21. Lebih Baik Diam!

2002 Words

Aku terbangun saat kurasakan tenggorokan kering luar biasa. Begitu membuka mata, aku dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di depanku. Pemandangan yang membuat cemburu, tetapi sama sekali tidak bisa marah. Di depanku, Fafa sedang tidur sembari memeluk Mas Dewa. Mereka sama-sama pulas, bahkan terdengar dengkuran halus dari keduanya. Bagaimana aku tidak cemburu melihat itu? Bahkan saat tidur saja, mereka sangat kompak. Literally, tidak perlu tes DNA untuk membuktikan kalau mereka adalah ayah dan anak. Namun, sekalipun cemburu, aku tidak bisa marah. Justru hatiku agak tergelitik, tetapi sulit untuk diungkapkan. Terlebih Mas Dewa juga masih menghormatiku. Dia menjaga jarak yang cukup aman. Aku ditaruh di sudut paling kiri, sedangkan dirinya paling kanan. Ada jeda lebar sekali di anta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD