BAB 9

1462 Words
Sepanjang perjalanan pulang, Arielle tidak menanyakan apa pun pada Zayne tentang perempuan yang mereka temui di kafe. ltu bukan urusannya untuk ikut campur. Meski begitu ia tidak dapat menyembunyikan rasa heran, kenapa Zayne harus mengabaikan perempuan cantik itu dan tega menyakiti dengan mengatakan soal pernikahan mereka. Zayne bahkan tidak bisa menyembunyikan kegundahannya sepanjang menyetir mobil. Ia melirik laki-laki di belakang kemudi dan menghela napas panjang. Hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang paling tidak ia mengerti. Seperti halnya dulu Evelyne dan Julian. Kakak sepupunya jatuh cinta dan tergila-gila pada Julian yang secara umur sangat berbeda jauh. Banyak orang mengingatkan kalau hubungan mereka tidak ada berhasil, nyatanya justru sampai ke pernikahan. Evelyne sangat bahagia saat menjadi istri Julian. Cinta yang sesungguhnya, tidak memandang usia. Sering kali Arielle merasa iri pada kakak sepupunya. Ia berharap bisa menemukan laki-laki yang sama baiknya dengan Julian. Sayangnya, nasib berpihak lain. Ia memang akan menikah dengan anak Julian, tapi sifat dan sikap Zayne sangat jauh berbeda dengan sang papa. “Terima kasih,” ucap Arielle saat Zayne menurunkannya di teras rumah. Zayne mengangguk. “Aku nggak turun. Foto kita udah aku kirim ke Pak Robert, dan dia sangat puas.” Kali ini Arielle tersenyum. “Berarti kita nggak perlu kencan lagi?” “Kenapa? Kamu tersiksa kencan denganku?” Mendengar pertanyaan Zayne, timbul rasa tidak enak hati dalam diri Arielle. “Eh, bukan begitu, Maksudku, anu, ah, pokoknya gitu.” “Hah, dasar.” Zayne menstarter mobilnya, membiarkan mesin berderu pelan sebelum meluncur meninggalkan rumah besar yang kini tampak semakin jauh di kaca spion. Jalanan sore itu lengang, tapi pikirannya tidak. Semuanya bercampur menjadi satu: wajah Jeniffer yang masih menatapnya penuh amarah, sosok Arielle yang selalu terlihat pasrah namun kuat, dan beban berat dari warisan yang tak pernah ia inginkan. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat jalan. Hidupnya terasa seperti benang kusut—setiap simpulnya adalah keputusan yang harus diambil, tapi satu langkah salah bisa memutus semuanya. Menikah demi mempertahankan perusahaan bukan hal yang pernah ia bayangkan, apalagi dengan perempuan yang hampir tidak ia kenal. Namun, jika ia menolak, banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Puluhan kepala keluarga menggantungkan hidup pada perusahaan yang ia pimpin. Dan di sisi lain, ada Arielle—gadis polos yang kini harus menanggung beban kehilangan dan merawat bayi seorang diri. Zayne mengepalkan tangan di setir. Ia tidak tahu apakah hatinya siap untuk mengorbankan cinta demi tanggung jawab, tapi untuk kali ini, ia tahu satu hal pasti: hidupnya tak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.Bagian Atas Formulir Bagian Bawah Formulir *** Pagi pagi Arielle dibangunkan oleh suara teriakan. Tanpa berganti pakaian, ia bergegas ke ruang tengah dan mendapati Odellia berdiri berkacak pinggang sambil mengoceh dan menjerit. “Kalian ini pelayan malas, tidak tahu diri. Sudah jam berapa ini? Masih pada tidur?” “Nona, kami bangun dari pagi. Rumah sudah kami bersihkan.” Seorang pelayan menjawab dengan berani. “Oh, lalu kenapa malah merumpi di dapur? Kenapa nggak cuci kamar mandi, lap tangga, atau cuci genteng.” “Kamar mandi dan tangga juga sudah bersih, Nona.” “Jawab aja terus! Lama-lama aku usir kalian dari sini!” Arielle menghela napas dan menghampiri Odellia. Heran karena masih sepagi ini gadis itu sudah muncul di rumahnya untuk mengomel. “Kenapa marah-marah, Odellia?” Odellia mengalihkan pandangan dari para pelayan yang berjejer ke Arielle yang baru keluar. Mengangkat dagu dengan angkuh. “Oh, ternyata ini biang keroknya. Nona Besar yang baru bangun dari tidur. Enak banget hidup lo!” “Gue nggak harus laporan, kapan bangun, kapan tidur,” jawab Arielle. “Berani ngejawab. Nyali lo besar, ya.” “Bukan soal nyali. Tapi, lo nggak tahu aturan. Ini rumah siapa? Datang pagi-pagi cuma buat marah-marah.” “Kenapa memangnya kalau anakku datang pagi-pagi, hah?” Marry muncul, berkacak pinggang dan tak kalah congkak dari anak perempuannya. “Rumah ini masih milik kakak iparku. Bukan milikmu Gadis Miskin, apalagi para pelayan itu!” Arielle terdiam, melirik pada para pelayan yang ketakutan. Tidak menyalahkan mereka. Ia sendiri takut dengan kedatangan ibu dan anak itu. Takut akan membuat keributan yang akhirnya membuat Axel terbangun. Ia memanggil salah satu pelayan dan berucap lembut. “Kamu ke kamar, jaga Axel.” Si pelayan mengangguk. “Iya, Nona.” “Hei, mau ke mana lo! Gue belum kasih ijin kalian buat pergi dari sini!” teriak Odellia. Arielle menatapnya tak percaya. “Di dalam, Axel sedang tidur. Kalian bicara keras sekali, takut dia kebangun. Makanya aku suruh orang jagain.” “Siapa lo berani ngajarin gue?” Odellia menyipit penuh kebencian pada Arielle. “Bukan siapa-siapa, cuma mau jaga Axel.” “Halah, bilang aja lo mau rumah ini, 'kan? Lo mau jadi nyonya di rumah ini, makanya sok baik sama bayi itu.” Arielle mendengkus. “Bukannya kebalik, ya? Kalian gugat hak asuh Axel karena mau rumah ini, kan?” Perkataan berani dari Arielle membuat Marry naik darah. Perempuan itu mendekat dengan tiba-tiba dan sebuah pukulan dilancarkan mengenai pipi sebelah kanan Arielle. Semua tercengang karena kaget. Arielle serta merta meraba pipinya yang sakit. “Lancang kamu!” desis Marry. Masih dengan tangan terangkat. “Kamu hanya gadis gembel yang dibawa Evelyne ke rumah ini. Lancang kamu mengomentari kami, hah!” Arielle memejam, berusaha menahan tangis. Ia tidak boleh kalah di hadapan ibu dan anak yang sedang menindasnya. Ia punya harga diri, dan ada bayi yang harus dilindungi. Menghela napas panjang, ia berucap dengan suara gemetar. “Untuk kalian tahu, surat wasiat mengatakan rumah ini adalah milikku. Sah dan legal secara hukum.” Odellia bertukar pandang dengan mamanya. “Apa maksud lo?” Mengabaikan pipinya yang berdenyut sakit, Arielle mengangkat kepala. Menghimpun sisa-sisa harga diri di d**a. “Kalian datang nggak diundang, mengamuk seenaknya, bahkan memukulku. Para pelayan jadi saksinya.” Marry tersenyum kecil, berkacak pinggang. “Kenapa? Mau melaporkan kami ke polisi?” Arielle mengangguk. “Iya, atas tuduhan penganiayaan. Bekas tamparan masih ada di pipiku.” “Oh, jadi lo nantangin? Mau digampar lagi?” Odellia maju dengan amarah yang membara di matanya. Gerakannya cepat dan kasar, membuat udara di antara mereka terasa menegang. Tangannya terangkat tinggi, siap menampar wajah Arielle. Namun sebelum sempat mendarat, Arielle dengan reflek menangkap pergelangan tangan itu. Suara benturan kecil terdengar ketika keduanya saling beradu pandang—tatapan Arielle tajam, sementara Odellia terkejut karena gadis yang selama ini ia remehkan ternyata berani melawan. Belum sempat salah satu berbicara, suara tangisan bayi melengking dari dalam kamar. Tangisan itu menembus suasana tegang seperti jeritan yang menegur. Seketika naluri keibuan dalam diri Arielle mengambil alih. Ia melepaskan pegangan dan bergegas menuju kamar, tapi naas—Odellia menjulurkan kaki, menjegal langkahnya dengan licik. Tubuh Arielle oleng, kehilangan keseimbangan. Waktu seakan melambat saat tubuhnya terhempas ke lantai, dan suara “duk!” yang keras menggema di ruangan. Dahi Arielle menghantam keramik dingin, nyeri tajam langsung menjalar ke seluruh kepala. Seketika pandangannya berkunang, suara tangisan bayi terdengar semakin jauh, dan rasa perih bercampur dengan getir menyelimuti tubuhnya. Ia ingin bangkit, tapi dunia seolah berputar, yang tersisa hanyalah darah hangat yang menetes perlahan di sisi wajahnya. “Rasakan itu, Gadis Miskin. Kamu pikir isi wasiat bisa membuatmu berkuasa?” bisik Marry. Arielle bangkit dari lantai, mengusap darah yang mengalir dari hidungnya. Ia menahan perih, berlari sekuat tenaga dan membuka pintu kamar. Dengan darah mengalir membasahi dagu, ia menghampiri ranjang bayi, di mana Axel sedang menangis keras. “Sayang, ini kakak datang. Sudah, jangan nangis.” Nyatanya, bukan hanya Axel yang menangis sore itu. Air mata Arielle pun jatuh tanpa bisa dibendung. Ia meraih tisu di atas meja, tangannya gemetar saat membasuh darah yang mengalir di dahu hingga leher. Perihnya luka tak seberapa dibandingkan nyeri yang berdenyut di d**a. Setelah memastikan lukanya tidak terlalu dalam, ia mengangkat Axel yang masih meraung kecil di boks, menimang lembut bayi mungil itu. Suara senandung lirih keluar dari bibirnya, bergetar, berusaha menenangkan tangis Axel sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Setiap helaan napas terasa berat. Rasanya seperti menanggung seluruh dunia sendirian. Tenggorokannya tercekat, seperti ada batu besar mengganjal di sana. Ingin sekali ia berlari—keluar dari rumah ini, dari semua beban dan pandangan menyakitkan yang selalu menuduh tanpa tahu apa pun. Tapi ia sadar, tidak ada tempat lain untuk dituju. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan hanyalah bayi di pelukannya. Arielle mengusap air mata yang terus mengalir, menatap wajah polos Axel yang perlahan tenang di pelukannya. “Kita cuma punya satu sama lain,” bisiknya lirih. Kalimat sederhana, tapi penuh janji yang hanya bisa dipahami oleh dua hati yang saling kehilangan. “Kak Evelyne, apa kamu tenang di surga, Kak? Kami merindukanmu.” Arielle menepuk pundak Axel perlahan. Bukan hanya ingin menenangkan si bayi tapi juga dirinya sendiri. la dipaksa untuk tetap kuat karena keadaan. Teriakan di ruang tengah mereda, tandanya Odellia dan Marry sudah pergi. Arielle menghela napas, merasa terpenjara di rumah besar ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD