Sesuai ekspektasi! Fafa memang langsung dekat dengan Aric. Mereka bahkan belum satu jam kenal, tetapi kini Fafa sudah dengan santainya minta digendong di punggung dan tak mau turun. Adik iparku memang tidak ada lawan. Dia sangat mudah disukai. Anak kecil pun tidak bisa bohong. Fafa bisa selengket itu di saat pertemuan mereka bahkan masih sangat singkat. Aric tetaplah Aric. Anaknya semenyenangkan itu! “Fafa, udah! Jangan begitu sama Om. Enggak sopan.” Aku menegur pelan sembari menggeleng saat melihat Fafa hendak naik lagi di punggung Aric. “Enggak papa, Mbak. Lelahku malah hilang, ini, main sama Fafa.” “Jangan ngomong gitu hanya karena mau bikin aku senang.” “Enggak, ya! Beneran, lho, ini. Aku seneng banget. Kalau seneng, lelahnya auto berkurang. Ya udah, yang barusan aku ralat. Kala

