“Kamu barusan bilang kalau kita masih suami istri, aku bebas mau apa aja di rumah ini. Lalu gimana kalau kita memang masih suami istri?” Pertanyaan itu membuatku refleks mendorong Mas Dewa agar mundur. Mataku juga mengerjap-ngerjap bingung. “M-maksudnya apa, Mas? Masih s-suami istri gimana?” “Ya kita masih suami istri seperti dulu. Gimana kalau aku enggak pernah ke Pengadilan Agama dan akta cerai itu enggak pernah ada?” “M-mas, bercandanya enggak lucu banget!” Mas Dewa diam. Dia malah menunduk dan menarik napas berulang kali. Gesturnya itu justru seolah menunjukkan kalau dia sedang serius. “Mas, c-cepet bilang kalau itu cuma bercandaaa! Aku pengennya kita u-udah cerai! Aku enggak mau balikan sama Mas!” “Maaf, Na. Sebenarnya, aku enggak pernah menceraikanmu. Secara negara, kita masih

