatapan Aluna datar, tanpa minat, tanpa rasa ingin tahu. Berbanding terbalik dengan Aksara yang justru tersenyum lebar, senyum yang jarang ia berikan kepada siapa pun di pagi hari. Aluna kembali memalingkan wajah melangkah ke pojok tanpa sepatah kata pun.
Beberapa pasang mata langsung bertukar pandang. Suasana mendadak canggung.
"Eum ... Pak Aksa," salah satu karyawan memberanikan diri bicara. "Maaf, ini lift karyawan. Lift direksi di sebelah."
Aksara menoleh, alisnya terangkat santai. "Kenapa memangnya?" tanyanya. "Saya nggak boleh ikut kalian memakai lift ini?"
Karyawan itu tercekat. "Bukan begitu, Pak. Maksud saya __"
"Ini perusahan saya," potong Aksa cepat. "Suka-suka saya mau pakai lift yang mana."
Tak ada yang berani menimpali lagi. Pintu lift menutup perlahan. Ruang sempit itu kini terasa semakin sesak, bukan karena jumlah orang melainkan karena keberadaan Aksara yang mendominasi.
Aluna berdiri di sudut, memandang lurus ke depan. Sementara Aksa berada di barisan depan. Punggungnya lebar dan tegap, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Aroma maskulin menguar di udara. Tak ada yang berani berkutik ketika lift mulai bergerak naik. Detik demi detik terasa lambat. Lift berhenti di satu lantai. Beberapa karyawan keluar dengan cepat, seolah ingin menghindari situasi yang terasa janggal. Tinggal beberapa orang di dalam. Ruang menjadi lebih lega, tapi ketegangan justru terasa lebih pekat. Aluna menatap angka lantai yang terus berubah. Ada tidak nyaman yang ia rasakan.
Lift kembali berhenti. Tinggal mereka berdua kini. Pintu belum terbuka sepenuhnya, namun udara di dalam terasa berbeda. Sama-sama canggung, tak ada obrolan seolah mereka berdua tak saling mengenal. Hingga lift berhenti di lantai yang Aluna tuju, begitu pintu terbuka Luna gegas keluar tanpa menyapa ataupun menolehkan kepala pada Aksara.
Pria itu tersenyum tipis, menatap punggung Aluna yang menghilang di balik pintu lift yang kembali menutup.
"Kira-kira gimana reaksinya jika tau akulah yang telah membayar semua tagihan rumah sakit bapaknya," gumam Aksa dengan pikiran penuh seputar Aluna.