Zayne menatap ruang kantornya dengan pandangan menerawang. Mendengarkan bagaimana pegawainya yang rata-rata adalah anak muda berpotensi, sedang mengeluh tentang kondisi market yang tidak stabil dan juga kurangnya dana. Pihak perusahaan sendiri sudah berusaha menggaet investor, tetapi tidak kunjung diterima. Mereka kini membicarakan tentang start up saingan yang justru sedang berkembang pesat.
“Produk kita cukup unik dan sedang diminati. Tapi, daya jangkauan kurang luas. Yang membuat kita seperti kehilangan sedikit kendali di sektor ini.”
Pemaparan dari manajer pemasaran membuat Zayne menghela napas panjang. Setelah meeting selama lima jam, tetap saja soal pendanaan adalah masalah utama. Zayne mendirikan perusahaan start up ini berupa olahan ayam, ikan, dan daging. Dikemas secara instan dengan metode memasak menggunakan level kepedasan. Sasaran utama adalah anak anak muda. Sayang sekali, di tahun ketiga agak tersendat karena dana.
Selesai rapat, ia melemaskan pikiran dan otak dengan bersantai di kantornya. Memberikan instruksi khusus agar tidak ada yang mengganggunya. Hujan lagi-lagi turun hari ini, mengingatkan akan pemakaman papanya.
“Kalau kamu menerima warisan ini, maka perusahaanmu akan selamat. Yang kamu lakukan hanya satu, menjaga Arielle dan bayi itu.”
Perkataan Robert terngiang di kepala. Sudah dua minggu ini dari terakhir kali bertemu di rumah besar itu, Zayne belum bertemu dengan pengacara. Ia tidak ada keinginan untuk menelepon, dan terlebih mengatakan akan menerima isi wasiat. Ia tidak akan pernah menelan ludah yang sudah ia muntahkan.
“Sayang, aku menunggumu di kafe. Turunlah sebentar.”
Pesan singkat dari Jenniferffer membuat Zayne menghela napas panjang, matanya menatap layar ponsel dengan jengkel. Ia sedang tidak ingin diganggu, pikirannya masih penuh dengan urusan kantor dan wasiat yang belum selesai. Namun, ia tahu betul sifat kekasihnya itu—manja, keras kepala, dan tidak suka menunggu. Jika ia menolak datang, Jenniferffer pasti akan membuat keributan yang lebih melelahkan dari rapat terpanjang sekalipun.
Dengan enggan, Zayne berdiri dari kursinya dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi. Ia melangkah keluar dari kantor menuju lift, menatap angka-angka digital turun perlahan hingga lantai dasar. Setibanya di kafe, aroma kopi bercampur parfum mahal menyambutnya.
Pandangan matanya langsung menangkap sosok perempuan berkacamata hitam di sudut ruangan. Duduk anggun, dengan dua orang pria di sisinya—mungkin pengawal atau sekadar pemuja. Begitu melihat Zayne datang, keduanya segera berdiri dan menyingkir, memberi ruang untuknya. Jeniffer tersenyum tipis, senyum yang lebih terdengar seperti perintah daripada sapaan hangat.
“Sayang, apa kabarmu? Dua Minggu kita nggak ketemu.”
Jeniffer, seorang pemilik brand skincare terkenal, dan sekaligus selebgram dengan delapan juta pengikut di istagram. Jeniffer bertubuh tinggi, putih, dan sangat cantik. Jeniffer bangkit dari kursi, memeluk Zayne dan memberikan kecupan singkat di pipi kekasihnya.
“I miss you so much.”
Zayne tersenyum, duduk di seberang Jeniffer. Menatap perempuan yang menjadi kekasihnya selama satu tahun ini tanpa berkedip. “Kenapa mendadak kamu datang kemari? Ada urusan apa?”
Nada perkataan Zayne yang tajam membuat Jeniffer mengernyit. “Kamu masih marah sama aku? Soal itu sudah lama berlalu.”
Zayne mengangkat sebelah alis. “Masalah yang mana? Bisa diperjelas?”
“Zayne, Sayang. Itu hal kecil.”
“Hah, kamu jalan dengan laki-laki lain ke luar negeri dan bilang kalau itu masalah kecil?”
“Kami urusan pekerjaan.”
“Hanya berdua? Biasanya kamu ke mana-mana bawa asisten, Jeniffer. Kenapa saat itu hanya berdua dan menginap dua malam. Tolonglah, siapa yang ingin kamu bohongi.”
Jeniffer menggigit bibir bawah, menghela napas frustrasi. Sebulan berlalu dari terakhir kali mereka bertemu, ia kira Zayne sudah melupakan masalah itu. Ternyata dugaannya salah. Laki-laki itu masih mengingat dengan jelas dan sepertinya tidak akan lupa begitu saja.
“Aku datang sebenarnya untuk mengucapkan berduka cita. Baru dengar soal papamu. Maaf, nggak bisa datang waktu itu karena—”
Zayne mengangkat tangan. Memberi tanda pada Jeniffer untuk berhenti bicara. “Kita sudahi semuanya. Pembicaraan ini dan juga hubungan kita.”
“Tidaaak! Aku nggak mau. Aku sayang sama kamu, Zayne.”
“Rasa sayangmu murah, Jeniffer. Tergoda pada laki-laki yang jauh lebih tampan dan bintang film terkenal. Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi.”
Zayne bangkit dari tempat duduknya, Jeniffer bergerak cepat untuk memegang Iengannya dan berbisik Iembut. “Dengar, Sayang. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Beri aku kesempatan untuk membuktikan soal hatiku. Semua cintaku hanya untukmu. Tidak ada orang lain.”
Zayne melepaskan pegangan Jeniffer di lengannya. Mengusap lembut pipi perempuan itu dengan telunjuk lalu balas berbisik. “Kamu cantik, sayangnya berbisa. Jangan lagi menemuiku, Jeniffer.”
“Zayne! Tunggu, kita belum selesai bicara. Zayne!”
Tidak lagi mengindahkan panggilan Jeniffer, Zayne melangkah cepat meninggalkan kafe. Pikirannya sedang ruwet karena masalah perusahaan dan konflik keluarga. Kedatangan Jeniffer makin membuatnya kesal. Lebih baik untuk sementara waktu ia menolak bertemu dengan orang-orang yang berpotensi membuat mood-nya rusak.
***
“Nona, bagaimana dengan pakaian milik tuan dan nyonya?”
“Letakkan saja di lemari, jangan diotak-atik. Cukup bersihkan kamarnya sehari sekali lalu tutup dan kunci. Tidak boleh ada yang masuk sembarangan.”
Arielle memberi perintah-perintah pada pelayan. Mereka melakukan pembersihan rumah secara menyeluruh, mengganti gorden, dan merapikan barang-barang milik almarhum. Sang bayi sedang diajak main oleh seorang pengasuh di ruang tengah, memberinya keleluasaan untuk bekerja.
Dua Minggu berlalu, kematian Julian dan Evelyne meninggalkan lubang kecil dalam hati Arielle. Ia masih sering menangis saat teringat mereka, terutama kala sang bayi sedang rewel. Hanya dirinya yang mampu menenangkan si bayi.
“Wah-wah, ada apa ini?”
Seorang wanita dan anak perempuannya masuk tanpa permisi. Keduanya menatap Arielle yang sedang mengamati pelayan bekerja di ruang tamu.
“Apa kabar Tante, Odellia,” sapa Arielle ramah. “Silakan duduk.”
Marry, menatap Arielle sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangan pada anak perempuannya. “Odellia, lihat bukan? Setelah kematian kakak iparku, dia makin bertingkah seolah nyonya rumah.”
Odellia mendengkus, tangan bersedekap. “Tentu saja, Mama. Kapan lagi gadis miskin sepertinya bisa tinggal di rumah besar ini.”
Marry maju, mengamati Arielle yang memakai gaun rumah sederhana dengan warna yang memudar. Kacamata yang dipakai gadis itu makin menambah kesan lugu.
“Aku mau tanya padamu, Arielle. Sihir apa yang kamu berikan pada kakak iparku dan istrinya, sampai mereka memberimu rumah besar ini, hah?”
“Tante, saya rasa kalian salah menduga,” ucap Arielle.
“Tantee? Jangan panggil aku tante, tapi nyonya. Sudah selayaknya kalau pembantu dan pengasuh anak sepertimu harus menghormati orang sepertiku!”
Arielle menghela napas panjang, mencoba menahan rasa jengah yang mulai memenuhi dadanya. Sejak awal, ia sudah menduga—kedatangan dua orang itu tidak akan membawa ketenangan, melainkan masalah baru yang membuat napasnya semakin berat. Ia menatap sekilas, tanpa banyak ekspresi, tapi dalam hati ia tahu: keberadaan mereka hanyalah sumber keributan yang lain.
Sebenarnya, Arielle tidak pernah dekat dengan keduanya. Tidak pernah ada percakapan hangat, apalagi hubungan kekeluargaan yang layak disebut akrab. Selama ini ia hanya menjadi penonton, melihat mereka dari jauh ketika sesekali datang ke rumah dengan senyum manis yang tampak dibuat-buat.
Ia masih ingat betul—tatapan ibu dan anak itu saat pertama kali bertemu. Ada senyum sopan di bibir mereka, tapi mata mereka berkata lain. Ada penghinaan halus di sana, pandangan merendahkan yang membuat Arielle merasa kecil. Dan kini, melihat mereka berdiri di ruang tamu seolah berhak atas segalanya, rasa muak itu kembali menguar, menyesakkan d**a.
“Maaf, tapi saya tetap merasa kalian salah menduga. Tidak ada yang menyihir siapa pun. Saya di rumah ini kerja merawat Axel.”
“Halah, siapa yang mau lo bohongi? Semua tahu lo sengaja deket-dekat sama tuh bayi, biar dapat warisan orang tuanya!” celetuk Odellia.
Arielle menatap jengkel pada gadis seusianya yang menatap sangar ke arahnya. Tidak ada orang yang pernah suka dengan kematian orang lain, terlebih Evelyne adalah saudara satu-satunya. Siapa yang bisa menduga jalannya takdir?
“Ucapanmu seolah-olah kamu sudah mengetahui rencana Tuhan,” desah Arielle. “Tidak ada yang tahu bagaimana takdir Tuhan bekerja bukan?”
Odellia mengangguk. “Memang benar. Tapi kematian juga bisa dibuat oleh manusia.” Melihat Arielle mengernyit bingung, ia berbisik lirih. “Jangan-jangan kecelakaan itu sebuah konspirasi dan ada orang yang terlibat di dalamnya.”
Arielle menahan napas, menatap bergantian ibu dan anak di depannya. Tidak habis pikir bagaimana mereka bisa begitu curiga dengannya. Apa yang bisa ia lakukan untuk mencelakakan orang lain?
Marry maju, menepuk pundak Arielle. “Kenapa diam? Apa yang dikatakan anakku benar? Kamu terlibat? Dengan siapa? Apa karena harta? Kamu gadis miskin, ingin pastinya menikah dengan laki-laki kaya seperti sepupumu. Lalu gelap mata. Benar begitu?”