Awalnya, Arielle merasa enggan menyerahkan Axel ke tangan Zayne. Namun, ia teringat kalau laki-laki itu adalah kakak kandung dari si bayi. Selama ini, Zayne tidak pernah menyentuh adiknya, barangkali ini kesempatan bagus untuk mendekatkan mereka.
“Baiklah, kalau nggak bisa atau kerepotan, serahkan padaku.”
Zayne mengangguk, bangkit dari kursi dan mengulurkan lengan. “Iya, iya, tenang saja. Sini bayinya.”
Dengan kikuk ia menerima si bayi dalam pelukan. Merasa sedikit aneh saat bocah itu merengek. Ia menimang dengan ragu-ragu, memperbaiki posisi si bayi agar berdiri di bahunya dan menepuk punggungnya lembut. Arielle berdiri di depannya, tidak beranjak sampai si bayi merasa nyaman.
“Makanlah, aku akan membawanya jalan-jalan.”
“Ke mana?
“Sekitar sini. Habiskan makananmu.”
Dengan satu tangan menopang tubuh mungil Axel di bahunya, Zayne melangkah keluar menuju teras restoran. Udara sore menyapa lembut, membawa aroma laut yang samar bercampur dengan wangi kopi dari dalam. Axel semula diam, matanya yang besar menatap langit yang mulai berwarna jingga, sebelum akhirnya mulai menggeliat kecil dan merengek pelan. Zayne menepuk-nepuk punggungnya dengan sabar, mencoba menenangkan tanpa banyak bicara.
Di dalam, Arielle hampir tidak bisa fokus pada makanannya. Setiap suapan terasa hambar karena pikirannya tertuju pada bayi yang kini berada di luar bersama Zayne. Ia tahu Axel aman, tapi tetap saja hatinya gelisah. Ia menatap ke arah pintu kaca berkali-kali, seolah takut kehilangan sesuatu yang berharga.
Waktu berjalan lambat. Lima belas menit terasa seperti sejam penuh kekhawatiran. Saat akhirnya pintu teras terbuka dan Zayne masuk dengan langkah tenang, membawa Axel yang sudah kembali tertidur di bahunya, Arielle refleks berdiri. Matanya melembut, sebagian karena lega, sebagian lagi karena tak bisa memungkiri—pemandangan itu membuat dadanya bergetar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Bagian Atas Formulir
Bagian Bawah Formulir
“Ternyata, menggendong bayi sangat melelahkan. Bukan karena bobotnya, tapi karena harus menenangkan mereka. Huft, lebih baik aku bergulat dengan dua laki-laki dari pada harus menggendong bayi.”
Arielle tidak dapat menahan tawa mendengar gumaman Zayne. Ia tidak menolak saat laki-laki itu mengajaknya mengambil foto selfie, tentu saja dengan bayi dalam gendongan mereka. Ia merasa kalau kencan malam ini berjalan dengan baik. Meskipun hanya makan semangkuk bubur. Ia berencana makan mie instan begitu tiba di rumah.
Malam itu bukan kencan terakhir mereka. Saat Zayne memperlihatkan foto selfie mereka bersama Axel pada Robert, pengacara itu bersorak gembira. “Wah, ini bagus sekali. Kalian hebat,” pujinya.
“Kenapa?” tanya Zayne.
“Secara tidak langsung menunjukkan kalau kamu akrab dengan adikmu dan juga calon istrimu.”
Penyebutan kata yang aneh tentang calon istri. Bulu kuduk Zayne berdiri seketika. “Pak, jangan terlalu senang. Kami hanya bersandiwara.”
Robert tertawa lirih. “Ah, mau sandiwara atau bukan, ini sesuatu yang menyenangkan. Ayo, lanjutkan. Paling tidak satu kali kencan lagi dan usahakan kamu sering-sering ke rumah itu sepulang kerja, biar terpantau CCTV.”
Zayne menuruti semua perkataan Robert. Sekali lagi mengajak Zayne berkencan dan sama sekali tidak keberatan dengan adanya bayi. Mereka memberanikan diri pergi ke mall kali ini.
“Sebenarnya aku ingin mengajakmu menonton, tapi tidak bisa.”
“Maaf.”
“Nggak usah minta maaf. Bayimu tidak bisa ditinggal, mau gimana?”
Langkah Arielle terhenti. “Tunggu, bayiku? Kayaknya kamu salah tentang sesuatu.”
Zayne mengernyit. “Apa?
“Bayi ini memang bayiku, tapi dia adikmu. Ingat itu.”
“Iya, iya.”
Mereka melangkah masuk ke lift menuju kafe di lantai tiga. Begitu pintu hampir menutup dan ruangan terasa sesak oleh orang-orang yang berdesakan, refleks Zayne meraih bahu Arielle, membimbingnya agar tidak terdorong. Tubuhnya yang tinggi berdiri rapat di belakang gadis itu, melindunginya dari himpitan penumpang lain. Bayi di pelukan Arielle menggeliat pelan, membuatnya menunduk, sementara Zayne mencondongkan tubuh sedikit, menahan dari belakang agar tidak ada yang menabrak.
Arielle bisa merasakan napas hangat laki-laki itu menyapu lembut sisi telinganya. Getaran halus menjalar di sepanjang tulang belakangnya, membuatnya menegang tanpa tahu harus berbuat apa. Ruang sempit itu tiba-tiba terasa pengap—bukan hanya karena banyaknya orang, tapi karena kehadiran Zayne yang begitu dekat. Saat lengan pria itu bergeser, tanpa sengaja menyapu pinggang lalu turun ke sisi pinggulnya, tubuh Arielle sontak menegang, wajahnya panas terbakar malu.
Begitu pintu lift terbuka dan orang-orang berhamburan keluar, Arielle menarik napas panjang, nyaris seperti baru saja bebas dari jebakan. Ia melangkah cepat keluar tanpa berani menatap Zayne, menyadari satu hal pasti—berdekatan terlalu lama dengan laki-laki itu jelas tidak baik untuk jantungnya.
Mereka ke kafe yang menyediakan kopi, minuman, dan kue-kue. Sekali lagi, Zayne meminta pelayan untuk membantu mereka berfoto dan kali ini pun sama, selfie bertiga. Karena sudah beberapa kali melihat Zayne, si bayi mulai menurut jika digendong. Tidak serewel saat pertama dulu.
“Kamu masih kuliah bukan? Apa nggak repot sambil jaga bayi?” tanya Zayne.
Arielle menggeleng. “Nggak, biasa saja.”
“Baby sitter di rumah bisa dipercaya?”
“Sejauh ini aman. Ada CCTV.” Arielle makan strawberry cheese Cake dengan gembira. Sudah lama ia tidak menikmati kue selezat ini. Zayne sibuk memangku si bayi yang sedang menyusu. “Enak banget kuenya.”
Zayne mengedip, menunjuk bibir Arielle. “Ada kue.”
“Hah, di mana?”
“Di sini.” Jari Zayne menyapu ringan ujung bibir Arielle dan membuat gadis itu meringis malu.
“Trims.”
Tatapan mereka bertemu singkat, tapi cukup untuk membuat waktu terasa melambat. Dalam jarak sedekat itu, Zayne untuk pertama kalinya memperhatikan wajah Arielle tanpa kacamata. Garis halus di wajahnya begitu lembut, kulitnya pucat namun bersih, dan mata beningnya memantulkan cahaya dengan polos yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Ia tampak jauh lebih muda dari yang selama ini Zayne bayangkan. Masih seperti gadis yang seharusnya menikmati masa-masa bebasnya, tertawa bersama teman, berjalan di taman, bukan menimang bayi di pelukan.
Sebuah perasaan aneh muncul di d**a Zayne, sesuatu di antara iba dan kekaguman yang sulit ia namai. Dunia memang tidak adil, seorang gadis seperti Arielle dipaksa tumbuh dewasa terlalu cepat, menanggung beban yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup menanggungnya.
Zayne menarik napas panjang, memalingkan pandangan untuk menekan rasa sesak yang tiba-tiba datang. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan mereka akan berjalan nanti. Tapi yang pasti, sejak saat itu, dalam diam, ia mulai merasa bertanggung jawab bukan hanya pada warisan, tapi juga pada gadis muda yang kini ikut terseret di dalamnya.
“Zayne, itu benar kamu?”
Teguran dari belakang membuat keduanya mendongak. Jeniffer terbelalak pada mantan kekasihnya yang sedang menyusui bayi.
“Jeniffer, sedang apa di sini?” tanya Zayne tenang. “Ah, Iupa. Kamu punya store di mall ini.”
Jeniffer tidak sendirian, ada dua asistennya. Perempuan cantik itu mengabaikan pertanyaan Zayne. Menatap bergantian pada si bayi dalam gendongan Zayne, lalu pada Arielle yang sedang makan kue.
“Siapa mereka?” tanyanya sambil menunjuk Arielle.
Zayne tersenyum. “Kenapa kamu menanyakan hal yang bukan urusanmu?”
“Zayne, jangan menguji kesabaranku.”
“Tidak ada yang ingin menguji siapa pun, Jeniffer.”
“Kenapa kamu jadi sinis begini?”
“Ah, aku merasa biasa saja. Kamu saja terlalu berprasangka.” Arielle terduduk kaku dengan punggung tegak, takut untuk bergerak. Ia yakin kalau Jeniffer adalah perempuan yang istimewa bagi Zayne. Ia tidak ingin ada kesalahanpahaman, karena itu berusaha untuk tidak menonjolkan diri.
“Anak siapa bayi ini?” Jeniffer mengulang pertanyaannya.
Zayne meletakkan dot di meja dan membalikkan tubuh si bayi, meletakkan di punggung dan menepuk perlahan.
“Anak papaku.”
“Benarkah?”
“Iya, kamu tahu bukan kalau papaku menikah lagi.”
Senyum tersungging di bibir Jeniffer. Kelegaan membanjirinya. Rupanya, bayi itu adik Zayne. Ia melirik Arielle sekilas dan yakin kalau gadis itu pasti pengasuh si bayi.
“Kamu hebat juga jadi kakak, bisa gendong bayi dengan baik.”
Zayne menatap Arielle. “Sudah makannya? Mau nambah lagi?”
Arielle menggeleng. “Nggak, udah kenyang. Bi—bisa kita pulang sekarang?” ucapnya takut-takut, sambil melirik Jeniffer.
“Ayo, kita pulang.”
Jeniffer meraih lengan Zayne. “Tunggu, kenapa nggak biarin mereka pulang duluan. Bisa naik taxi. Aku ingin bicara denganmu.”
Zayne bangkit dari kursi, menyerahkan Axel ke gendongan Arielle. “Maaf, Jeniffer. Aku harus ikut mereka pulang. Ah, perlu kamu tahu. Aku akan menikah dalam waktu dekat.”
Jeniffer terbelalak lalu tertawa lirih. “Jangan bercanda.”
Zayne mengangkat bahu. “Aku serius.”
“What? Dengan siapa?”
“Dia.” Zayne menunjuk Arielle yang sedang melilitkan gendongan ke tubuhnya.
Jeniffer berdecak lalu menggeleng. “Aku nggak percaya. Kamu pasti bohong. Orang sepertimu, tidak mungkin menikah dengannya.”
Zayne menatap Jeniffer lekat-lekat. “Orang sepertiku? Itu bagaimana, Jeniffer? Laki-laki bodoh yang membiarkan pacarnya pergi dengan laki-laki lain? Begitu maksudmu?”
“Ti—tidak, bukan begitu. Aku merasa kalau kamu tidak cocok Dengannya.”
Zayne tanpa ragu merangkul bahu Arielle dan membimbingnya keluar. “Sampai jumpa.”
Arielle mengeluh dalam hati, karena terjebak dalam urusan cinta dari dua orang yang tidak ia mengerti. Sementara Jeniffer mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki ke lantai. Entah benar atau bercanda, tapi ia tidak akan membiarkan Zayne berada dekat dengan gadis kampungan itu.