Apa kalimatku pada Mas Dewa keterlaluan? Atau aku memang perlu mengatakan itu agar dia sadar? Kenapa aku mendadak merasa bersalah padanya? Diingat lagi, memang rasanya terlalu pedas. Terlalu nancap ke ulu hati. Namun, aku bicara fakta. Aku tidak sedang menfitnahnya. Jika dia tidak terima, apa dia ada hak untuk itu? Rasa-rasanya, mau sepedas apa pun kalimatku, sakitnya tetap tak sebanding dengan yang pernah dia lakukan padaku. Katakan aku sedang pembelaan diri. Tapi bukankah itu benar? Dulu dia memang sangat keterlaluan! Iya, kan? “Argh! Udah, udah! Lupain aja. Memang kenyataannya gitu. Yang penting aku enggak lagi fitnah dia. Di sini dia memang cuma nyumbang bibit, kenapa harus berasa paling punya privilege?” Kini aku mulai menggeleng. “Udahlah, jangan dipikirin lagi. Mas Dewa emang

