Zayne melangkah cepat melintasi lobi gedung yang ramai. Di belakangnya ada Robert dan satu laki-laki lain yang merupakan asisten baru Zayne. Mereka ke perusahaan induk untuk pertama kalinya setelah kematian Julian. Zayne sudah beberapa kali datang, dulu sekali, sebelum perceraian orang tuanya. Ia tidak melihat banyak perbedaan selain gedung yang makin ramai. “Kamu akan bertemu para om di atas. Mereka menunggumu.” ucap Robert. Zayne mengernyit. “Untuk apa?” “Entahlah, mungkin merasa ada kewajiban untuk menyambutmu.” Zayne mendengkus. “Jangan terlalu berlebihan, Pak Pengacara. Kita berharap saja bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup, karena aku yakin kedua om sangat ingin membunuhku.” Robert berdecak. “Kali ini, kamu yang berlebihan, Zayne. Ngomong-ngomong, kencan kalian bertiga seper

