2. Tawaran Untuk Aluna

1466 Words
Mobil hitam mengkilap itu melaju pelan meninggalkan gedung perkantoran Mahendra Sentra Utama. Aksa duduk di bangku penumpang dengan Jodi yang mengemudikan mobil tersebut. Sebagai seorang asisten pribadi, sudah menjadi salah satu job desk Jodi mengantar jemput Aksara. Dan hanya sesekali Aksa mengendarai mobilnya sendiri jika dia sedang ingin saja. Waktu menunjukkan hampir pukul enam petang. Aksa sibuk dengan iPad nya sementara Jodi pun fokus pada jalanan yang mereka lalui hingga mobil berhenti di sebuh traffic light. Aksa yang merasa tengkuknya pegal, mendongak menyapu jalanan yang penuh kemacetan. Dari sekian banyak motor dan mobil yang juga sedang berhenti di sekitarnya, kedua netra Aksa justru terpusat pada sebuah kendaraan roda dua yang mana Aksa masih mampu mengenali dengan baik siapa yang mengendarainya. "Jo, itu bukannya Aluna, ya?" ucap Aksa membuat pandangan mata Jodi mengikuti arah tunjuk sang atasan. "Kayaknya sih iya. Jeli juga ya Pak Aksa," jawab pria itu sedikit menggoda. Aksa mencondongkan badan sedikit ke depan, menatap punggung kecil itu. Meski helm menutupi sebagian wajahnya, Aksara yakin. Cara duduknya. Posturnya. Bahkan cara tangannya melingkar itu memang benar Aluna. Tapi perempuan itu tidak sendirian melainkan dengan seorang pria. "Ck, dia sama siapa?" Aksa berdecak, jelas dari nada bicaranya menyimpan ketidaksukaan. "Kang ojek palingan, Pak." Asal saja Jodi menjawab sebab dia sendiri pun tak tahu. Yang lebih mengherankan lagi sejak kapan Aksa terlalu perduli pada sosok karyawan yang masih terbilang baru dan Aksa pun hanya satu kali bertemu tadi. “Nggak mungkin,” sahut Aksa cepat. Nada suaranya berubah. Ada sesuatu yang keras di sana. “Kalau tukang ojek, Luna nggak bakal sedekat itu. Pakai peluk segala.” Jodi melirik lewat spion tengah. Ia melihat rahang Aksara mengeras, alisnya sedikit bertaut. Ada ketidaksukaan yang jelas, meski pria itu sendiri seolah tak menyadarinya. “Oh, atau mungkin pacarnya, Pak,” ujar Jodi hati-hati. Kata itu seperti memantik sesuatu. “Pacar?” Aksa terkekeh pendek, tapi tak ada humor di sana. “Kok bisa dia pacaran sama lelaki biasa. Harusnya kan bisa lebih dari saya.” Kalimat itu meluncur begitu saja. Dan begitu menyadarinya, Aksara langsung terdiam. Jodi mengernyit. “Maksudnya, Pak?” Aksara menoleh cepat, lalu mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela. “Nggak,” katanya singkat, seolah ingin menutup topik itu secepat mungkin. Lampu lalu lintas berubah hijau. Motor itu melaju lebih dulu, menghilang di antara kendaraan lain. Namun bayangan punggung Aluna masih tertinggal di mata Aksara. Kenapa ia merasa tidak suka? Kenapa dadanya terasa panas melihat Aluna bersama pria lain, bahkan sebelum ia benar-benar tahu siapa lelaki itu? Jodi kembali fokus menyetir, tapi keheningan di dalam mobil kini terasa lebih berat. “Oh ya, Pak,” Jodi memecah suasana. “Kita jadi ke rumah sakit, kan?” Aksa menghela napas pelan. “Ya. Jadilah. Pak tua sudah telepon terus dari siang, minta saya datang.” “Tuan Besar masih sakit, Pak?” tanya Jodi sambil membelokkan mobil ke arah rumah sakit yang sudah mereka tuju sejak awal. “Entahlah,” jawab Aksara. “Betah banget di rumah sakit. Padahal sudah nggak kenapa-kenapa. Diajak pindah ke rumah sakit yang lebih besar, lebih canggih pun nggak mau.” Jodi tersenyum tipis. “Mungkin ada yang diincar sama Tuan Besar.” Aksara menoleh cepat. “Maksudnya?” “Siapa tahu,” Jodi berkata santai, “Tuan Besar naksir dokter atau suster di sana.” Aksara mendengus. “Sembarangan kalau bicara.” Namun sudut bibirnya bergerak tipis, hampir seperti senyum. Percakapan ringan itu sedikit mengalihkan pikirannya meski hanya sebentar. Mobil melaju lebih cepat ketika lalu lintas mulai lengang. Lampu kota berpendar di kaca jendela. Aksa kembali bersandar, menutup matanya sejenak. Tapi wajah yang muncul justru wajah yang sama. Wajah seorang gadis cantik yang sekarang justru terlihat makin cantik dan dewasa. Siapa lagi jika bukan Arsa Aluna. “Jo,” ucapnya tiba-tiba. “Iya, Pak?” “Data karyawan kontrak di Mahendra Sentra Utama sudah kamu pegang semua?” Jodi terdiam sejenak, lalu menjawab, “Sudah, Pak. Termasuk yang dari perusahaan outsourcing.” Aksara membuka mata. “Besok pagi, saya mau laporan detailnya.” “Baik, Pak.” Aksara kembali menatap ke depan, matanya gelap dan penuh pikiran. Ia tak tahu alasan pasti kenapa ia meminta data itu. Tapi yang pasti Aksa ingin tahu banyak hal tentang Aluna. ••• Rumah sakit petang itu. Luna baru saja turun dari boncengan motor Dani, sahabat baiknya. "Terima kasih ya, Mas, sudah antar sampai sini." "Sama-sama. Tapi maaf ya, nggak bisa ikut masuk." "Nggak papa. Mas kan harus kerja. Hati-hati di jalan." Lelaki bernama Dani menganggukkan kepalanya. "Aku tinggal ya? Salam buat bapak dan ibu." Luna melambaikan tangan. Setelah Dani tak terlihat lagi, Luna memutar badan dan masuk ke dalam rumah sakit. Menuju kamar perawatan bapaknya. Sudah beberapa hari bapaknya dirawat di sini. Dan hal ini pula yang menjadi alasan Luna tetap mengambil job di Mahendra Sentra Utama sebab tawaran gaji yang menggiurkan tentunya. Mendapat gaji besar secara otomatis dapat sedikit meringankan bebannya. Biaya rumah sakit bapaknya tidaklah sedikit dan Luna harus menyiapkan sejumlah uang untuk operasi. Baru juga membuka pintu kamar rawat inap, ibunya sudah menatapnya tajam. "Dari mana saja? Kenapa baru datang?" Langkah Aluna terhenti. Ia menghela napas pelan, menahan rasa lelah yang sudah sejak siang menempel di bahunya. Tubuhnya penat, pikirannya pun tak kalah kusut. Namun ia tetap memaksakan senyum kecil. “Maaf, Bu. Tadi macet,” jawabnya lirih. Ibunya berdiri di dekat ranjang. Wajah perempuan paruh baya itu tampak lebih tirus. Kerutan di keningnya tak kunjung hilang. “Tadi Dokter Rafli cari kamu,” ucap sang ibu lagi. “Katanya minta kamu datang ke ruangannya.” Jantung Aluna langsung berdegup lebih cepat. Dokter Rafli adalah dokter spesialis yang sejak beberapa bulan terakhir menangani kondisi bapaknya. Dan jika dokter mencarinya, pasti ada sesuatu hal yang penting ingin disampaikan padanya selaku perwakilan keluarga pasien. “Sekarang, Bu?” tanya Aluna pelan. Ibunya mengangguk. “Katanya penting.” Aluna menoleh ke arah ranjang bapaknya. Lelaki itu terbaring dengan wajah pucat, selang infus terpasang di tangan. Dadanya naik turun pelan, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan. Ada rasa sesak yang langsung menjalar ke d**a Aluna. “Luna pergi dulu ya, Pak,” bisiknya sambil menggenggam tangan bapaknya sebentar. “Semoga bapak segera mendapatkan pengobatan yang terbaik." Bapaknya tak menjawab. Hanya kelopak matanya yang bergerak sedikit. Dengan langkah berat, Aluna keluar dari kamar setelah pamitan pada ibunya. Lorong rumah sakit malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bau antiseptik menyengat, suara langkah kaki perawat dan pengunjung lain bersahut-sahutan. Namun semua itu seperti jauh. Pikiran Aluna hanya tertuju pada satu hal, tentang kondisi bapaknya. Luna mengetuk pintu ruangan dokter Rafli dengan ragu. “Masuk,” terdengar suara dari dalam. Dokter Rafli duduk di balik meja, mengenakan jas putih. Wajahnya terlihat serius, jauh berbeda dari senyum ramah yang biasa ia perlihatkan. Aluna langsung merasa tak enak. "Selamat malam, dokter." “Silakan duduk, Luna,” kata dokter itu. Aluna menurut, duduk di kursi depan meja. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Dokter Rafli menyandarkan punggung, menghela napas pelan. “Luna, saya akan bicara jujur mengenai kondisi ayah kamu." "Apakah ada hal yang serius, dokter?" "Iya. Transplantasi harus segera dilakukan, tidak bisa ditunda lagi.” Aluna menelan ludah. “Transplantasi?” Dokter Rafli mengangguk. “Kebetulan, donor sudah ada. Cocok. Ini kesempatan yang sangat jarang.” Harusnya itu kabar baik. Tapi kenapa d**a Aluna justru terasa semakin berat? “Tapi,” sambung dokter Rafli, “biayanya tidak kecil.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Aluna tertunduk. Ia sudah menduga. Selama ini, biaya pengobatan bapaknya saja sudah menguras tabungan mereka. Gajinya sebagai staf outsourcing, meski cukup, tetap tak sebanding dengan angka-angka rumah sakit yang terus bertambah. “Kira-kira berapa biayanya, Dok?” suaranya nyaris tak terdengar. Dokter Rafli menyebutkan nominalnya. Kepala Aluna langsung berdengung. Angka itu terasa mustahil. Bahkan jika ia bekerja bertahun-tahun, tanpa makan dan tanpa hidup layak, jumlah itu tetap tak akan terkumpul dalam waktu dekat. “Apa … apa ada cara lain, Dok?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Saya tidak bisa janji bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat." Dokter Rafli terdiam. Keheningan menggantung di antara mereka. Terlalu lama. Terlalu sunyi. Sampai akhirnya dokter itu berdiri, berjalan perlahan mendekati jendela, membelakangi Aluna. “Ada satu cara,” katanya akhirnya. Aluna menegakkan tubuh. “Bagaimana caranya, dokter?” Dokter Rafli berbalik. Tatapannya lurus, terlalu serius. “Asal kamu mau menikah dengan saya.” Dunia Aluna seolah berhenti berputar. “Apa?” napasnya tercekat. “Saya akan menanggung seluruh biaya operasi ayah kamu,” ujar dokter Rafli dengan nada datar, seolah membicarakan hal yang biasa saja. “Tanpa kamu perlu mencicilnya. Tapi, kamu cukup berikan keturunan untuk keluarga saya.” Aluna bangkit berdiri tanpa sadar. Kursinya bergeser, menimbulkan suara gesekan yang nyaring. Tangannya gemetar. “Dokter bercanda?” tanyanya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut lelaki itu. Dokter Rafli menggeleng. “Saya serius, Aluna.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD