12. Demi Fafa

2104 Words

“Kamu ibu terjahat yang pernah ada, Na. Bisa-bisanya kamu biarkan anak sendiri manggil Ayah ke orang lain, tapi malah menyuruh manggil Om ke ayah kandung sendiri? Kamu waras, hah?!” Entah kenapa, aku langsung gemetar mendengarnya. Aku sampai tak kuasa untuk langsung membalas. Sejak aku kenal Mas Dewa saat kami masih sama-sama kuliah, dia tidak pernah terlihat semarah ini. Bahkan dulu saat aku tak sengaja menghilangkan barang berharganya, dia tidak marah. Dia hanya menenangkan diri seharian, lalu kembali dan bilang kalau dia tidak apa-apa. Dia justru yang menenangkanku saat aku menangis karena merasa bersalah. Kali ini sungguh berbeda. Dia betul-betul terlihat sangat, sangat, dan sangat marah. Ya tatapan tajamnya, rahangnya yang mengetat, sampai penekanan pada tiap-tap kalimatnya. “A-ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD