Mengepalkan tangan di kedua sisi tubuh, Arielle menahan rasa sedih yang menggayut di d**a. Salahnya apa sampai harus dihina dan dicurigai? Suara tangisan bayi menyadarkannya. Tanpa aba-aba ia berbalik, setengah berlari menuju ruang tengah.
“Ada apa?” tanyanya sambil berjongkok, mengangkat Axel yang menangis.
“Nggak tahu, tiba-tiba saja nangis.”
“Terbentur sesuatu?”
“Nggak ada, Nona.”
Arielle menggendong Axel dan menepuk punggungnya perlahan. “Ada apa, Sayang? Haus atau ngantuk?”
Odellia berdiri berdampingan dengan mamanya di pintu ruang tengah. Pandangan mereka tertuju pada Arielle yang sibuk menenangkan bayi. Secara perlahan, bayi yang semula menangis kini diam dan sepertinya mulai tertidur.
“Ma, kunci untuk mendapatkan rumah ini dan isinya ada di bayi itu,” bisik Odellia.
Marry mengangguk. “Memang, gadis miskin itu merasa sudah menjadi nyonya karena isi wasiat.”
Odellia mengernyit. “Sebenarnya, kalau kita mau berusaha ada satu jalan keluar, Ma.”
“Jalan keluar bagaimana?” Marry menatap anaknya.
“Mudah, gugat di pengadilan tentang hak asuh anak itu. Mama adalah tantenya, papa adalah om. Yang secara silsilah justru lebih dekat karena satu darah. Gadis itu bukan siapa-siapa. Gugat di pengadilan, kita lihat bagaimana hukum keluarga seharusnya bekerja.”
Marry tersenyum cerah, mengusap lengan anak perempuannya. “Benar katamu. Aduh, anak mama pintar sekali.”
Odellia mengibaskan rambut ke belakang. “Tentu saja. Apa pun harus kita lakukan bukan hanya demi rumah ini tapi juga untuk mengusir gadis miskin itu. Entah kenapa, dari pertama bertemu aku tidak menyukainya.”
“Mama juga tidak pernah suka padanya. Kalau bukan karena Evelyne, mana sudi bertukar sapa dengan gadis miskin yang tidak tahu diri.”
“Bayi itu bisa kita dapatkan, kita singkirkan gadis miskin itu. Toh, tidak ada yang melindungi mereka. Zayne kelihatannya sangat membenci pengasuh itu.”
“Zayne membenci semua orang. Dia tidakakan peduli pada adik yang tidak diinginkannya.”
“Kalau begitu, kerjaan kita sangat mudah, Mama.”
Mereka pergi tanpa sepatah kata pun, seperti saat datang tadi—meninggalkan aroma parfum tajam dan udara yang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Arielle berdiri mematung di ruang tamu, menatap punggung tamunya yang menjauh dengan langkah tergesa. Napas panjang terembus dari bibirnya, berat dan lelah sekaligus.
Sudah entah berapa kali ia mendengar panggilan itu—gadis miskin, gadis benalu, dan seribu hinaan lain yang melekat padanya hanya karena ia tinggal di rumah besar ini. Dulu, semua itu tidak pernah menyakitinya. Ia sudah kebal, sudah terbiasa dianggap rendah. Selama masih bisa merawat Axel dengan baik, ia tidak butuh pengakuan siapa pun.
Namun entah kenapa, kali ini hatinya terasa lebih rapuh. Mungkin karena ada bayi kecil di pelukannya, sosok mungil yang membuatnya ingin selalu kuat tapi justru membuatnya lebih mudah tersentuh. Arielle menatap wajah polos itu, matanya berembun. Ia tersenyum samar, menyadari bahwa sejak kehilangan Evelyne, hanya bayi inilah yang menjadi alasannya bertahan—meski dunia terus memandangnya dengan sebelah mata.
“Axel, Sayang. Bobo yang tenang, tante akan tetap di sisimu selamanya. Axel juga, jangan pergi dari aku, ya?”
Arielle mendendangkan lagu penghiburan untuk bayi dalam dekapan. Mencoba menanggalkan gundah dan kesedihan, serta meyakinkan diri kalau ada bayi yang perlu untuk dilindungi.
***
Satu panggilan dari pengacara membuat Zayne yang sedang bekerja, melesat ke kantor laki-laki itu. Sebenarnya ia enggan bertemu karena pasti soal warisan, tapi perkataan Robert mengusiknya. Mau tidak mau, ia datang dan mendengarkan laki-laki itu bicara.
“Keadaan sedikit runyam. Perusahaan induk agak kacau balau karena kosong kepemimpinan. Bisa dipastikan ada indikasi korupsi dan pegawai yang tidak bekerja dengan benar.”
Zayne melambaikan tangan. “PT. Rich Jaya Raya, bukan urusanku. Kenapa kamu harus mengatakan semuanya?”
“Zayne, tolonglah. Jangan keras kepala! Perusahaan itu membutuhkanmu!”
“Sebagai apa? Direktur? Jangan-jangan, kalian hanya menginginkanku untuk jadi tumbal di sana!”
Robert mengenyakkan diri di sofa, menatap pemuda yang bersikap sangat keras kepala. Ia menunggu hampir sebulan dan Zayne sama sekali belum melunak soal warisan. Padahal, perusahaan induk milik Julian sedang membutuhkan pimpinan.
“Aku dengar, perusahaanmu sedang terganggu.”
Zayne mendesah. “Apa lagi, Pak Pengacara?”
“Nggak ada. Aku hanya ingin kamu membuka pikiran dan hatimu. Bayangkan berapa banyak kehidupan dari para pekerjamu yang terselamatkan kalau kamu mengambil alih perusahaan induk. Bukan hanya nasib karyawan perusahaan Rich, tapi juga milikmu. Bukankah kamu berencana memecat puluhan orang? Kamu tega melakukannya? Padahal, sudah ada jalan keluar dari masalahmu.”
Zayne terdiam lama, pandangannya jatuh pada lantai marmer yang memantulkan siluet tubuhnya. Ucapan Robert masih terngiang jelas di telinga—terlalu logis untuk dibantah, terlalu benar untuk diabaikan. Ia tahu, menerima wasiat sang papa berarti memikul beban besar, tapi di sisi lain juga menyelamatkan banyak nyawa. Dua perusahaan besar yang kini terancam bangkrut, ribuan karyawan yang menggantungkan hidup di sana—semuanya bergantung pada satu keputusan yang ada di tangannya.
Ia menutup mata sejenak, membayangkan wajah-wajah mereka. Para pekerja di pabrik, staf muda di kantor, hingga keluarga kecil yang menggantungkan harapan pada gaji bulanan. Jika ia menolak, semua itu akan runtuh. Tidak hanya angka di laporan keuangan yang jatuh, tapi juga kehidupan manusia yang kehilangan arah.
Zayne menghela napas berat. Ia tidak pernah menyukai warisan itu, tidak pula ingin terikat pada masa lalu ayahnya. Namun, di lubuk hati terdalam, ia tahu menolak berarti sama saja dengan menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Dan itu… bukan dirinya. Ia bisa membenci sang papa, tapi tidak akan pernah membiarkan kesalahan masa lalu menghancurkan masa depan orang lain.
“Satu lagi yang harus kamu pertimbangkan adalah Axel. Adikmu itu sekarang sedang terancam.”
Zayne mendongak. “Maksudnya terancam apa?”
“Keberadaannya di rumah itu, harta warisan yang tidak ternilai harganya ada pada diri adikmu. Bayi yang tidak berdosa, tahu apa soal harta? Tapi, banyak orang serakah memanfaatkannya.”
Kata-kata Robert membuat Zayne mengernyit bingung. “Pak Pengacara, kamu bicara apa, sih? Bisa nggak langsung to the point?”
Robert menghela napas panjang, mencopot kacamatanya. Meraih selembar tisu, ia mengusap ujung pelupuk. “Aku merasa sangat sedih.” Suaranya dibuat seberat mungkin, seperti sedang menangis. “Nasib Axel di ujung tanduk. Evan dan Elias sudah melayangkan gugatan ke pengadilan.”
“Tentang apa?”
“Hak asuh adikmu. Mereka ingin mengasuh Axel.”
Zayne melontarkan sumpah serapah pada kedua adik sang papa. Dari dulu ia tidak pernah menyukai keduanya dan tidak berubah sampai sekarang. Bukan hanya perusahaan, tapi nasib bayi pun sekarang menjadi pertaruhan dari orang-orang yang serakah karena harta.
“b******n mereka!” maki Zayne.
Robert menatapnya, kembali mengusap pelupuk mata. “Bayi yang lemah dan tidak berdosa. Sudah kehilangan orang tua, kini juga harus berpisah dengan satu-satunya orang yang dia cintai. Bisa kamu bayangkan bagaimana nasib Axel kelak? Berada dalam pengasuhan orang-orang yang hanya peduli soal harta.”
Zayne memikirkan tentang Axel, adik yang tidak pernah diinginkan kehadirannya. Ia memang tidak menyukai istri baru papanya, tapi Axel memang tidak bersalah. Beberapa kali bertemu, ia bisa melihat kedekatan yang tercipta antara bayi itu dan Arielle.
Gadis berkacamata itu dengan sigap merawat dan menjaga Axel. Bahkan saat pembacaan warisan, Arielle lebih memilih menemani si bayi dari pada harus mendengarkan soal harta. Padahal, dia mendapatkan rumah besar itu beserta isinya.
Kalau benar kedua om-nya melakukan gugatan hak asuh. Bisa dipastikan Arielle akan kalah. Bayi itu akan berada di tangan Elias atau Evan, yangjelas-jelas ingin mendapatkan harta dari pada mengasuh Axel. Hati nurani Zayne tergerak , entah kenapa tidak terima kalau sampai hal itu terjadi.
“Pak Robert, menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan bayi itu?”
Isak tangis Robert berhenti, menatap Zayne lekat-lekat. “Jangan salah, aku hanya memikirkan soal nasibnya. Itu saja,” sanggah Zayne.
Robert berusaha menyembunyikan senyuman. Berdehem kecil dan melemparkan tisu bekas ke tong sampah. “Ada dua cara untuk menyelamatkan adikmu dan dua-duanya membutuhkan pengorbananmu.”
“Apa itu?”
“Satu, terima jabatan di perusahaan. Buat dirimu berkuasa, dengan begitu pengadilan akan melihat kalau Axel punya kakak yang mampu merawatnya. Setelah itu, jalan kedua harus dilakukan.”
“Oke, jalan kedua itu apa?”
“Pernikahan.”
“Apa? Pernikahan siapa?” tanya Zayne bingung.
“Kamu dan Arielle.”
Zayne melongo, menatap Robert dengan tatapan tidak percaya. “Pak, jangan gila.”
Robert menggeleng. “Aku sangat waras. Dengarkan penjelasanku. Kalau kamu menikah dengan Arielle, itu adalah posisi kuat untuk menang di pengadilan. Hakim dan jaksa akan mempertimbangkan status kalian yang single. Itu bukan suatu keuntungan karena lawan kita adalah keluarga utuh yang harmonis. Menurutmu, kalau kita bertarung di pengadilan untuk memperebutkan hak asuh. Mana yang akan dipilih hakim? Dua orang yang belum menikah atau dua keluarga harmonis? Tanpa memandang kedekatan Axel dengan Arielle, sudah dipastikan kalian akan kalah.”
Zayne memejam, meresapi perkataan si pengacara. Bagaimana mungkin hanya untuk menyelamatkan seorang bayi, ia harus menikah dengan gadis yang tidak disukainya. Terlebih, gadis itu sangat Iugu dan kuno. Bayangan Arielle dengan penampilannya yang sederhana, menguncir rambut, dan berkacamata, membuat Zayne tanpa sadar mengerang.
“Menikah? Itu benar-benar ide gila!”