29. Sesi Curhat

2103 Words

Malam ini aku mendadak sulit tidur. Aku masih terus kepikiran ucapan Mas Dewa tadi pagi, juga ciumannya di pipi. Tunggu! Ini bukan soal rasa ciumannya, tetapi soal kenekatannya melakukan itu di saat aku sudah memberi warning berkali-kali kalau aku tidak berencana memberi kesempatan kedua padanya. Setelah kutampar dengan keras— tanganku bahkan sampai sakit, dia tak menunjukkan ada gurat marah atau tersinggung. Yang ada, dia malah tersenyum dan menganggap tamparanku adalah tanda setuju. Sejak kapan tamparan berkonotasi positif? Kurasa, Mas Dewa memang benar-benar sinting! Sungguh! “Aku harus ngapain biar bisa merem?” Aku melirik jam dinding, sebenarnya belum terlalu malam. Masih pukul sepuluh lewat beberapa menit. Kalau di Jogja kota, pukul segini masih cukup ramai. Biasanya mulai se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD