“Kakiku enggak papa, Mas. Ini udah mereda juga. Mas jangan lebay, napa?” Mas Dewa tak mau melepaskan kakiku. Ingin menilainya modus, tetapi kakiku memang terluka betulan. Aku hanya tidak nyaman dia jongkok di depanku, makanya aku bilang kakiku tidak apa-apa. Tadi yang kutendang juga bagian sudut, yang mana agak runcing. Sudah keramik, ujung pula. Rasanya memang sakit sekali. “Enggak papa gimana? Ini dua jarimu sampai biru kaya gini. Kamu itu jalan apa nendang-nendang, sih, Na?” “Aku kan jalan cepet karena buru-buru, otomatis kekuatannya lebih. Makanya keras banget waktu nendang vasnya.” “Seceroboh ini, tapi sok kuat—” “Berani bilang gitu? Ini kecerobohan yang aku rasa nyaris semua orang pernah ngerasain. Nendang sudut kursilah, mejalah, atau pintulah. Cuma kaya gini. Mas jangan menil

