3. Fafa Bertemu Papa

1405 Words
“Iya, aku punya anak. Dan dia bukan anak Mas Dewa!” Aku mendorong Mas Dewa kuat. Dia tak melawan, jadi dia langsung mundur. Aku sendiri buru-buru merapikan bajuku agar kembali rapi. “K-kamu udah menikah lagi? Emang udah nerima akta carai dariku?” Aku terdiam. Akta cerai. Ini juga yang sudah lama kucari-cari. Aku selalu menanyakan soal akta cerai pada Bapak dan Ibu di rumah, tetapi mereka selalu bilang tak pernah mendapatkannya. Jadi, sebenarnya Mas Dewa sudah menceraikanku atau belum? Kalau sudah, kenapa akta cerai tidak pernah dia kirim? Kalau belum, kenapa selama empat tahun lebih aku pergi, dia tidak pernah benar-benar mencariku dan minta kembali? Bagian ini sungguh membuatku bingung. Aku harus memastikan ini segera. “Na?” “Justru aku yang bertanya-tanya. Buruan kirim akta cerainya ke rumah. Mas itu tujuh kali, lho, ungkit kata cerai. Mas udah sering men-talak aku.” “Sejak kapan mengatakan kata cerai itu selalu berarti jatuh talak?” “Emang enggak?” “Tergantung kalimat dan tergantung niat. Belajar lagi makanya!” “Udah begini aja, Mas baru bilang kaya gitu? Cuih!” aku pura-pura meludah ke samping. “Yuna! Sejak kapan kamu jadi sekasar ini?” “Sejak kita pisah dan aku harus hidup sendirian di dunia yang keras ini.” Mimik wajah Mas Dewa seketika berubah. “Udah, Mas, buruan kirim akta cerainya—” “Tanpa akta cerai, kamu enggak bisa nikah lagi. Artinya, anakmu adalah anakku.” “Pede banget! Enggak. Dia bukan anak Mas Dewa. Dia itu anakku sama cowok lain. Mas, kan, mandul. Sekali lagi, MANDUL!” “Yuna!” “Apa?!” “Kamu—” “Aku apa?” “Aku yakin, anakmu adalah anakku.” “Bukan! Udah kubilang, dia itu anakku sama cowok lain.” “Cowok lain itu siapa?” “Ya cowok ganteng yang kutemui di Malaysia-lah. Di sana enggak kekurangan cowok ganteng.” “Kamu bukan cewek kaya gitu. Yang main sama sembarang laki-laki tanpa ikatan yang sah.” “Terserah! Yang penting, anak saya bukan urusan Anda, Pak Dewa.” Aku kembali dalam mode mitra kerja. “Fajar dan Pak Hadi masih menunggu. Jangan kelamaan di sini. Nanti mereka salah paham.” “Na—” “Stop! Cukup!” Akhirnya, aku melangkah cepat menuju ruangan sebelah. Aku buru-buru duduk di sebelah Pak Hadi. Mas Dewa menyusul beberapa saat kemudian. Dia duduk di sebelah Fajar. Selama makan siang bersama, aku banyak diam. Kalaupun butuh bicara, aku hanya bicara pada Pak Hadi. Sisanya, biarkan beliau mewakiliku. Aku malas bicara banyak-banyak. Kalau bukan karena sebentar lagi Fafa masuk sekolah, aku tidak akan sampai sebegininya. Gaji dari dosen dan usaha toko kue— yang tak seberapa besar— sudah cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Setelah makan siang, aku dan Pak Hadi pamit. Mas Dewa dan Fajar mengantar sampai luar hotel. “Observasi lapangannya akan saya mulai minggu depan hari rabu. Sekalian saya tunjukkan proposal program yang saya rancang,” ujarku sebelum berpisah. “Nanti silakan diperiksa dan akan saya revisi jika diperlukan.” “Ok.” Mas Dewa langsung mengangguk. “Oh, iya. Sekadar informasi saja. Bu Yuna boleh bawa anak. Hotel saya memfasilitasi play ground di lantai dua. Lengkap dan luas.” Aku tersenyum. “Anak saya kurang suka main di tempat seperti itu, Pak Dewa. Dia lebih suka main di alam. Terima kasih banyak atas tawarannya.” Mas Dewa menatapku gemas. “B-baik.” “Mari, Pak.” “Ya.” Aku menunduk sejenak, lalu melangkah cepat menuju mobil. Pak Hadi juga melangkah menuju mobil beliau. Kami memang berangkat secara terpisah karena tadi start-nya berbeda. Pak Hadi dari rumah, sementara aku dari kampus. Saat mobil melewati Mas Dewa dan Fajar yang masih berdiri di teras, aku menyempatkan untuk mengangguk lagi. Sekadar basa-basi saja. Tidak lebih. “Hmmmh!” aku menghela napas panjang dan kasar. “Maaf, Mas, aku harus bohong. Aku enggak mau kamu rebut Fafa dariku. Enggak akan pernah aku bolehin sampai kapan pun!” *** Dua hari kemudian … “Ayo, Ma, kita berangkat!” seru Fafa penuh semangat begitu dia selesai dipakaikan sepatu oleh Bi Endah. “Malam ini aku mau naik bianglalaaa!” “Fafa enggak takut, emang?” tanyaku yang sedang merapikan baju. “Enggak, dong, Ma! Aku berani.” “Oke. Ayo kita naik banyak permainan!” “Asiiik!” Aku membawa Fafa ke Gendongan, lalu tersenyum pada Bi Endah. “Jaga rumah, ya, Bi. Maksimal jam sepuluh aku udah balik.” “Iya, Mbak. Hati-hati, ya. Kalau butuh bantuan, tinggal kirim pesan aja.” “Oke.” Malam ini aku jadi mengajak Fafa ke pasar malam yang sebenarnya tak seberapa besar. Pasar malam itu diadakan di sebuah stadion yang cukup terkenal di Jogja. Hanya pasar malam sementara. Biasanya saat ada event-event tertentu. Jaraknya cukup terjangkau dari rumah. Jadi, oke saja. “Mama, Mama lagi sedih, ya?” tanya Fafa di tengah-tengah perjalanan. “Sedih? Enggak, dong, sayang. Mama bahagia banget, kok. Kenapa memangnya?” “Tapi aku lihat Mama sedih dari kemarin.” Itu karena Papamu! Mama sedih karena takut kamu direbut Papamu, Fa! Entah kenapa, aku punya firasat itu. Mas Dewa selalu ingin punya anak. Hanya sayang dulu dia divonis susah punya keturunan. Dan memang benar susah. Tiga tahun kami menikah, momongan tak kunjung didapat. Padahal, soal intensitas jangan ditanya. Ternyata, kami kurang sabar sedikit lagi. Siapa sangka kalau tiba-tiba aku hamil di saat kami sudah sepakat berpisah? Dunia memang kadang sebercanda itu. Kalau mau sedikit kilas balik, sebenarnya tiga tahun masih terhitung sebentar. Pasalnya ada pasangan yang menunggu sampai belasan tahun baru punya keturunan. Kami juga sudah pernah pakai bayi tabung, tetapi tetap gagal. Dan jujur, aku merasa kalau saat itu ada sesuatu yang Mas Dewa sembunyikan. Sesuatu yang sampai detik ini tidak bisa kutebak. Namun, ya sudahlah. Itu sudah masa lalu. “Mama? Mama kok lamun-lamun?” Aku tersenyum. “Bahasanya lucu banget, sih, lamun-lamun. Mama enggak ngelamun, sayang. Mama juga enggak sedih. Mungkin waktu Fafa lihat Mama sedih, sebenarnya Mama lagi capek aja. Capek dikittt banget! Sekarang udah enggak. Sekarang Mama udah semangat lagi!” “Oke, Ma.” Senyum Fafa langsung terbit. “Aku juga enggak jadi sedih.” Segera kuusap kepala Fafa pelan. “Fafa enggak boleh sedih. Kita harus selalu bahagia.” “Siap, Ma!” Fafa ini, karena dibesarkan ibu tunggal sepertiku, aku merasa dia jadi lebih dewasa dari anak seumurannya. Dia sangat peka dengan perasaanku. Aku sampai kadang tak enak sendiri. Maka sebisa mungkin, aku tidak menunjukkan kesulitaku di depannya. Dia tidak boleh merasakan apa yang kurasakan. Dia harus tumbuh dengan baik. “Pasar malamnya udah kelihatan, Ma! Waaah! Lampunya banyak!” “Oh, iya. Belok dikit lagi, langsung sampai.” “Ayo, Ma, cepet!” “Sabar, sayang. Lagi lampu merah.” Dua menit kemudian, aku sudah masuk area stadion. Aku langsung diarahkan petugas ke lahan khusus untuk parkir mobil. Setelah membayar, aku lekas membukakan pintu untuk Fafa. Dia jarang mau kugendong, jadi kugandeng saja. Soal tinggi, sepertinya Fafa dapat gen dominan dari Mas Dewa. Untuk ukuran anak seumurannya, tingginya sudah di atas rata-rata. Bahkan tidak sedikit yang megira kalau dia sudah masuk TK. Mana bicaranya juga sudah sangat jelas. Paling hanya sesekali saja cedalnya kumat-kumatan. Padahal, dia belum genap empat tahun. Dan sekadar informasi saja, dulu dia lahir prematur. “Mau yang mutar-mutar itu, Ma! Mau yang ituuu!” Fafa kini sudah mulai melompat-lompat kegirangan. “Katanya mau bianglala? Kok jadi berubah?” “Mau itu aja, Ma! Mau itu!” “Tapi nanti Fafa pusing.” “Enggak, Ma! Pokoknya mau itu!” Aku jongkok, ingin bicara sembari menatap mata Fafa. “Sayang, permainan yang itu untuk anak yang udah lebih gede lagi. Fafa belum boleh. Kurang aman soalnya.” “Tapi, Ma …” “Naik bianglala aja, ya. Mama temani.” Fafa cemberut. “Lain kali kalau Fafa udah lebih besar, boleh, kok.” “Ya udah, Ma. Bianglala aja.” “Anak pinter!” Saat aku berdiri dan hendak membawa Fafa menuju stand bianglala, tiba-tiba aku dibuat terkejut karena seseorang. Seseorang yang kini berdiri di jarak lima meter dariku. Saking kagetnya, aku sampai refleks mundur beberapa langkah. “Mama kenapa?” “E-enggak, sayang. Mama enggak pa—” “Haaaah? Ada Papaaa!” Mataku mendelik lebar ketika Fafa tiba-tiba melepaskan gandenganku dan lari memeluk kaki Mas Dewa. Dan apa katanya barusan? Ada Papa? Sekali lagi, PAPA? Tunggu! Apa mereka pernah bertemu tanpa kutahu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD