Hari ini aku akan bertemu Mas Dewa setelah selesai ngajar. Kebetulan, jadwal ngajarku hanya sampai siang pukul setengah dua belas. Aku akan langsung menuju hotelnya, yang mana letaknya cukup jauh karena dekat dengan bandara.
Kalau naik mobil dan lancar, harusnya satu jam sudah tiba. Kalau ada macet-macetnya, mungkin butuh kurang lebih satu jam seperempat sampai satu jam setengah.
Kalau siang, harusnya lancar. Pasalnya, tidak bareng-bareng dengan orang yang berangkat atau pulang kerja. Anak sekolah pun sedang sibuk-sibuknya.
“Bu Yuna, jadi ketemu Pak Dewa hari ini?” tanya Pak Hadi begitu melihatku keluar ruangan dosen. Beliau sendiri tampaknya baru selesai kelas.
“Iya, Pak, jadi. Saya sudah janji jam satu tiba di sana.” Aku melirik arloji di tangan. Ini belum ada jam dua belas, harusnya sampai. “Kebetulan, jadwal ngajar saya sudah beres. Saya juga sudah bilang Pak Ammar.”
Pak Ammar adalah kepala jurusan kami. Dia yang pernah kubilang orangnya sangat perfeksionis. Untuk ukuran KaJur, dia masih tergolong muda. Pasalnya, umurnya bahkan belum genap setengah abad.
“Iya, Bu. Harusnya waktunya cukup. Biasanya jam segini enggak macet. Semoga lancar, ya! Nanti laporannya kasih ke saya biar saya periksa juga.”
“Baik, Pak.”
Pak Hadi ini sejak awal selalu baik sekali. Sejujurnya, beliau ada ngalah bagi hasil denganku. Tadinya persenannya banyak beliau selaku penganggung jawab, tetapi pada akhirnya beliau membalikkan presentase itu.
Alibi beliau, katanya aku akan kerja lebih banyak. Sudah sepantasnya aku dapat upah lebih banyak pula. Dan sebetulnya memang benar. Aku yang akan lebih banyak terjun ke lapangan langsung.
Namun, tetap saja, beliau pengangung jawabnya. Kalau ada apa-apa, beliau dulu yang akan kena. Beliau dapat lebih banyak juga make sense. Di mana-mana, ketua atau penanggung jawab pasti upahnya lebih gede.
Di sini aku paham betul kalau Pak Hadi sangat memikirkanku yang notabene ibu tunggal. Pasalnya, beliau cerita kalau adik beliau juga ibu tunggal karena ipar tak selamat dari kecelakaan pesawat. Jadi, rasa empati beliau sangatlah besar.
“Hati-hati, Bu Yuna! Tetap berkabar dengan saya.”
“Pasti, Pak.”
Saat aku baru saja sampai di parkiran, telepon dari Mas Dewa sudah masuk. Aku diamkan sampai panggilan itu mati sendiri.
Bicara kontak Mas Dewa, ini sudah dengan nomor baru. Nomor yang dulu kublokir. Mungkin juga dia memang sengaja ganti untuk memulai hidup baru setelah menduda.
Belakangan ini, aku tiba-tiba dapat laporan kalau semasa dia melajang, banyak sekali cewek yang mengejarnya. Tidak heran. Sejak dulu pun sudah begitu. Aku sampai kenyang dapat laporan.
“Ih, telepon muluuu! Habis ini juga ketemu!”
Aku yang hendak menyalakan mobil, jadi urung. Akhirnya, aku segera mengangkat panggilan itu. Siapa tahu penting.
“Hallo, Pak Dewa?” sapaku sengaja dengan nada formal. Ini karena kami akan bertemu untuk urusan pekerjaan. Tidak lebih!
“Jam satu, Bu Yuna. Saya tunggu.”
“Iya. Saya sudah janji, pasti akan saya tepati. Ini sudah mau on the way. Saya baru saja selesai ngajar.”
“Oke. Saya tunggu. Sekalian nanti saya ingin kasih tunjuk sesuatu pada Bu Yuna.”
“Ya.”
“Ya saja, Bu?”
“Lalu saya harus bilang apa?”
“Kamu enggak penasaran, Yun?” mendadak saja, dari yang formal langsung santai.
“Enggak! Sama sekali!”
“Baiklah! Lihat nanti, apakah kamu masih bisa ketus begitu.”
“Saya enggak ketus, Pak Dewa. Saya hanya membalas seperlunya. Dan kalau ingin saya lekas sampai, tolong sudahi panggilan ini. Kalau mau lanjut, jangan salahkan saya misal terlambat!”
“Baru kali ini saya punya mitra kerja segalak ini.”
“Anda yang milih saya, Pak. Tanggung risikonya sendiri.”
“Mulanya saya mana tahu kalau itu kamu. Fajar yang nyari.”
“Jadi mau sampai kapan teleponnya?” aku mulai kesal. “Saya enggak berangkat-berangkat, jadinya.”
Tut!
Tiba-tiba saja mati. Tanpa pamit, tanpa prakata sedikit pun.
Tidak masalah. Tidak peduli juga.
“Dasar manusia aneh! Kenapa dulu aku pernah kecintaan sama orang begini? Pasti dulu aku diguna-guna!”
Aku melempar ponsel ke jok sebelah, lalu menyalakan mesin mobil. Akhirnya, aku pun pergi meninggalkan area kampus dan bergegas menuju hotel Havenwood yang terletak di Kabupaten Kulonprogo.
***
“Jadi begitu rencana saya kedepannya. Jika ada yang kurang berkenan, silakan sampaikan. Saya akan revisi dan perbaiki. Jika cukup, maka saya akan langsung sampaikan ke pihak yang bersangkutan.”
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Mas Dewa langsung menandatangani proposal dariku. Aku sampai mendelik karena dia tak komplain sedikit pun. Padahal, aku membuat proposal itu tidak lama. Dua hari langsung jadi.
“Sudah saya tanda tangani.” Mas Dewa tiba-tiba berdiri. Dia juga mengulurkan tangannya padaku. “Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar, Bu Yuna.”
Aku berdehem pelan, lalu ikut berdiri dan mengulurkan tangan. Kami pun saling menjabat satu sama lain.
“Baik, Pak. Semoga kerja sama ini memberi hasil terbaik. Semoga juga, Havenwood tidak lagi terkena masalah seperti yang pernah dialami sebelumnya.”
“Ya. Semoga.”
Ini bukan tanda tangan kontrak, karena yang kontrak sudah waktu itu saat bersama Pak Hadi. Ini hanya pure proposal perencanaan program dariku yang mendapat persetujuan Mas Dewa selaku Owner Havenwood.
Proposal ini nantinya akan diberikan ke berbagai pihak yang bersangkutan. Tentu, semuanya langsung ke para pekerja lapangan. Ralat, ada yang tidak, tetapi hanya sebagian kecil.
“Untuk mengawali kerja sama kita kali ini, saya ada sesuatu buat Bu Yuna.”
Kedua alisku langsung menekuk. “Apa itu?”
“Tolong ambilkan, Jar,” ujar Mas Dewa pada Fajar.
“Baik, Pak.”
Si Fajar keluar sebentar, lalu kembali dalam satu menitan. Aku langsung melebarkan mata saat melihat Fajar membawkaan kotak boneka barbie yang sangat besar. Kurasa, ini mainan barbie terbesar yang pernah kulihat.
“I-ini maksudnya—”
“Ada bingkisan sederhana untuk anak Bu Yuna. Hanya terima kasih kecil karena Bu Yuna sudah mau bekerja sama dengan saya. Kalau untuk Bu Yuna, saya bingung. Jadi, untuk anak Bu Yuna saja. Karena pastinya, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan Ibu.”
Oh, aku tentu tidak bisa positive thinking. Jelas Mas Dewa ada maksud lebih. Aku yakin sekali.
Dan pasti, berhubungan dengan Fafa. Makanya dia langsung membidik mainan.
“Sebelumnya, terima kasih banyak atas perhatian Pak Dewa pada saya dan anak saya. Tapi maaf sekali, Pak. Saya enggak bisa menerima.”
“Ini bukan dari manajemen hotel. Ini dari saya pribadi.”
“Justru saya semakin enggak bisa menerima. Kerja, ya, kerja. Pribadi, ya, pribadi.”
“Tidak boleh menolak rezeki anak, Bu,” sahut Fajar.
Kutatap tajam mata Mas Dewa, dia malah tersenyum tanpa dosa. Dia juga mengulurkan tangan seolah mempersilakanku untuk mengambil hadiah darinya.
Memang, belakangan ini Fafa minta satu set mainan barbie. Aku bisa membelikan, hanya belum sempat. Ini malah Mas Dewa membelikan yang sangat besar, jauh dari yang ingin kubelikan untuk Fafa.
“Bu Yuna?” Mas Dewa mengibaskan tangan di depan wajahku.
“B-baik. Karena saya enggak ingin menghalangi rezeki anak, maka saya terima. Tapi saya minta, lain kali enggak perlu seperti ini. Dan terima kasih sekali atas perhatiannya.”
Tiba-tiba saja, Fajar keluar lagi. Padahal, aku tidak melihat Mas Dewa memberi perintah apa pun.
Mau apa, dia?
“Pak … karna sudah enggak ada yang perlu dibahas lagi, saya perimisi sekarang.”
“Tunggu!”
Aku yang tadinya sudah berdiri, akhirnya duduk lagi. “Kenapa, Pak?”
“Fafa harusnya suka, kan, Yun?”
Aduh! Mas Dewa malah sudah mode santai!
“Suka atau enggak suka, saya terima.”
“Aku kemarin sempat nanya dia, dia bilang ingin boneka barbie.”
“Curang banget!” balasku refleks, lengkap dengan nada yang juga ikut santai.
“Anakku harus dapat yang terbaik.”
Mataku langsung mendelik. “Anakku? Mas, udah kubilang berkali-kali, lho! Fafa itu bukan anakmu. Jangan seenaknya sendiri!”
Tiba-tiba, Fajar kembali. Dia datang membawa berkas yang dibungkus map bening. Dia menyerahkan map itu padaku.
“Silakan dibaca baik-baik, Bu Kamayuna!” ujar Mas Dewa santai dan tegas di saat bersamaan.
Aku buru-buru membaca berkas itu, dan kali ini aku merasa seolah ditampar dengan keras oleh Mas Dewa. Ditampar atas fakta yang menampik semua kebohonganku beberapa waktu lalu.
Mas Dewa berdiri mendekat, aku pun refleks berdiri dan mundur. Fajar kembali pergi.
“M-mas, mau apa?” aku berhenti mundur karena punggungku sudah mentok di tembok. “M-mas—”
Mas Dewa mengambil berkas di tanganku dan tersenyum miring. “Kalau aku enggak langsung tes DNA, sampai kapan kamu akan betah membohongiku, Na? Fafa itu anak kandungku. Dia sangat berhak atas nafkah dariku. Ngerti?!”
***