Sastro Prawira Mahendra, atau yang lebih akrab disapa Kakek Sastro, telah melewati usia yang tak lagi muda. Mendekati kepala delapan, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Wajar jika beliau sering keluar masuk rumah sakit hanya karena tekanan darah yang naik, napas yang terasa berat, atau sekadar kelelahan. Namun ada satu hal yang membuat keluarga besar Mahendra kerap menggelengkan kepala adalah kecintaan kakek Sastro pada rumah sakit ini. Sejak dulu, sejak almarhum istrinya dirawat di tempat yang sama hingga mengembuskan napas terakhir, kakek Sastro seperti menambatkan sebagian jiwanya di sini. Rumah sakit ini bukan sekadar tempat berobat baginya, melainkan tempat kenangan berdiam. Itulah sebabnya, meski keluarga sudah berkali-kali membujuk agar beliau pindah ke rumah sakit yang lebih besar dan canggih, kakek Sastro selalu menolak. “Di sini kakek merasa nyaman,” begitu kata beliau.
Seperti halnya malam ini, kakek Sastro menempati kamar VIP lengkap dengan suster pribadi yang siaga dua puluh empat jam. Kondisinya sudah jauh membaik, namun sifat keras kepalanya tak ikut membaik. Beliau mondar-mandir gelisah sejak sore, menunggu cucunya yang belum juga datang. Hingga akhirnya, rasa tak sabar mengalahkan peringatan suster. Dengan langkah pelan namun mantap, kakek Sastro keluar kamar. Di lorong yang mulai sepi, pandangannya menangkap sosok yang dikenalnya beberapa hari terakhir. Seorang gadis muda dengan wajah lembut dan mata yang selalu menyimpan kesedihan. Gadis itu bernama Arsa Aluna, begitu saat mereka pernah berkenalan.
Gadis yang sering berada di rumah sakit sebab bapaknya tengah dirawat. Kakek Sastro mengenalnya sebagai gadis yang sopan, rendah hati, dan entah kenapa selalu tampak memikul beban yang terlalu berat untuk usianya.
Tanpa sadar, langkah kakek Sastro justru mengikuti. Firasat tak enak mengusik hatinya akan apa yang terjadi pada gadis itu.
Lift berhenti di lantai paling atas. Dugaan kakek Sastro benar. Di taman kecil rooftop rumah sakit, Aluna sudah duduk di salah satu kursi besi, melamun seorang diri. Angin malam bertiup kencang, membuat rambutnya tergerai dan bahunya sedikit bergetar. Pemandangan kota di bawah tampak indah, namun jelas bukan tempat yang baik untuk melamun terlalu lama, apalagi di malam hari.
“Malam-malam begini ngapain bengong sendirian?” suara kakek Sastro terdengar tiba-tiba.
Aluna tersentak. Ia menoleh cepat, wajahnya langsung berubah panik ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya. “Loh, Kek? Kakek kok di sini?” katanya sambil buru-buru berdiri dan menghampiri. “Anginnya kencang, nggak bagus buat kesehatan kakek.”
Kakek Sastro terkekeh kecil. “Kenapa malah kamu yang cerewet? Harusnya kamu yang jawab pertanyaan kakek.” Tatapan pria tua itu lembut namun tajam. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu sama bapak kamu?”
Aluna terdiam beberapa detik. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia mengangguk. “Iya, Kek,” jawabnya lirih. “Bapak harus segera operasi transplantasi. Sudah ada donor yang cocok.”
“Itu kabar baik, dong,” sahut kakek Sastro, meski nada suaranya mengandung kehati-hatian.
“Seharusnya begitu,” Aluna tersenyum pahit. “Tapi biayanya sangat mahal.”
Kakek Sastro langsung paham. “Kamu kesulitan biaya?”
“Iya, Kek,” jawab Aluna jujur. “Saya benar-benar nggak tahu harus bagaimana. Operasi kali ini nggak bisa ditanggung BPJS. Saya sudah coba cari jalan ke sana ke mari, tapi tetap buntu.”
Angin kembali berembus, membawa keheningan singkat di antara mereka.
“Arsa,” panggil kakek Sastro ketika memanggil nama Aluna sejak awal mengenal gadis itu. “Kakek bisa bantu kamu.”
Aluna langsung menggeleng. “Tidak, Kek. Saya nggak mau merepotkan siapa pun.” Ia menunduk. “Mungkin satu-satunya jalan, saya harus menggadaikan rumah. Meski prosesnya lama, itu lebih baik daripada menerima tawaran dokter Rafli.”
Alis kakek Sastro terangkat. “Dokter Rafli?”
“Iya, Kek.”
“Apa yang dokter Rafli tawarkan padamu?” tanya kakek Sastro pelan, namun suaranya terdengar serius.
Aluna ragu. Hatinya bergulat. Namun beban itu terlalu berat jika disimpan sendiri. Entah kenapa, berada di hadapan kakek Sastro membuatnya merasa aman seperti bersama kakeknya sendiri yang telah lama tiada.
“Dokter Rafli menawarkan pernikahan pada saya,” ucap Aluna akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Sebagai gantinya, semua biaya operasi bapak akan ditanggung.”
Mata kakek Sastro menyipit. “Lalu?”
“Saya nggak bisa, Kek,” Aluna menggeleng kuat. “Dokter Rafli sudah punya istri. Saya nggak mungkin tega menyakiti hati perempuan lain. Alasannya memang karena beliau ingin punya keturunan, tapi tetap saja … itu salah.”
Kakek Sastro terdiam cukup lama. Tatapannya menerawang, seolah memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “kenapa kamu nggak terima tawaran kakek saja?”
Aluna mengangkat kepala dengan wajah bingung. “Tawaran apa, Kek?”
“Kakek yang akan menanggung biaya operasi bapak kamu.”
Aluna terkejut. “Kek, saya—”
“Tapi dengan satu syarat,” potong kakek Sastro tenang.
Jantung Aluna mencelos. “Syarat apa?”
Kakek Sastro menatapnya lurus. “Menikah.”
Wajah Aluna langsung pucat. Menelan ludah kesusahan. “Kek, jangan bilang Kakek juga mau memberikan tawaran yang sama seperti dokter Rafli? Ingin menikahi saya?"
Kakek Sastro malah menjitak kepala Aluna ringan. “Sembarangan kalau bicara.”
“Aduh!” Aluna mengaduh refleks sembari mengusap kepalanya.
“Kakek memang menawarkan pernikahan,” lanjutnya, “tapi bukan menikah sama kakek.”
Aluna mengerjap. “Maksud kakek?”
“Kamu menikah dengan cucu kakek.”
Aluna nyengir kikuk. “Kirain.” Ia menghela napas lega. “Memangnya kakek punya cucu laki-laki?”
Kakek Sastro tersenyum samar. “Punya. Dan kalau kamu setuju, kakek akan bicarakan semuanya dengan dia.”
Aluna kembali menatap langit malam. Tawaran itu terdengar gila, tapi ada secercah cahaya kecil di dadanya. Sebuah harapan besar untuk bapaknya.
Melihat Aluna yang terdiam, Kakek Sastro menepuk lengan Aluna. "Pikirkan saja dulu. Tapi jangan lama-lama. Kata kamu sudah ada donor yang cocok untuk bapakmu. Jadi, kakek rasa kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada karena terkadang kesempatan tak akan datang dua kali. Daripada kamu jadi istri kedua, lebih baik jadi istri pertama dan satu-satunya. Tenang saja. Cucu kakek itu tidak hanya tampan wajahnya tapi juga kaya raya."
"Memangnya cucu kakek mau sama saya? Saya ini hanya gadis biasa yang tidak punya apa-apa."
"Siapa bilang kamu tidak punya apa-apa. Kamu punya kebaikan dan hati yang tulus. Yang paling penting adalah kakek suka punya cucu perempuan seperti kamu. Dan kakek yakin cucu kakek tidak akan pernah menolak apa yang kakek inginkan. Percaya sama kakek."
Aluna tersenyum. Meski dalam hati sedang bingung.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo kita turun. Balik ke kamar. Kalau kamu sudah punya jawaban, hubungi kakek langsung. Masih menyimpan nomor hape kakek kan?"
Aluna mengangguk. "Masih, Kek."
"Bagus. Kakek tunggu jawaban kamu besok. Ayo!"