BAB 7

1395 Words
Tidak ada yang bisa diajak bicara, tentang perebutan hak asuh, juga tentang pernikahan yang harus dilakukan. Tidak pernah terbersit dalam benaknya, harus menikah di usia semuda ini dan terlibat dalam konflik perebutan harta para orang kaya. Seandainya boleh memilih, ia lebih suka membawa Axel pergi sejauh mungkin dari sini, dan rela memberikan rumah beserta isinya pada orang-orang itu. Masalahnya, Axel dan rumah besar ini adalah satu paket dan Arielle tidak berdaya untuk menentang. Zayne datang keesokan harinya, kali ini bersama pengacara pribadi mereka. Sang pengacara menyambut dengan antusias rencana pernikahan mereka, seakan-akan sudah menunggu lama momen ini. “Pernikahan bisa kita lakukan bulan depan, dengan begitu masih ada waktu untuk kalian saling mengenal.” “Kami sudah saling mengenal.” tandas Zayne. Robert melambaikan tangan. “Memang, tapi bukan sebagai pasangan yang akan menikah. Untuk menghilangkan kecurigaan, coba kalian sering-sering pergi berdua. Anggap saja sedang berkencan. Kalau bisa abadikan dalam bentuk foto.” “Hah? Apa?” “Harus gitu, Pak?” Zayne dan Arielle menyela bersamaan. Mereka kemudian saling pandang dan mendesah bersamaan. Seakan-akan tidak terjadi apa pun, Robert melanjutkan perkataannya. “Tentu saja harus begitu, kalau nggak akan menimbulkan kecurigaan hakim dan pengacara pihak lawan, kenapa kalian mendadak memutuskan untuk menikah.” “Ta—tapi, berkencan itu—” Arielle menelan ludah lalu menggigit bibir. Ia melirik Zayne yang sedang mencubiti hidung. Pastinya laki-laki itu sama bingungnya sepertinya. “Kencan biasa aja, nggak perlu romantis pakai helikopter atau makan di puncak gedung. Cukup nonton, makan di mall atau kafe.” Robert menunjuk mereka berdua sambil mengulum senyum. “Kalian masih muda, tidak perlu aku yang ajari cara berkencan bukan?” Zayne mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak meninju wajah Robert yang terus saja tersenyum seolah semuanya hanya lelucon. Urat di rahangnya menegang, napasnya memburu. Ia tahu, satu gerakan emosional saja bisa memperburuk keadaan—tapi sungguh, pengacara itu membuat darahnya mendidih. Kata-katanya barusan tentang “kencan formal setelah pernikahan” terasa seperti ejekan halus yang menusuk harga dirinya. Ia tidak butuh sindiran semacam itu. Ia sedang tidak butuh candaan. Yang ia butuhkan hanyalah sedikit pengertian. Bukankah cukup menyakitkan dipaksa menerima tanggung jawab besar yang bahkan bukan pilihannya? Harus memimpin perusahaan mendiang ayahnya, menerima warisan yang disertai beban moral, dan kini—menikahi seorang gadis yang bahkan tidak ia cintai. Robert, di sisi lain, tampak tidak menyadari betapa dalam amarah Zayne bergejolak. Ia terus berbicara dengan tenang, dengan senyum yang bagi Zayne tampak seperti bentuk penghinaan. Dalam hati, Zayne mengutuk keadaan—mengutuk semua orang yang memutuskan nasibnya tanpa bertanya apakah ia benar-benar sanggup menjalaninya. “Kenapa Pak Robert nggak sekalian atur out fit kami untuk kencan?” sindir Zayne. Robert mengibaskan tangan, tersenyum lebar. “Ah, nggak perlu sampai begitu. Aku yakin kalian jauh lebih hebat dalam berpakaian. Orang tua sepertiku, hanya mengerti cara memakai jas.” Tidak mengerti kalau Zayne sedang menyindir, Robert meneruskan pemaparan tentang kencan. Hingga menyadari kalau dua orang di depannya duduk kaku dengan wajah mengeras, akhirnya ia menyerah dan pamit pulang. Zayne menatap Arielle. “Kamu dengar sendiri bukan? Kita harus berkencan.” Arielle mengangguk kecil. “Iya.” “Sabtu sore, aku menjemputmu. Kita makan di luar.” “Eh, harus?” “Iya. Jangan telat dan jangan kabur.” Sisa minggu itu dihabiskan Arielle dengan berpikir serius soal kencan. Ia tidak pernah punya kekasih sebelumnya. Tidak mengerti tentang tata cara jalan berdua dengan laki-laki. Demi untuk menciptakan kencan yang sukses, ia menyingkirkan rasa malu dan menelepon Ulfa. Tentu saja, sahabatnya itu memberi saran dengan senang hati, setelah pertanyaan bertubi-tubi, tentang siapa laki-laki yang akan kencan dengan Arielle. Apa profesinya, setampan apa orangnya dan Arielle hanya menjawab singkat, biasa saja. “Malam Minggu, gue nggak tahu cowok lo ngajak ke mana tapi baiknya lo pakai minidress. Kalau bisa ganti kacamata sama softlens, dan satu lagi, rambut lo jangan dikuncir. Biarin tergerai.” “Gue nggak punya softlens.” “Beli! Mau gue anterin? Sekalian beli minidress?” Arielle merenung sesaat sampai akhirnya menerima tawaran Ulfa. Keesokan harinya sepulang kuliah mereka ke mall yang tidak jauh dari kampus dan berbelanja yang diperlukan. Tidak sampai satu jam di dalam mall, Arielle pamit pulang karena kuatir dengan si bayi. Melalui ponsel, Ulfa mengajarinya memakai softlens, mengoles bedak dan sebagainya. Tidak lupa cara memadupadankan pakaian. Dulu, sewaktu Evelyne masih hidup, Arielle menerima apa pun yang dibelikan perempuan itu untuknya. Kini, saat harus menjalani semua sendiri, terasa sangat berat. Sepanjang hari Sabtu, Arielle sangat gelisah. Rencana kencan dengan Zayne menjadi tekanan tersendiri untuknya. Seandainya boleh memilih, ia lebih suka berdiam diri di rumah, terlebih kondisi si bayi sedang rewel. Mungkin lagi tidak enak badan. Axel manja, ingin terus digendong olehnya. Jam empat sore, Zayne sampai rumah dan tercengang saat melihat Arielle yang sudah siap pergi dengan bayi di dalam kereta dorong. “Apa-apaan ini?” tanyanya. Arielle menghela napas panjang. “Aku nggak tega ninggalin dia sendiri. Boleh nggak kita bawa?” Zayne menggertakkan gigi. “Kita akan kencan. Kamu bawa bayi? Itu maksudnya apa?” “Axel sedang nggak enak badan. Kalau disuruh milih, aku lebih suka di rumah buat jaga dia.” “Ini demi rencana kita.” “Aku tahu, tapi bagaimana?” Arielle menunduk, menepuk lembut d**a bayi dalam kereta dorong. Zayne menghela napas, menatap Arielle dan si bayi bergantian. Ia sudah terlanjur membatalkan janji temu dengan klien demi kencan pura-pura ini, dan tidak mungkin harus digagalkan oleh Arielle. Hari ini harus terjadi, mau tidak mau ia terpaksa menerima. “Baiklah, kita nggak ke mall. Hanya makan malam saja.” Arielle mengangkat wajah dan tersenyum. “Terima kasih.” Zayne terpana, tidak pernah melihat gadis itu tersenyum sebelumnya. Ia belum beranjak dari tempatnya berdiri saat Arielle meminta waktu 15 menit untuk berganti pakaian. Gadis itu tepat waktu, saat keluar dari kamar sudah mengganti daster lusuh dengan minidress floral ungu. Kacamatanya hilang dan rambut yang selalu dikuncir, kini digerai. Perbedaan yang terlihat cukup mencolok. Gadis itu jadi terlihat lebih feminin dan manis, itu yang dilihat oleh Zayne. “Lumayan,” gumamnya. “Apa?” Arielle yang sedang mengambil si bayi dari dalam keranjang bertanya. “Nggak ada. Ayo, jalan.” Arielle bertanya, apakah perlu membawa tenaga tambahan seorang baby sitter, tetapi Zayne menolak. Mereka pergi bertiga, dengan bayi yang pulas dalam gendongan Arielle. Sabtu malam, jalanan ramai oleh pengendara. Trotoar dipenuhi pedagang kaki lima. Mereka memutuskan untuk makan di restoran yang tidak jauh dari rumah, demi menghemat waktu. Mereka makan di restoran yang menyediakan masakan khas Tiongkok. Pengunjung restoran sangat ramai di malam Minggu. “Mau makan apa?” tanya Zayne. Arielle menatap menu di tangannya lalu berucap lembut. “Bubur saja.” “Kayak bayi.” “Memang bawa bayi, buat jaga-jaga barangkali dia mau makan.” Zayne menggelengkan kepala, baru kali ini makan bersama seorang gadis yang lebih memilih bubur dari pada makanan lain. Ia merogoh ponsel dan meminta pada pelayan untuk membantu mengambil foto. Tidak ketinggalan, Arielle memangku si bayi yang kebetulan sudah bangun. Arielle meracik s**u, menggendong si bayi dan menyusuinya. Sementara Zayne sibuk bermain ponsel. Ada banyak pesan yang harus dibalas. Pelayan datang membawa pesanan mereka dan ia langsung makan. Axel menolak diturunkan, dengan terpaksa Arielle makan sambil menggendong. Mencicip rasa bubur yang asin gurih sambil menepuk lembut punggung Axel. Arielle mengedarkan pandangan dan menyadari beberapa pengunjung perempuan tidak dapat mengalihkan pandangan mereka dari Zayne. Tidak aneh, karena laki-laki itu memang tampan. Saat bersamanya, mereka pasti terlihat bagaikan tuan muda dan pembantunya. Ia mendesah, berusaha untuk tidak terlalu peduli. Yang penting mereka bisa mengambil foto bersama. Zayne menghabiskan makanannya dan menatap Arielle dengan bingung. “Kamu mau aku bantu? Biar kamu habiskan makanan?” Arielle menggeleng. “Nggak usah. Aku sendiri.” Bayi itu terus merengek, tidak ingin digendong dan selalu ingin turun. Sesekali menjerit, dan Arielle dengan sabar menjaganya. Makanan gadis itu terbengkalai. Zayne menghela napas panjang, merasa kalau bayi ternyata sangat merepotkan. Ia menoleh saat seorang wanita separuh baya menyapa ramah. “Pak, kasihan itu ibunya belum makan. Barangkali, bayinya mau ikut papanya.” Zayne melongo dan belum sempat menyangkal wanita itu sudah berlalu. Ia berdecak kesal, kini menyadari arti tatapan dari orang-orang yang tertuju padanya. Pasti mereka semua mengira dirinya seorang suami dan papa yang tidak berguna. Saat istri sedang kerepotan, ia malah makan dengan enak. “Heh, sini. Bayinya aku gendong!” “Emangnya bisa? “Dicoba dulu, mana tahu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD