BAB 6

1355 Words
“Kamu harus siap kehilangan Axel. Karena hubungan pertalian darah antara si bayi dan om, lebih dekat dari pada kamu.” “Ta—tapi, aku mengasuh dari baru lahir.” “Masalahnya, hubunganmu dengan Axel tidak kuat. Setahuku, kamu sepupu istri papaku bukan?” Arielle mengangguk. “Benar.” “Hanya sepupu. Bayangkan kalau kamu jadi hakim atau jaksa, mana yang akan dipilih untuk mengasuh Axel. Sepupu jauh yang masih single, atau keluarga dekat yang jelas-jelas sudah berkeluarga?” Arielle menunduk, matanya terasa perih karena kurang tidur. Semangatnya yang sempat terkumpul pagi tadi kembali merosot ke dasar bumi. Beberapa hari terakhir terasa begitu berat—malam-malam panjang tanpa istirahat karena Axel sering terbangun, menangis mencari kehangatan yang kini tak lagi ada. Tubuhnya lelah, pikirannya penat, dan kini cobaan lain datang tanpa ampun. Padahal, ia tak pernah menginginkan rumah megah ini, apalagi segala kemewahan yang menempel di dalamnya. Ia hanya ingin satu hal—agar Axel bisa tumbuh sehat bersamanya, jauh dari perebutan dan keserakahan orang-orang dewasa. Namun, kenyataan justru berbalik. Mereka yang menggugatnya, yang menghinanya, percaya Arielle bertahan demi harta. Mereka melihatnya sebagai benalu yang menumpang hidup dari peninggalan Evelyne. Padahal, yang mendorongnya bertahan bukanlah ambisi, melainkan kasih. Axel bukan sekadar bayi bagi Arielle, melainkan satu-satunya bagian dari Evelyne yang masih tersisa di dunia ini. Ia merawatnya bukan karena warisan, melainkan karena cinta—dan juga janji tak terucap untuk membalas semua kebaikan kakak sepupunya itu, yang dulu selalu melindungi dan menuntunnya seperti seorang ibu. “Aku harus bagaimana?” desah Arielle tanpa sadar. Zayne berdehem, sedikit kurang nyaman saat kembali bicara. “Aku punya solusi untukmu. Dan ini sudah aku bicarakan dengan Pak Robert.” Arielle mengangkat wajah, menatap Zayne penuh harap. “Apa?” “Menikah denganku!” Untuk sesaat Arielle tercengang hingga tak mampu bicara. Menaikkan kacamatanya ia menatap Zayne dengan bingung. Apakah laki-laki di depannya sedang mabuk atau kesurupan? Kenapa kata-kata ajaib bisa keluar dari mulutnya? “Ke—kenapa?” tanyanya setelah berdiam cukup lama. Zayne mengangkat bahu. “Hanya itu jalan satu-satunya untuk meyakinkan hakim kalau kamu adalah orang tua yang tepat untuk mengasuh Axel. Dengan kita menikah, berarti kita dianggap orang tua yang lengkap. Selain itu, aku adalah kakak kandung dari bayi itu. Tentu saja, ini adalah jalan keluar yang sempurna.” Arielle menelan Iudah, menatap tajam mata Zayne. Ia berusaha mencari tawa atau pun kebohongan dari wajah laki-laki itu. Ia bahkan berharap Zayne sedang bercanda. Masalahnya, ia justru melihat sikap yang sangat serius dan itu membuatnya bingung. “Menikah? Bukankah itu jalan keluar yang aneh?” Zayne mengangguk. “Aku setuju, tapi juga paling bagus untuk mempertahankan Axel. Kalau disuruh memilih, aku pun tidak mau menjalankan sandiwara pernikahan ini.” Arielle menunduk, pikirannya dipenuhi kebingungan. Sama sekali tidak terpikir kalau laki-laki muda yang selama ini selalu bersikap sombong dan arogan akan mengajaknya menikah. Hanya demi seorang bayi, bukankah itu sangat mulia saat didengar di telinganya? la curiga, Zayne menyimpan niat yang lain. Bangkit dari kursi, Arielle berdiri kikuk, berniat untuk segera ke kamar. “Bo—bolehkan aku memikirkannya?” Zayne menatap gadis berkacamata yang berdiri di hadapannya dengan tidak percaya. Ia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya tapi Arielle terlalu bertele-tele. Berani-beraninya gadis itu meminta waktu berpikir untuk menikah dengannya, sedangkan di luar sana banyak perempuan yang rela antri menjadi kekasihnya. Sungguh penolakan dan penghinaan yang tidak dapat diterima oleh egonya. Ia bangkit berdiri, menatap tanpa senyum pada Arielle. “Kamu terlalu banyak berpikir, Arielle. Seharusnya kamu tahu kalau menikah denganku akan memberimu seribu keuntungan. Bukan hanya itu, aku jamin kamu akan mendapatkan sejuta kemudahan dalam hidup. Yang perlu kamu Iakukan hanya menutup mulut dan membiarkan aku menyematkan cincin di jarimu. Kita menikah demi si bayi dan warisan sialan itu!” Arielle mengangkat kepala, menyadari tingginya hanya sampai bahu Zayne. Ia menatap laki-laki muda arogan yang sedari tadi memandang seolah hendak mengulitinya. Bagaimana mungkin Zayne kesal karena ia meminta waktu untuk berpikir? Pernikahan adalah hal penting dan sakral. Laki-laki itu bicara begitu enteng tanpa beban, tanpa memikirkan konsekuensinya. Di mana hati nurasi dan perasaannya? Jangan-jangan sudah mati karena harta? “Ba—bagaimana kalau aku menolak?” Zayne mendengkus pelan, langkahnya berat namun mantap saat mendekati Arielle. Gadis itu spontan mundur, tubuhnya menegang, hingga punggungnya terbentur dinding dingin di belakang. Nafasnya tertahan, sementara Zayne tidak berhenti maju. Ia berdiri begitu dekat hingga aroma maskulin dari tubuhnya menyeruak, menciptakan jarak yang hampir tak ada di antara mereka. Dengan satu tangan bertumpu pada dinding di sisi kepala Arielle, Zayne menunduk sedikit, mengurung gadis itu sepenuhnya. Tatapan matanya tajam, menusuk, seolah ingin membaca setiap pikiran yang berputar di benak Arielle. Jemari tangan satunya bergerak perlahan, menyusuri pipi lembut gadis itu, menuruni garis rahang hingga berhenti di leher. Sentuhan itu membuat Arielle memejamkan mata sesaat, mencoba menahan debar yang mulai tak terkendali. Zayne tersenyum tipis, sebuah senyum yang nyaris tak terbaca namun penuh makna. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, begitu dekat hingga helaan napasnya menyentuh kulit Arielle. “Kau tahu, kan…” bisiknya dengan suara rendah yang berat, nyaris seperti desahan, “Aku tidak suka jika seseorang berani menantangku.” “Pikirkan tentang bayi itu, yang akan jatuh ke tangan orang yang salah kalau kita tidak menikah. Apa kamu tega membiarkan orang lain mengasuh Axel?” Arielle memalingkan wajah, merasa kalau pipi, leher, dan telinganya memanas. Sapuan hangat napas Zayne di lehernya membuatnya tidak nyaman. Ia mengerti kalau tidak punya pilihan lain, tapi setidaknya harus berusaha. “Ba—baiklah, kita menikah tapi tanpa sex.” Zayne menatap Arielle dengan tercengang lalu tertawa terbahak-bahak. Ia berdecak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Percayalah, Arielle. Kamu sama sekali bukan tipe yang akan aku ajak tidur. Kalau pun terpaksa, kamu adalah orang terakhir di dunia ini yang akan aku ajak bergumul di ranjang dan bercinta sampai berpeluh!” Arielle mengepalkan tangan di sisi tubuh, ingin bergerak dari kukungan, tetapi lengan Zayne masih berada di sisi kepalanya. Tubuh laki-laki itu berdiri sangat dekat dengannya hingga ia bisa mendengar detak jantungnya. Bisa jadi itu hanya imajinasi. “Kata-katamu kurang ajar,” bisiknya. Zayne mengulurkan telunjuk, mengangkat dagu Arielle. Dilihat dari dekat, meski dengan kacamata menutupi wajah, tapi sejujurnya Arielle cukup cantik. Pipi yang tirus, bola mata besar, dan bibir penuh. Sayang sekali, semua kecantikannya tertutup oleh penampilan sederhana dan cenderung membosankan. “Aku tidak biasa berkata manis, terlebih untuk menyenangkan orang lain. Yang aku katakan adalah kebenaran. Kita menikah, bukan karena cinta tapi demi si bayi. Kalau perlu, kita membuat kontrak. Bagaimana kalau dua tahun?” “Hanya dua tahun menikah?” Zayne mengangguk. “Benar. Yang terpenting kamu mendapatkan hak asuh itu secara penuh dan aku mengusai perusahaan induk tanpa bantahan. Dengan begitu, kita berdua masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan.” Arielle menggigit bibir, menelan ludah. Ia sudah tahu alasan laki-laki itu mengajaknya menikah, tetap saja merasa sangat aneh. “Aku pikir kamu mencintai adikmu.” Zayne mendengkus, menurunkan lengan yang mengurung Arielle dan berbicara keras. “Apa itu cinta, Arielle. Cinta tak lebih dari kata-kata penuh dusta, yang diciptakan orang untuk memanipulasi pasangan mereka. Percayalah, sama sekali tidak ada cinta di hatiku. Tidak untuk orang tuaku, adikku, apalagi kamu. Jadi, kita akan menikah hanya demi kepentingan kita masing-masing. Bagaimana?” Sepertinya Arielle tidak punya pilihan lain. Ia terjebak dalam intrik sebuah keluarga besar. la tidak peduli dengan dirinya. Namun, si bayi yang tidak berdosa, tidak seharusnya menjadi korban dari keserakahan para manusia dewasa. “Kalau aku ingin menikah, aku ingin janjimu.” “Apa?” “Tetap memberiku kebebasan menjalani hidupku sendiri. Kita berdua tidak saling mencampuri urusan masing-masing.” Zayne mengangguk. “Deal. ltu adalah opsi terbaik. Aku akan bicara dengan Pak Robert tentang rencana kita. Sebaiknya kamu mempersiapkan dirimu, Arielle.” “Persiapan untuk apa?” “Seremoni pernikahan. Meskipun hanya sekedar pernikahan pura-pura, tapi kamu tidak mau terlihat jelek dalam balutan gaun pengantin bukan?” Zayne meraba pinggang Arielle dan tersenyum kurang ajar. “Pinggang yang ramping. Lumayan untuk memakai gaun pengantin.” Arielle mengibaskan lengan Zayne dan laki-laki itu berbalik pergi tanpa berpamitan. Meninggalkan dirinya dalam kebingungan. Benarkah mereka akan menikah? Kegilaan apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Bagaimana ia bisa membuat perjanjian dengan setan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD