4. Setuju Dijodohkan

1113 Words
Aksa memasuki kamar perawatan kakeknya dan hasilnya nihil. Tidak ada siapa pun di dalam kamar VIP tersebut. "Jo, kakek di mana? Kok kamarnya kosong?" Jodi bergerak menuju kamar mandi. Hasilnya sama saja. Tidak ada siapa-siapa. "Tuan besar juga tidak ada di sini, Pak." Panik, Aksa gegas mencari suster dan menanyakan perihal keberadaan kakeknya. Namun, tak ada satu pun yang tau ke mana perginya pria tua itu. Aksara mondar-mandir di depan pintu, rahangnya mengeras, jemarinya beberapa kali mengusap rambut dengan gelisah. Wajahnya jelas menyimpan kepanikan yang tak biasa. Di sudut ruangan, seorang suster tampak sibuk menelepon, suaranya dibuat setenang mungkin meski keringat di pelipisnya tak bisa disembunyikan. “Kakek ke mana?” tanya Aksara untuk kesekian kalinya. Nadanya tertahan, tapi jelas mengandung tekanan. “Kakek nggak mungkin keluar sendiri.” “Kami juga sedang mencari, Pak,” jawab suster itu gugup. Tiba-tiba Kakek Sastro muncul berjalan mendekat dengan langkah santai, wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Bahkan senyum tipis terukir di sudut bibirnya, seolah tak terjadi apa-apa. “Kakek!” suara Aksara langsung meninggi. Ia menghampiri dengan wajah antara lega dan kesal. “Kakek dari mana? Semua orang panik cari kakek sejak tadi!” Kakek Sastro mengibaskan tangan. “Apa sih. Kakek cuma cari angin sebentar di luar.” “Apa? Cari angin?” Aksara mendengus. “Yang ada kakek masuk angin. Malam-malam begini malah keluyuran. Kakek ini sadar nggak sama kondisi sendiri?” Kakek Sastro mendengus balik. “Cih. Cerewet sekali kamu sekarang.” Ia melirik ke arah suster. “Sudah, kamu balik kerja sana. Saya baik-baik saja.” Suster itu tampak ragu, menoleh pada Aksara seolah meminta izin. Aksara menghela napas berat lalu mengangguk kecil. “Iya. Terima kasih.” Begitu suster pergi, Aksa membawa kakeknya masuk ke dalam kamar. Jodi mengikuti di belakang mereka. “Kemarilah, Aksa,” ujar kakek Sastro sambil menunjuk sofa di dalam ruang perawatan. “Duduk. Ada yang mau kakek bicarakan.” Nada itu membuat langkah Aksara terhenti sesaat. Bukan nada bercanda. Ada keseriusan yang jarang terdengar. Aksara akhirnya duduk. “Apa lagi, Kek?” tanyanya hati-hati. Kakek Sastro ikut duduk, menyandarkan punggung. Tatapannya lurus ke depan. “Kakek mau kamu menikah.” Kalimat itu jatuh begitu saja, terdengar ringan diucapkan, tapi berat diterima oleh telinga Aksa. “Apa?” Aksara refleks berdiri lagi. “Kek, jangan aneh-aneh. Kita lagi di rumah sakit.” “Justru karena itu,” sahut kakek Sastro tenang. “Kakek nggak mau kelamaan menunda.” Aksara menggeleng cepat. “Nggak bisa. Kakek tau sendiri, aku nggak tertarik urusan pernikahan. Lagi pula, perempuan yang kakek maksud pasti hanya ingin morotin harta keluarga kita saja.” Aksa kembali duduk sembari mendengus lirih. “Hm.” Kakek Sastro menyipitkan mata. “Justru kakek yang menawarkan hartamu untuk dia habiskan.” Mata Aksara lagi-lagi membulat sempurna. Di sudut ruangan, Jodi terpaksa menunduk, bahunya sedikit bergetar menahan tawa. “Kakek, ini serius?” suara Aksara meninggi. “Sehebat apa perempuan itu sampai membuat kakek bertekuk lutut, menyerahkan cucu kakek yang tampan dan mapan ini begitu saja?” “Jangan besar kepala,” balas kakek Sastro datar. “Kamu tampan itu bonus. Tapi tetap saja menyebalkan.” Jodi kali ini gagal total menahan tawa. Ia langsung menutup mulut, pura-pura batuk. “Kek,” Aksara menghela napas panjang. “Perempuan seperti apa sih sampai kakek yakin begitu?” Kakek Sastro menoleh, sorot matanya melembut. “Sebenarnya dia gadis biasa. Sederhana. Bukan gadis kaya. Bahkan hidupnya jauh dari kata mudah.” “Lalu kenapa kakek mau menjodohkan denganku?” tanya Aksara curiga. “Zaman sekarang, orang baik itu jarang. Jadi kuharap kakek tidak sembarangan menjodohkan aku dengan perempuan yang entah siapa itu." “Kakek tau,” jawab kakek Sastro pelan. “Meski kakek belum lama mengenalnya, tapi kakek tidak akan salah pilih.” Aksara terdiam. Membiarkan sang kakek melanjutkan ucapan beliau. “Kakek lihat bagaimana dia menunggu bapaknya setiap hari setelah pulang dari bekerja,” lanjut kakek Sastro. “Bagaimana dia menahan capek, takut, dan putus asa sendirian. Gadis itu tidak meminta apa pun pada siapa pun. Bahkan saat kakek menawarkan bantuan, dia menolak.” Hening. “Kek,” Aksara mulai kehilangan nada sinisnya. “Namanya siapa?” Kakek Sastro tersenyum kecil. “Arsa Aluna.” Nama itu menghantam Aksara tanpa aba-aba. “Apa?” napasnya tercekat. “Kakek bilang siapa?” “Arsa Aluna,” ulang kakek Sastro mantap. Dunia Aksara seolah berhenti sesaat. Wajah gadis yang sejak hari ini kembali menghantui pikirannya muncul begitu jelas. Mata itu. Tatapan terkejut di lobi. Tubuh kecil yang nyaris terjatuh dan refleks ia tarik ke arahnya. Gadis yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa takdir mempertemukan mereka lagi setelah tujuh tahun lamanya. “Mustahil,” gumam Aksara. Jodi mengernyit, menatap Aksara bergantian dengan kakek Sastro. Dalam hati pria itu sedang bertanya-tanya, apakah yang dimaksud Tuan Besar adalah Arsa Aluna yang kerja di kantor mereka? Namun, untuk ikut ambil suara, Jodi tak berani melakukannya. “Kakek tidak memaksa,” lanjut kakek Sastro. “Tapi kakek yakin, ini bukan kebetulan. Gadis itu sedang berada di titik paling lemah hidupnya. Dan kamu … berada di posisi bisa menolong tanpa menghinakan.” Aksara mengangkat wajahnya perlahan. “Kalau aku menolak?” “Kakek akan cari jalan lain untuk menolong dia,” jawab kakek Sastro jujur. Aksara menutup mata sesaat. Arsa Aluna. Nama itu kembali berputar di kepalanya, membawa luka lama, rasa bersalah, dan sesuatu yang belum pernah benar-benar selesai. Aksa menyadari bahwa masa lalu tidak datang untuk ditolak tapi datang untuk diselesaikan. Aksa mengembuskan napas panjang. Seharusnya dia tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran kakeknya, akan tetapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. "Baiklah, Kek. Aku terima permintaan kakek." Wajah kakek Sastro berbinar. "Kamu serius?" Kepala Aksa mengangguk. "Aku serius. Tapi, apakah Aluna bisa menerima perjodohan yang kakek rencanakan ini? Aku tidak mau dia merasa terjebak dalam permainan ini." "Permainan apa maksudmu?" Kepala Aksa menggeleng. "Nggak ada." Kakek menghela napas panjang. "Kakek tidak rela saja jika Arsa harus menjadi istri kedua karena kakek yakin sekali di saat kondisinya terdesak pasti dia tak punya pilihan menolak tawaran dokter Rafli." "Maksudnya, Kek?" Lalu kakek menceritakan mengenai apa yang Luna ceritakan terkait penawaran dokter Rafli, dokter yang menangani pengobatan bapaknya Luna. Rahang Aksa mengeras. Sungguh dia tidak terima jika Luna jatuh ke tangan pria yang tidak tepat. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mendapatkan kamu kembali, Luna! "Kakek tenang saja. Malam ini juga aku akan menyelesaikan urusan administrasi serta membayar seluruh biaya operasi yang Luna butuhkan." Kakek Sastro tersenyum. "Terima kasih, Aksa. Kakek tau kamu pasti setuju dengan apa yang kakek mau. Besok kamu datanglah lagi. Kakek akan pertemukan kamu dengan Luna," ucap kakek tanpa tau jika sebenarnya Aksa dan Luna sudah saling kenal sejak lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD