BAB 5

1438 Words
Dua laki-laki tua, duduk merokok di kursi ruang tamu sebuah kantor. Putung rokok memenuhi asbak dengan udara berbau tembakau yang pekat_ Obrolan mereka diselingi dengan minum kopi pahit dari cangkir porselen. “Aku sudah melayangkan gugatan ke pengadilan, tentang hak asuh bayi itu,” ucap Evan pada kakaknya. Elias mengangkat sebelah alis. “Kenapa kamu jadi ikut-ikutan? Harusnya bayi itu bersama kami.” “Kak, istriku pintar merawat bayi.” “Menurutmu anakku jatuh dari langit dan langsung besar?” Evan menghela napas panjang, melirik saudaranya. Perdebatan mereka soal pengasuhan si bayi, tak lebih demi memiliki rumah besar itu. “Harusnya Kakak mengalah. Aku yang menggugat bayi dan kamu menggugat perusahaan induk.” Elias mendengkus. “Jangan mengajariku. Memangnya aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan? Bocah sialan itu, tidak layak mendapatkan jabatan. Selama ini, dia dan papanya selalu bersitegang. Menganggap kalau papanya orang kejam yang menelantarkan mamanya. Padahal, tidak begitu kenyataannya.” Evan mengangguk, mengisap batang rokok kelima. “Zayne, dari kecil suka sekali membuat ulah. Tidak pernah mau diatur. Aku pikir, kita terbebas darinya saat tahu kalau bocah itu mendirikan perusahaan sendiri. Ternyata, kakak kita tercinta belum lupa dengan anak sulungnya.” “Kita tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Julian.” “Memang. Selama bertahun-tahun membantunya, kita hanya dijadikan keset. Sialnya, justru untuk mengelap kaki Zayne dan si gadis miskin itu.” “Nggak habis pikir dengan keputusan Julian,” gumam Elias. “Pasti dipengaruhi istrinya. Bukankah gadis miskin itu sepupu jauh Evelyne?” “Benar juga. Kalau begitu, kita bagi tugas, Aku menggugat soal bayi, kamu tentang perusahaan.” Evan menggeleng. “Nggak, kamu aja yang perusahaan. Bukannya kamu lebih tua dari aku?” Hingga percakapan keduanya berakhir, tidak ada kesepakatan tentang siapa yang harus menggugat tentang apa. Bahkan dua orang yang mengaku sebagai saudara kandung, tetap saja tidak mau mengalah demi harta. *** Suasana riuh rendah menyelimuti kampus pagi itu. Deru mesin kendaraan, tawa riang mahasiswa, dan langkah tergesa mereka yang mengejar waktu berpadu menjadi satu irama yang khas. Di tempat inilah, semangat muda dan harapan berpadu—tempat di mana mimpi-mimpi dibangun, dan masa depan mulai dirancang dengan segala ketidakpastian yang menyertainya. Para dosen tampak sibuk, sebagian sudah berjalan cepat menuju kelas, sebagian lagi tenggelam di balik meja penuh tumpukan berkas di ruang dosen. Di sisi lain, kantin menjadi pusat kehidupan kampus. Suara sendok beradu dengan piring, tawa pecah di antara obrolan ringan tentang tugas dan cinta kampus yang bertepuk sebelah tangan. Beberapa mahasiswa berebut makanan dengan cara yang lucu dan penuh canda, saling mengangguk sebagai bentuk sapaan akrab. Namun di balik keceriaan itu, tersembunyi realita yang tidak selalu mudah. Banyak di antara mereka adalah anak rantau, hidup dengan uang pas-pasan, belajar menahan lapar dan rindu sekaligus. Sarapan di kantin mungkin jadi satu-satunya santapan hari itu, tapi semangat mereka tidak pernah padam—karena bagi mereka, perjuangan ini adalah bagian dari perjalanan menuju impian. Arielle menunduk, jemarinya menggenggam pena yang tak kunjung menari di atas kertas. Catatan kuliah terbuka lebar di mejanya, namun pikirannya melayang jauh dari ruangan yang bising itu. Suara tawa teman-temannya, bunyi gesekan kursi, hingga instruksi dosen di depan kelas—semuanya terdengar samar. Fokusnya terpecah, bukan pada teori yang harus ia pahami, melainkan pada sosok kecil yang kini menjadi pusat hidupnya. Di depan buku, ponselnya menyala dengan layar menampilkan rekaman CCTV ruang tengah. Bayi mungil itu tampak tidur pulas di boksnya, dengan selimut biru yang menutupi sebagian tubuhnya. Hatinya sedikit tenang, meski rasa cemas tidak benar-benar hilang. CCTV itu dulunya dipasang oleh Evelyne, ibu rumah tangga perfeksionis yang ingin memastikan pengasuh bekerja dengan benar saat ia tak ada di rumah. Ironisnya, kini alat pengawas itu menjadi penolong bagi Arielle—penjaga jarak antara tanggung jawabnya sebagai mahasiswa dan perannya sebagai “ibu sementara.” Ia tahu hidupnya berubah drastis, tapi di balik kelelahan itu, ada dorongan halus dalam dirinya untuk terus bertahan, demi si kecil yang tak tahu apa-apa tentang kerasnya dunia.Bagian Atas Formulir Bagian Bawah Formulir “Wew, serius amat lo?” Seorang gadis berambut coklat mengenyakkan diri di samping Arielle. Menatap jari jemari Arielle yang bergerak lincah mencatat sesuatu dari buku cetak ke buku tulis. Laptop terbuka di samping buku, menampilkan grafik-grafik. “Arielle, lo baru kerjain semuanya?” Arielle mengangguk, mendorong kacamatanya ke atas. “Minggu lalu anak gue lagi rewel. Nggak mau dipegang sama orang lain. Kerjaan terbengkalai.” “Kasihan Axel. Trus, udah dapet baby sitter baru?” “Udah, makanya gue bisa masuk kuliah hari ini. Selesai ini harus cabut.”' Ulfa mengusap-usap punggung Arielle dengan lembut. “Temen gue yang cantik, baik hati, jadi janda anak satu di usia muda. Kasihan banget, sekarang nggak bisa ke mana-mana.” Arielle mendengkus, mengerling ke arah temannya. “Gue nggak mikir masalah pribadi sekarang. Yang penting Axel sehat, trus kuliah lancar, udah.” Ulfa mengangguk. “Bener, ibu anak satu emang beda pikirannya. Jangan samain kayak gue, perawan lugu ini.” Ia menepuk dadanya dengan bangga dan menjerit saat Arielle mencubit pinggangnya. “Eh, Riven masuk kuliah hari ini. Lo nggak mau lihat dia?” Pikiran Arielle berkelebat pada seorang pemuda tampan, dengan seragam almamater yang selalu dipakainya. Riven adalah mahasiswa kebanggaan dari kampus ini. Pintar, cerdas, dengan pergaulan luas. Banyak gadis menyukainya, tidak terkecuali Arielle. “Pasti dikerubuti para fans-nya,” ucap Arielle. “Memang, tapi lo sama dia bukannya deket? Kalian pernah satu grup dalam perlombaan debat bukan?” “Hanya sekadar kenal.” Arielle menutup buku, mematikan laptop dan menghela napas panjang. Akhirnya, selesai juga pekerjaannya. “Gue cabut dulu, takut bayi gue nangis.” “Eh, lo nggak mau makan siomay dulu? Gue traktir.” “Lain kali, thanks.” Melihat Arielle meninggalkan kursi, Ulfa ikut bergerak dari tempatnya. “Tunggu, gue ikut sekalian ke depan.” Mereka melangkah menyusuri koridor yang ramai. Bercakap-cakap tentang mata kuliah, kegiatan ektrakurikuler, dan dosen muda yang sekarang sedang menjadi idola. Hingga di ujung koridor, berpapasan dengan serombongan mahasiswa lain. Arielle meraih tangan Ulfa dan menepi hingga ke dekat dinding. Riven, diikuti oleh banyak gadis-gadis yang mengajaknya bicara. Ada salah seorang yang dikenal Arielle, seorang gadis berambut sebahu, Odellia. Rupanya, gadis itu juga menyukai Riven. Saat melewatinya, pemuda itu tersenyum dan menghentikan langkah di depannya. “Hai, Arielle. Apa kabar? Lama nggak ketemu.” Arielle mengangguk kecil. “Hallo, Riven.” “Kamu nggak pernah datang ke klub debat lagi?” “Maaf, si—sibuk.” Arielle berusaha meredakan kegugupan yang tiba-tiba datang karena Riven berdiri di depannya. Pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan mata Odellia yang memancar tajam seolah ingin mencabiknya. “Aku duluan, daah!” Meraih Iengan Ulfa, Arielle bergegas meninggalkan koridor. “Arielle, aku menunggumu di klub!” Teriakan Riven terdengar di belakangnya dan Arielle merasa ingin cepat-cepat menghilang. Tidak sanggup kalau harus menghadapi para penggemar Riven yang biasa bersikap posesif, terlebih Iagi ada Odellia di sana. Sudah cukup ia berurusan dengan gadis itu soal warisan, tidak ingin menambah permusuhan karena cowok. Ulfa ingin mengantarnya sampai rumah, tetapi Arielle menolak karena tidak suka merepotkan orang lain. Menaiki ojek online, ia tiba lebih cepat dari pada menggunakan mobil. Langkahnya terhenti di ruang tengah saat melihat sosok Zayne. Laki-laki itu berdiri tertegun, menatap Axel yang sedang tidur di ranjang bayi. Arielle kebingungan, apakah harus menyapa, sampai akhirnya Zayne menyadari kedatangannya. “Kamu dari mana?” Pertanyaan laki-laki muda itu terdengar tajam. “Kuliah,” jawab Arielle pelan. “Oh, masih kuliah ternyata. Duduklah, aku menunggumu dari tadi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” “Ada apa?” “Duduklah!” Tidak suka dengan gaya bicara Zayne yang memerintah, Arielle berusaha menahan diri untuk tidak kesal. Menatap si bayi yang tertidur nyenyak, ia menunjuk teras samping. “Bisakah kita bicara di sana?” Zayne menimbang-nimbang sesaat lalu mengangguk. Mereka duduk berseberangan di kursi kayu yang menghadap ke kolam renang. Air kolam kebiruan karena tertimpa cahaya matahari. Seorang pelayan datang menawarkan minuman. Zayne menginginkan es kopi dingin, sedangkan Arielle menolak. “Kamu sudah tahu tentang urusan si bayi?” Zayne membuka percakapan. Arielle menggeleng. “Belum. Ada apakah?” “Pak Robert tidak menghubungimu?” Arielle mencoba mengingat sesuatu, tentang panggilan dari pengacara yang diterima minggu lalu. “Soal hak asuh?” “Benar, hak asuh.” “Ah ya, Pak Robert mengatakan ada pihak lain yang menggugat soal hak asuh Axel.” “Lalu? Bagaimana tanggapanmu?” Arielle menggeleng, “Tidak tahu. Pas itu, Axel sedang rewel jadi aku hanya dengar sekilas saja. Kalau memang mau digugat, aku bisa apa? Paling yang aku lakukan hanya mempertahankan diri.” Zayne berdehem, menyesap es kopi yang diantarkan pelayan. “Kalau begitu, kamu harus siap kalah.” Arielle melongo. “Ma—maksudmu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD