BAB 2

1416 Words
Semua orang berhenti bicara dan kini fokus menatapnya. Sang pengacara berdehem, menatap Zayne yang sedari tadi terdiam. “Perusahaan induk, diserahkan pada Zayne, dengan catatan—” “Nggak mungkin! Bagaimana bisa bocah sialan itu mewarisi semua!” “Hei, Pengacara. Kami yang bekerja keras bersama kakak kami. Kenapa malah dia yang mendapatkan warisan!” Sekali lagi perdebatan dimulai. Kali ini tentang Zayne yang menerima warisan dari papanya. Sedangkan mereka semua tahu kalau hubungan antara Zayne dan Julian, tidak pernah akur. Ayah dan anak itu bahkan tidak tinggal bersama selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin sekarang mendapatkan warisan? “Pak Elias, Pak Evan. Harap bersabar. Perkara wasiat dan warisan sudah ditentukan. Kami selaku pengacara hanya bertindak sebagai perantara.” “Robert! Ingat kedudukanmu!” Evan menggebrak meja, menunjuk pengacara. “Jangan-jangan kamu bersekongkol dengan bocah tengil ini!” Robert menyeka keringat, menatap orang-orang yang marah dan seolah-olah ingin menelannya. Tersenyum simpul, ia berdehem. “Pak, tolong dijaga bicaranya. Kalau melampaui batas, Anda berarti meragukan integritas profesi kami.” “Halah! Pengacara bayaran!” Perdebatan dan caci maki semakin ricuh, suara-suara meninggi hingga memekakkan telinga. Kini, sasaran mereka adalah Robert, sang pengacara yang sejak tadi berusaha menenangkan situasi dengan nada diplomatis. Arielle berdecak pelan, matanya menatap sekilas ke arah meja panjang yang kini penuh wajah memerah oleh emosi. Ia sudah muak. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dari kursinya dan melangkah menuju kamar. Dari sudut matanya, ia sempat melihat Zayne bersandar malas di kursi, matanya terpejam seolah seluruh drama ini tidak berarti apa-apa. Pemuda itu tampak bosan—atau mungkin terlalu lelah—mendengar rengekan orang-orang yang saling berebut warisan seakan lupa bahwa semua ini bermula dari kematian seseorang. Begitu memasuki kamar, suasana berubah hening. Arielle menghampiri ranjang bayi dan menatap sosok mungil yang tidur pulas di sana. Napas kecil itu naik-turun lembut, menenangkan sekaligus menyayat hati. Hatinya diremas rasa iba; bayi sekecil itu sudah kehilangan segalanya. Dengan tangan gemetar, ia mengusap pipi lembut Axel, menahan isak yang hampir pecah di tenggorokan. “Axel, Sayang. Bagaimana kelak kita menghadapi hari-hari? Semoga aku bisa selalu melindungimu. Axel, kamu pasti kangen mama dan papa. Mereka sudah di surga, Sayang.” Tak kuasa menahan beban yang menyesakkan d**a, Arielle akhirnya ambruk di lantai. Isaknya pecah tanpa bisa dibendung, menggema lirih di ruangan yang hanya diterangi cahaya temaram dari lampu tidur. Tubuhnya gemetar hebat, sementara tangannya berusaha menutup mulut agar tangisnya tidak membangunkan bayi di ranjang. Tapi air mata itu terus mengalir, deras, seolah membawa keluar seluruh luka yang menumpuk di dadanya. Ia kehilangan segalanya—bukan hanya seorang kerabat, tapi bagian dari dirinya sendiri. Evelyne bukan sekadar sepupu. Ia adalah sosok kakak, pengganti orang tua, tempat Arielle bersandar ketika dunia terasa terlalu berat. Sejak kecil, hanya Evelyne yang menggenggam tangannya, menuntunnya melewati kehilangan demi kehilangan. Dan kini, tangan itu telah terlepas selamanya. Arielle menatap bayi mungil di hadapannya, napasnya tersengal di antara tangis. Bayi tak berdosa itu kini menjadi satu-satunya alasan untuk tetap bertahan, meski di luar sana, dunia mereka telah berubah menjadi medan perebutan harta dan kepentingan. Dalam keheningan yang pilu, ia berjanji dalam hati—ia akan melindungi bayi itu, apapun yang terjadi. “Kami tidak akan diam tentang ini. Kami akan menggugat kalian!” Evan, dibantu oleh sang kakak, Elias membuat pernyataan keras sebelum akhirnya pergi diikuti oleh anak-anak mereka. Zayne yang sedari tadi terdiam, menghela napas panjang setelah ruang tengah sunyi. la bertukar pandang dengan Robert, sang pengacara. “Pak, aku rasa kamu salah tentang sesuatu,” ucapnya. Robert tersenyum. “Kenapa? Kamu juga tidak yakin kalau papamu mewariskan perusahaan induk untukmu?” Zayne membungkuk, duduk condong ke meja dengan tatapan tidak percaya. “Aku dan papa, tidak pernah akur satu sama lain. Kami memang tidak bertengkar atau saling membenci, hanya saja tidak pernah sepakat tentang banyak hal. Aku tahu papaku membenciku.” “Kamu salah, Zayne. Papamu selalu memujimu!” “Cih! Tai kucing! Mulai kapan orang tua itu memujiku? Setiap kali kami bertemu, seolah-olah ingin membunuh satu sama lain.” “Zayne, tapi itu kenyataannya. Pak Julian dan istrinya sepakat kalau perusahaan harus diwariskan untukmu dengan satu catatan.” “Nah, 'kan? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi soal catatan itu. Harusnya om dan tanteku tahu kalau tidak mudah mendapatkan warisan meskipun dari papa sendiri.” Zayne mengibaskan tangan. “Aku nggak mau dengar apapun, terutama soal catatan.” “Ah, ngomong-ngomong, dari yang kami dengar perusahaan start-up milikmu sedang goyah. Kenapa? Kekurangan modal?” Zayne menatap Robert yang duduk tegak dengan senyum palsu tersungging. Laki-laki itu sedang mengujinya ternyata. Pasti semua sudah dipikirkan oleh papa dan pengacaranya sebelum perkara warisan ini diberitahukan. “Katakan padaku, Pak Robert. Kenapa papa mewariskan perusahaan induk padaku. Beri aku alasan yang sebenarnya, bukan hanya perkara cinta seorang anak pada papa. Beritahu aku juga, bagaimana kalian tahu kalau perusahaanku sedang membutuhkan modal.” Robert berdehem pelan, mencoba menarik perhatian di tengah ruangan yang mulai hening. Tatapannya jatuh pada sosok Zayne—laki-laki muda dengan wajah tampan dan aura dingin yang sulit ditembus. Duduk santai dengan tangan terlipat di d**a, Zayne tampak sama sekali tidak terusik oleh tatapan penuh penilaian dari orang-orang di sekelilingnya. Ia selalu seperti itu: tenang, datar, dan nyaris tak tersentuh emosi. Namun, Robert tahu betul siapa Zayne sebenarnya. Di balik sikap acuh dan senyum sinisnya, lelaki itu memiliki otak tajam dan insting bisnis yang luar biasa—warisan langsung dari Julian, sang ayah. Ironisnya, hubungan mereka berdua tidak pernah benar-benar baik. Terlalu banyak ego, terlalu banyak luka yang tidak pernah diobrolkan. Sekarang, di hadapan semua orang, Zayne harus menanggung tugas yang tak ringan: menjalankan amanah terakhir dari Julian. Bukan hanya sebagai penerus, tapi juga sebagai seorang anak yang diminta menebus warisan yang tertinggal—bukan harta, melainkan tanggung jawab dan rahasia yang belum terungkap.Bagian Atas Formulir Bagian Bawah Formulir “Papamu selalu memperhatikanmu, Zayne. Dia selalu bangga kamu mampu membangun perusahaan di usia yang begitu muda. Kalau bukan karena kebencianmu, dia dengan senang hati akan membantumu. Kalau kamu tanya, kenapa perusahaan tidak diwariskan ke saudaranya, yang selama ini selalu bersamanya, tapi maiah diserahkan padamu. Tentu saja ada alasannya.” Zayne tidak menjawab, mendengarkan pernyataan Robert dengan tekun. “Papamu, mempercayaimu, lebih dari siapa pun. Bahkan adik-adiknya sendiri. Itu yang beliau ucapkan padaku. Karena terus terang aku juga bertanya hal yang sama. Adik-adiknya hebat dalam menjalankan bisnis tapi terlalu serakah.” Zayne menepuk lubang telinga, tersenyum mengejek. “Entah kenapa aku merasa kalau ini hanya sekadar pujian biasa. Papaku pasti menginginkan hal yang lain bukan?” Robert mengangguk. “Memang, beliau ingin kamu menjaga adikmu. Axel masih bayi, membutuhkan kasih sayang. Yang dipunyai bayi itu hanya kamu sebagai kakaknya, dan juga Arielle. Kalian berdualah, yang paling pantas untuk merawat bayi itu.” “Hah, tahu apa aku soal bayi?” “Kamu tidak tahu tapi Arielle sangat dekat dengan Axel. Dia tahu bagaimana merawat dan menjaga adikmu.” Penyebutan soal adik membuat Zayne mendengkus. Ia sedikit jengkel karenanya. Di usinya yang hampir menginjak 30 tahun, di mana dirinya seharusnya sudah menikah dan punya anak, justru malah punya adik bayi. Semua karena papanya yang sudah tua menikah lagi dengan perempuan muda. Semua masalah ini membuat Zayne jengkel. “Soal catatan warisan, apa yang diinginkan papaku.” “Papamu akan memberikan warisan dengan catatan, kamu merawat adikmu dan juga Arielle.” Zayne mengernyit. “Gadis itu? Dia sudah besar untuk apa aku mengasuhnya?” “Bukan mengasuh tapi kalian bekerja sama untuk merawat Axel. ltu yang diinginkan oleh papamu.” “Sungguh tidak masuk akal. Perkara warisan lalu merembet soal bayi dan gadis yang aku nggak kenal.” Zayne meraih jas hitam yang disampirkan ke lengan sofa dan memakainya. Berdiri menatap Robert, ia berujar dingin. “Aku tidak peduli dengan perusahaan papaku. Serahkan pada orang lain kalau mereka mau. Satu lagi, jangan ganggu hidupku dengan urusan t***k bengek soal bayi!” “Zayne! Tunggu! Aku belum selesai bicara!” “Aku sudah, Pak Pengacara dan kita sudahi omong kosong ini!” Robert bangkit dari sofa, menjajari langkah Zayne. Mereka berdua meninggalkan rumah besar itu tanpa berpamitan. Arielle berdiri diam dengan bayi di lengannya. Ia mendengar penolakan Zayne soal menjaga Axel. Tidak masalah untuknya, karena ia mampu merawat bayi ini sendirian. Masalahnya, bukan itu yang ia takutkan sekarang, tapi hal lain. “Bagaimana kalau orang-orang itu, demi warisan akan berusaha merebutmu dariku. Bagaimana aku bisa mempertahankanmu di pelukanku, Sayang? Kasih tahu aku, harus bagaimana?” Arielle memeluk erat bayi itu di dadanya, berdiri menghadap jendela terbuka yang menampakkan langit mendung. Dingin, suram, dan kesedihan membuat tubuh serta jiwanya menggigil dalam ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD