Mas Dewa tampaknya sangat menghindari pembahasan mengenai akta cerai. Tiap aku membahas itu, dia selalu ada saja alasan. Ya kerjalah, ya lelah-lah, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Namun herannya, tiap membahas Fafa, dia tetap antusias. Dia mulai sering membawa Fafa keluar dan mengembalikan padaku malam hari. Fafa pun senang-senang saja, malah selalu tak kalah antusias. Sampai-sampai, lama-lama aku cemburu. Tenang, aku cemburunya pada Mas Dewa, bukan Fafa. Aku cemburu karena dia jadi lebih banyak mendapat perhatian Fafa. Aku takut kalau suatu saat mendadak kalah saing. “Yuna! Ngelamun?” Aku tersentak ketika tiba-tiba di depanku sudah ada sepotong cheesecake di dalam mika. Aku lagsung tersenyum lebar begitu tahu yang datang adalah Mas Zayn. Sejak tadi aku memang menunggunya. Dia s

