4. Dia Bukan Anakmu!

1588 Words
“Kamu yakin Fafa bukan anakku, Na?” Aku langsung melirik tajam, lalu menggeleng. Aku tidak akan mudah mengaku untuk hal ini. “Na—” “Enggak, Mas! Mas ini beneran se-pede itu. Jangan ngarep ketinggian, ya! Kan Mas susah punya anak!” “Yuna! Apa perlu kamu ngomong jahat kaya gitu? Kemarin udah, sekarang kamu ulangi lagi.” Mas Dewa menatap tak terima. Aku sendiri memilih untuk tersenyum. “Kenapa kamu malah senyum kaya gitu? Apa maksudnya? Ngeledek?” “Mas … minimal Mas ini ngaca, ya! Dulu siapa yang jahat bilang cerai setelah …” aku menghentikan kalimatku. “Sejahat-jahatnya aku, situ lebih jahat.” “‘Situ’? Aku enggak suka dengernya, Yuna! Enggak sopan!” “Kalau enggak sopan, terus maunya apa? Anda? Kita ini sudah orang asing, ya, Pak Dewa. Udah bagus saya masih sudi lihat wajah Anda ini.” “Situ? Anda? Mas? Pak? Saya? Aku? Kamu ini bener-bener enggak konsisten!” Aku berdehem pelan. Aku tahu kalau aku tidak konsisten. Ya biarkan saja. Toh aku pakai konteks. Kedepannya aku juga pasti akan terus tidak konsisten soal ini. Aku bicara dengan Mas Dewa akan menyesuaikan situasi dan kondisi. “Fafa … hati-hati, sayang!” seruku ketika melihat Fafa kepleset saat bermain di Bouncy Castle. “Oke, Ma.” Ngomong-ngomong, saat ini aku dan Mas Dewa sedang berdiri berdampingan— menyimak Fafa yang asik bermain dengan teman baru yang random dia dapat di pasar malam. Anak itu sejak awal memang selalu mudah bergaul. Jadi, aku tidak perlu khawatir dia akan tertindas. Hanya saja, aku khawatir dia mudah ‘hilang’ karena sakit aktifnya. “Kamu bilang, anakmu enggak suka main di playground. Lalu ini apa? Bohongmu ketahuan.” Aku melengos. “Dan setelah kulihat-lihat, Fafa makin mirip aku, Na.” “Ngimpi!” balasku sinis. “Aku udah menghitung umur Fafa dan time line kita pisah. Cocok. Hanya ada selisih bulan. Apa Fafa lahir prematur?” Aku langsung mendelik. “Mas Dewa nyelidikin aku, ya? Jangan-jangan rencana malam ini juga Mas udah tahu? Tahu dari siapa? Atau Mas nunggu kami dari jauh?” Mas Dewa langsung terbatuk pelan. “Mas Dewa? Beneran nyelidikin aku dan Fafa?” “Dikit.” “Ya ampun! Aku enggak suka, ya, kehidupan pribadiku diusik!” “Kapan aku ngusik? Aku cuma cari info dikit. Toh enggak mengubah hidupmu sama sekali.” “Apa yang udah Mas tahu tentang kami?” “Nama Fafa cantik, Na. Aqifa Dewiara Naranjani. Kalau diganti jadi Aqifa Dewiara Wiraatmaja akan makin oke.” “Ngimpiii! Enggak akan aku biarin! Fafa anakku, bukan anak Mas!” “Anak kita—” “Enggak!” “Iya!” Aku menghela napas pelan. Sabar, sabar! “Terserah Mas Dewa aja kalau gitu! Aku enggak peduli.” “Aku pasti akan buktiin kalau Fafa itu anakku.” “Mas! Sekali aku bilang enggak, ya, enggak. Dengan aku yang cantik begini, mudah buat cari cowok yang mau sama aku. Jangan terlalu percaya diri! Ngerti?” “Oh, gitu.” Mas Dewa malah manggut-manggut. Tampak sekali menyepelekan. “Aku serius, ya.” “Tapi kenapa kamu masih betah jadi ibu tunggal sampai sekarang? Kalau Fafa bukan anakku, mana ayahnya?” “Loh! Kan udah kubilang kemarin. Dia udah meninggal!” “Kapan?” “Udah lama, bahkan sebebelum Fafa lahir.” Sejak aku pergi dari rumah, Mas Dewa memang sudah kuanggap meninggal. Serius! “Kurang pinter ngarangnya, Na. Kerasa banget ngibul-nya.” Sial! Memang rasanya mustahil membohongi Mas Dewa dengan mudah. Dia itu sejak awal selalu cerdik. Dulu saat menjeratku agar bisa dia miliki saja, banyak sekali akalnya. Sudah begitu, dia malah melepasku. Ya sudah, aku tidak akan memberinya kesempatan kedua. Kesempatannya sudah habis. Bagian ini mungkin akan sering kuulang-ulang karena memang sangat perlu penekanan. “Ngomong-ngomong, tadi kenapa Fafa bisa manggil Papa?” tanyaku setelah beberapa saat lamanya aku dan Mas Dewa hanya diam. “Memang kalian pernah bertemu sebelumnya?” “Iya, pernah. Aku pernah ketemu Fafa sekali di Indomaret.” “Kapan, itu?” “Udah agak lama. Beberapa bulan yang lalu. Dia tiba-tiba meluk kakiku kaya tadi dan manggil Papa. Dia dulu yang me-notice-ku. Ya … Ayah dan anak memang kuat bonding-nya.” “Mas Dewa! Fafa bukan anakmu!!!” “Terserah kamu mau ngomong gitu sampai berbusa juga. Aku tetap percaya kalau Fafa itu anakku.” Akhirnya, aku segera menghampiri Fafa. “Sayang, udah malam. Mainnya udahan, ya?” “Bentar lagi, Ma.” “Lima menit?” “Oke!” Aku mundur lagi. Tahu-tahu, Mas Dewa mengulurkan sebotol air mineral dingin. Aku melengos. “Kamu pasti haus sejak tadi teriak-teriak. Hanya air, jangan berlebihan.” “Enggak mau.” “Hanya sebotol air, Na. Enggak ada racunnya.” “Tetap enggak mau.” “Sedendam itukah kamu?” “Kira-kira aja, gimana?” Mas Dewa mengangguk. Dia membuka botol itu dan mengulurkannya lagi. “Beneran enggak mau? Kalau enggak, aku habisin.” “Habisin aja.” Sejujurnya, aku memang haus. Namun, aku sedang tidak ingin menerima kebaikan apa pun dari mantan yang dulu pernah menyakitiku dengan begitu sadisnya. Jelas sadis! Dia mengatakan cerai saat kami baru saja selesai … b******a! Ah, mengingat itu membuatku ingin emosi lagi dan lagi! “Mama, aku udah mainnya!” seru Fafa tiba-tiba. “Oke, sayang. Habis ini kita pulang, ya?” “Iya, Ma.” “Fafa enggak mau mampir ke mana-mana, kan? Misal mau beli apa, gitu?” “Enggak, Mama. Mau pulang aja.” “Okay!” Akhirnya, Fafa keluar dari area Bouncy Castle. Saat aku hendak memeluknya, dia malah berlari ke arah Mas Dewa yang sudah lebih dulu jongkok dan merentangkan kedua tangan. “Fafa! Kok kamu—” “Aku mau ikut Papa, Ma!” “Dia bukan Papamu. Panggilnya Om Dewa. Bukan Papa!” “Om?” Fafa langsung pasang ekspresi sedih. “Bukan Papa, Ma?” “Bukan. Dia bukan papamu. Kamu enggak boleh manggil Papa.” “Yuna, apa harus sekeras itu ke anak kita—” “Siapa yang anak kita? Dia bukan anak Mas, ya! Aku enggak mau dia sampai salah manggil Papa ke orang lain.” Raut wajah Mas Dewa seketika berubah. Tentu, dia tampak sangat kecewa. Perubahan itu sungguh sangat signifikan dalam hitungan detik. “F-fafa beneran bukan anakku, Na?” “Bukan! Fafa bukan anak Mas Dewa! Sekarang bawa Fafa ke sini!” Mas Dewa mengangguk. Akhirnya, dia berikan Fafa padaku. “Mama kenapa galak banget sama Papa?” “Dia bukan papanya Fafa, sayang. Dia Om Dewa. Panggil Om, ya?” Meski tampak tak rela, akhirnya Fafa menganguk. “I-iya, Ma. Om Dewa.” “Anak pinter.” Aku tahu ini kejam. Aku menyuruh anakku memanggil ayah kandungnya dengan sebutan Om. Namun, aku benar-benar belum rela kalau Mas Dewa dengan enaknya bisa mendapatkan kasih sayang Fafa di saat dulu dia menyuruhku pergi dengan begitu mudahnya. Dia sudah tidak ada saat aku hamil, melahirkan, sampai masa-masa Fafa membuatku begadang. Semuanya kulalui sendiri. Maksudku, justru orang lainlah yang menemani. Dan sekarang, dia ingin mendapatkan kasih sayang Fafa hanya bermodal kalau dia ayah kandung? Jelas tidak akan kubiarkan dengan mudah. Enak saja! “Aku pulang dulu, Mas.” Aku masih punya hati untuk tetap pamit— meski hanya seperlunya. “Om, aku pulang dulu sama Mama,” lanjut Fafa. Mas Dewa mengangguk. “Oke. Tapi Om pengen peluk Fafa bentar. Boleh, kan?” Fafa melirikku, seolah minta izin. Mas Dewa juga menatapku, sama-sama minta izin. Akhirnya, aku mengangguk. “Ya, boleh. Asal jangan lama-lama.” “Kalau aku gendong Fafa dan aku antar sampai mobil kalian, gimana?” “Enggak—” “Na! Hanya gendong aja. Parkiran agak jauh. Biar Fafa enggak jalan dan kamu enggak capek.” “Y-ya udah, iya.” Akhirnya, Mas Dewa menggedong Fafa dan mengantar kami ke mobil yang terparkir di parkiran. Aku sengaja jalan belakangan, melihat pemandangan yang tak pernah kusangka akan terlihat secepat ini. Andai tidak pernah ada masalah seperti dulu, harusnya Fafa bisa mendapatkan keluarga yang lengkap. Namun, aku benar-benar belum bisa berdamai dengan Mas Dewa. Jangankan berdamai, memaafkan sedikit saja rasanya masih sangat sulit bagiku. “Fafa hati-hati pulangnya sama Mama. Om balik dulu,” ujar Mas Dewa begitu dia menurunkan Fafa di samping mobil. “Oke, Om. Makasiiih.” “Sama-sama.” Aku segera membuka pintu mobil dan meminta Fafa masuk. Dia patuh. “Fa, tunggu Mama bentar, ya. Mama mau ngomong sama Om dulu.” “Oke, Ma.” Setelah pintu ditutup, aku langsung menghampiri Mas Dewa. Dia seperti sudah siap kalau aku akan ngobrol dengannya. “Mas …” “Apa?” “Urusan di antara kita bener-bener udah selesai. Tolong segera kirim akta cerai ke rumah orang tuaku. Dan tolong banget, jangan sering muncul di depan Fafa. Jangan bikin dia berharap kalau Mas itu ayahnya.” “Jadi, aku beneran bukan ayahnya, Na? Fafa bener-bener anak orang lain?” “Harus berapa kali aku bilang? Dia bukan anak Mas!” Mas Dewa mengangguk. “Baiklah.” “Makasih atas pengertiannya.” “Ya.” Akhirnya, aku buru-buru masuk mobil. Aku juga buru-buru menyalakan mesin dan pergi. Namun, baru beberapa menit aku keluar area pasar malam, air mataku sudah menetes deras. Itu karena aku melihat Fafa tahu-tahu sudah terlelap di jok samping. Aku menepikan mobil sejenak, lalu kucium kepala Fafa pelan. “Fa, maafin Mama, ya? Papamu dulu terlalu jahat sampai Mama susah banget buat maafin dia. Fafa jangan marah sama Mama. Mama bisa besarin Fafa sendirian. Mama janji akan selalu bahagiain Fafa.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD