2. Dia Anakku?

1559 Words
“Selamat datang kembali? Kok kembali, Pak? Apa sebelumnya Pak Dewa dan Bu Yuna sudah kenal?” Pertanyaan Pak Hadi sangat on point. Memang harusnya beliau langsung me-notice soal kata ‘kembali’ yang tentu aneh untuk orang yang beliau kira belum pernah kenal sebelumnya. Kalau soal tahu nama lengkapku, itu bisa dari biodata yang terlampir di pemberkasan. Jadi, masuk akal saja. “Bu Yuna itu—” “Dulu kami satu kampus, Pak,” balasku cepat, sengaja memotong kalimat Mas Dewa. “Satu angkatan juga, tapi beda jurusan.” “Oh, artinya Pak Dewa juga dulu alumni kampus ini?” tanya Pak Hadi. “Betul, Pak.” “Kalau beda jurusan, kenalnya lewat apa?” “Biasa, Pak. Dulu suka ikut organisasi. Jadi, kami bisa kenal.” Lagi-lagi aku menjawab lebih dulu. “Oh, gitu. Ya, ya, ya. Saya paham.” Setelah empat tahun lebih aku mati-matian mengindar dari mantan, kini tanpa kusadari, aku malah menghampirinya dengan sukarela. Jika aku tiba-tiba membatalkan kerja sama ini, apa aku akan dicap tidak profesional? Bagaimana jika nanti aku kehilangan kepercayaan karena terkenal seenaknya sendiri? Aduh, jangan sampai! “Karena detailnya pernah dibahas dengan Pak Hadi, jadi langsung saja, ya. Bu Yuna silakan tanda tangan di sini.” Laki-laki jangkung yang sejak tadi berdiri di sebelah Mas Dewa menyerahkan lembar kontrak. Aku tebak, ini asisten barunya. Tadi Pak Hadi sempat menyinggung kalau nama asisten Mas Dewa adalah Fajar. Dulu, asisten Mas Dewa bernama Kris. Dan Kris wajahnya tidak seperti ini. Setahuku juga, dulu Kris hanya sementara menjadi asisten karena dia masih ingin lanjut kuliah S2 di UK. “Masa percobaan enam bulan, ya? Bagaimana kalau tiga bulan saja?” aku mencoba menawar. “Enam bulan! Kemarin sudah dibahas tuntas. Tidak boleh ada perubahan,” balas Mas Dewa tegas, membuatku agak kaget karena nada suaranya langsung naik. “Tapi enam bulan terlalu lama. Biasanya hanya tiga bulan—” “Saya ingin enam bulan. Justru ini menambah waktu untuk Bu Yuna upgrade jika dirasa saat sistem berjalan nanti terdapat kekurangan. Kalau uang kontrak kurang, saya berani menaikkan.” Aku menatap Pak Hadi, beliau tersenyum. “Ini kesempatan bagus, Bu Yuna. Enam bulan juga umum saja. Sama kaya percobaan di kampus.” “Iya, Pak.” “Soal uang kontrak bagaimana? Mau naik?” “Tidak perlu. Ini sudah cukup bagus.” Akhirnya, aku menandatangani lembar kontrak itu. Baiklah, hanya enam bulan. Aku tidak mau memperpanjang. Toh dalam enam bulan ini bukan berarti setiap hari akan bertemu. Sadewa Ishan Wiraatmaja. Orang yang paling tidak ingin aku temui seumur hidupku. Dan kini aku malah menjalin kerja sama dengannya. Kenapa hidupku bisa sekonyol ini? “Pihak hotel sudah menyiapkan makan siang untuk Pak Hadi dan Bu Yuna,” ujar Fajar kemudian. “Mari saya antar—” “Kalau saya tidak ikut, bagaimana?” potongku cepat. “Sebelumnya, terima kasih atas perhatiannya. Tapi saya ada jadwal ngajar.” “Bukannya Bu Yuna bilang ngajarnya masih sore?” Aduh! Aku lupa kalau Pak Hadi sudah tahu jadwalku hari ini. “Saya ada kuliah pengganti, Pak.” “Baru dua bulan masuk sudah mau ada pengganti, Bu? Rajin sekali.” “Tentu, Pak. Agar masa percobaan saya berhasil.” Aku tersenyum sekenanya. “Ah, benar juga. Ya sudah, saya saja tidak apa-apa. Yang penting Bu Yuna sudah tanda tangan.” “Iya, Pak.” Aku baru akan mengambil tas saat tiba-tiba ponselku menyala. Foto Fafa tertera di layar, dan aku langsung mengambilnya. “Sebentar, Pak. Saya harus mengangkat panggilan dulu.” “Silakan.” Mas Dewa dan Pak Hadi mengangguk kompak. Aku segera berdiri dan berjalan menuju sudut. Aku sengaja menjauh agar mereka tidak mendengar suara yang meneleponku. Pasalnya, suara Fafa kadang sangat keras, terlebih saat dia antusias. “Hallo, sayang? Ada apa?” sapaku lirih. “Mama di mana?” “Mama masih di hotel. Habis itu mau ke kampus. Kenapa?” “Mama, nanti malam mau main keluar. Apa boleh? Mau ke pasar malam!” “Nanti malam? Mama masih sibuk, sayang. Ini aja Mama pulang sore. Malam nanti Mama harus ngerjain sesuatu.” “Kalau besok?” “Lihat besok, ya. Atau kalau enggak, lusa. Gimana?” “Oke, Ma. Enggak papa.” “Fafa telepon Mama cuma mau bilang itu aja?” “Enggak. Sama mau bilang kalau aku kangen Mama.” Aku tersenyum. “Mama juga kangen Fafa. Udah dulu, ya! Nanti kalau pulang, Mama bawain jajan.” “Asiiik! Makasih, Mama.” “Sama-sama, sayang” Panggilan mati. Aku segera kembali. “Maaf, ada telepon dari rumah.” “Dari Fafa, ya, Bu?” tanya Pak Hadi. Mataku seketika melebar. Jangan! Mas Dewa jangan sampai tahu kalau aku punya Fafa! Ya, Fafa adalah anak Mas Dewa. Karena sejauh ini aku hanya pernah berhubungan badan dengan suamiku sendiri— sekarang sudah mantan. Aku tahu hamil Fafa tak lama setelah pisah dengan Mas Dewa. Aku sengaja tidak bilang padanya dan memilih untuk menyimpannya sendiri karena aku terlampau sakit hati. Dia sendiri yang ingin aku pergi, dan aku juga punya harga diri dengan tidak mengemis belas kasih. Andai waktu itu dia sabar sedikit lagi, mungkin yang terjadi tidak begini. Sayangnya, aku sudah tidak tertarik untuk balikan. Kesempatan kedua sudah kututup rapat-rapat bersamaan dengan pintu yang kubanting pagi itu. “B-bukan, Pak. Dari ART. Soal rumah, kok.” “Fafa itu siapa, Bu Yuna?” tanya Mas Dewa padaku. “Fafa itu anaknya Bu Yuna, Pak Dewa. Anaknya cantik banget. Lucu dan ngomongnya udah lancar.” Gawat! Pak Hadi ini kenapa ember sekali? Memang, Pak Hadi tahu tentang Fafa. Bukan hanya Pak Hadi sebenarnya, tetapi teman dosenku juga semuanya sudah tahu. Pasalnya, beberapa kali Fafa kuajak ke kampus saat Bi Endah sakit dan tak bisa menemani. Saat anak itu juga menolak kutitipkan di daycare. “A-anak?” Mas Dewa kini menatapku dengan mata yang menyipit. Aduh! Kalau sudah begini, aku akan sulit mengelak. Kalau aku bohong, akan menimbulkan kebohongan baru. Harus bagaimana ini? “Bu Yuna sudah punya anak?” tanya Mas Dewa lagi. “Iya, sudah,” jawabku akhirnya. “Bu Yuna ini hebat, Pak Dewa. Dia Ibu tunggal. Suaminya meninggal.” “Meninggal?” Mas Dewa seketika menatapku tajam. “Pak Hadi, maaf! Kayaknya kurang pantas kalau bahas urusan pribadi saya di sini.” “Maaf, Bu Yuna. Bukan maksud saya mau lancang. Saya sengaja bilang soal ini biar Pak Dewa tahu kondisi Bu Yuna. Jadi, misal ada panggilan ke lapangan, bisa menyesuaikan. Di luar kampus, Bu Yuna merawat seorang anak.” “Memang harusnya bilang, Pak. Kami sangat peduli dengan latar belakang mitra kami,” ujar Fajar, lengkap dengan senyum yang sangat ramah. “Kami ingin mitra kami bisa bekerja dengan nyaman.” “Betul!” Mas Dewa mengangguk mantap. “A-ah, baiklah. Saya terharu sekali dengarnya.” Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Silakan kalau mau lanjut makan siang.” “Bu Yuna beneran enggak mau ikut makan siang?” Pak Hadi menahanku. “Kalaupun ada kuliah pengganti, bukannya minimal jam satu baru mulai? Ini masih jam setengah dua belas, Bu. Sangat cukup kalau hanya makan siang dan perjalanan pulang. Misal Bu Yuna sedikit telat juga mahasiswa pasti paham.” Pak Hadi tiba-tiba mencondongkan badannya padaku. Beliau berbisik pelan. “Hanya makan siang, Bu. Agak kurang sopan kalau menolak. Apalagi, ini pertemuan pertama Bu Yuna dengan Pak Dewa setelah sekian lama.” Aku terdiam, berpikir. “Bu Yuna?” Pak Hadi menatapku seolah agak memohon. “Ya sudah.” Akhirnya aku menganggguk. “Baiklah, saya ikut makan siang. Sepertinya memang cukup.” “Baik.” Fajar menyahut lebih dulu. “Silakan, Bu, Pak. Pindah ke ruangan samping. Makanan sudah disiapkan.” “Terima kasih!” Saat aku hendak pergi, Mas Dewa malah menahan tanganku. Aku buru-buru menepisnya. Tentu, Pak Hadi tidak lihat karena beliau sudah beranjak lebih awal. “Kalian duluan saja. Saya ingin ngobrol sebentar dengan Bu Yuna.” Mataku langsung melebar. “S-saya, Pak? Ada apa, ya?” “Apa ada keperluan tambahan?” tanya Pak Hadi. “Bukan, Pak. Hanya ngobrol santai. Bagaimanapun, kami ini teman lama. Lima menit cukup.” “Oh, iya.” Pak Hadi langsung mengangguk. “Baik, baik. Silakan. Saya tunggu di ruangan samping.” Begitu Pak Hadi dan Fajar pergi, tiba-tiba Mas Dewa menarikku ke sudut dan mendorongku ke tembok. Dia menahan kedua pundakku dan menatapku lurus-lurus. “P-pak Dewa, tolong p-profesional!” “Udah enggak ada mereka. Enggak perlu formal lagi!” “M-mas—” “Jangan berontak! Sekarang jawab pertanyaanku dulu!” Aku melengos. “Enggak mau.” “Kamu ke mana aja empat tahun ini? Beneran cuma di Kuala Lumpur? Aku enggak bisa nemuin jejakmu sama sekali.” Aku diam, tak sudi menjawab. “Kalau enggak mau ngomong, aku akan nahan kamu di sini sampai kamu mau jawab.” “Apa-apaan! Kalau begini mainnya, aku mau batalin kontrak—” “Terserah. Asal kamu siap dengan dendanya.” Aduh! Mana aku tidak punya uang sebanyak itu. Uang pembatalan kontrak tanpa alasan yang jelas akan didenda sepuluh kali lipatnya. “Na—” “Hanya satu pertanyaan. Kalau maksa lebih, aku akan teriak!” “Oke. Hanya satu. Aku tarik pertanyaan yang barusan. Aku lebih ingin tanya yang lain.” “Apa? Buruan!” Mas Dewa meraih daguku dan memaksaku untuk menatapnya. “Na … kamu beneran punya anak? Apa dia anakku?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD