“Aku enggak minta kamu maafin aku dalam waktu dekat. Tapi enggak bisakah kamu cabut soal enggak mau kasih aku kesempatan kedua? Aku cuma ingin kamu tarik kalimat yang itu aja. Selebihnya, aku akan usaha sendiri. Boleh, ya, Na?” Aku langsung tersenyum. Bukan, senyum ini bukan senyum senang. Aku hanya merasa lucu saja. “Kenapa kamu senyum kaya gitu?” “Ya Mas pikir aja sendiri. Kira-kira kenapa aku bisa tiba-tiba senyum kaya gini?” “Aku lucu, ya, Na? Dulu aku yang menyuruhmu pergi, tapi sekarang aku justru ingin menarikmu kembali. Memang konyol.” Aku meletakkan ponsel di kasur, membiarkan Mas Dewa menatap langit-langit kamar. Aku sendiri memilih untuk merebah dan ikut menatap langit-langit. “Na—” “Apa?” “Bahkan jika saat ini aku ngomong tentang apa yang terjadi saat itu dengan lebih j

